Menyeimbangkan Pendekatan Industrial dan Spiritual Ala SMK Musaba

Menyeimbangkan Pendekatan Industrial dan Spiritual Ala SMK Musaba
Teaching Factory (TEFA), Bengkel binaan Astra Daihatsu SMK Musaba.
Untuk meminimalisasi keterbatasan sekolah, sekolah SMK mesti menggandeng industri secara erat.

PENILAIAN seseorang terhadap sebuah institusi pendidikan tak bisa dipungkiri memang seringkali ditentukan oleh statusnya, ‘negeri’ atau ‘swasta’. Itu lumrah adanya. Namun sebetulnya masing-masing, baik negeri maupun swasta punya kelebihan masing-masing. Tergantung bisa atau tidak memanfaatkan potensi yang ada di sekelilingnya.

Itu pulalah yang disadari oleh SMK Muhammadiyah Satu Bantu (Musaba), bahwa hanya dengan menjadi sekolah unggulan lah mereka bisa sejajar dengan sekolah-sekolah negeri yang bertebaran di Kota Bantul. Status kata Kepala Sekolah SMK Musaba, Harimawan, tak bisa diubah. Jadi mau tidak mau harus meningkatkan keunggulan. “Kita tuntut ke temen-temen untuk bersepakat bersama untuk bisa eksis harus menonjolkan layanan pendidikan, perlakukan anak didik dengan sebaik-baiknya,” ujarnya saat ditemui di Bantul, Yogyakarta di penghujung 2018 silam.

Untuk menjadi unggul, Harimawan juga menekankan agar dari sisi fasilitas SMK Musaba tidak kalah dengan sekolah lainnya. Harus ada upaya yang sungguh-sungguh untuk medekatkan sekolah dengan dunia industri. Menurut Harimawan, dengan melihat kompetisi antar sekolah di Kota Bantul, atau pada umumnya di seluruh Indonesia, mau tidak mau SMK itu harus kompatibel dan mengikuti perkembangan di dunia industri.

“Jadi apa yang diajarkan sekarang itu adalah apa yang kelak dihadapi di dunia industri. Ini supaya mereka tidak merasa bahwa apa yang diajarkan di sekolah telah usang,” kata Harimawan.

Untuk meminimalisasi keterbatsan sekolah, kata alumni Universitas Negeri Yogyakarta ini, sekolah mesti menggandeng industri secara erat. Sehingga, kata dia, semua jurusan di sekolah memiliki industri pasangannya. Harimawan mencontohkan, bila sekarang teknik sepeda motor di sekolahnya telah menggandeng Daihatsu, elektronika telah menggandeng Evercross, terus untuk RPL SMK Musaba telah mengagndeng Intel Indonesia.

Dengan menggandeng industri-industri tersebut, Harimawan berharap, ke depan, SMK Musaba kelak memiliki peralatan bengkel dan lainya secara terstandar. Ini supaya ketika anak didik lulus tidak merasa gagap dan terbiasa menggunakan peralatan modern.

Upaya sekolah untuk mendekatkannya dengan industri memang bukan slogan dan kata belaka, tapi memang betul-betul dipraktekkan dan diupayakan. Ini bisa dilihat dengan upaya sekolah untuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan atau habbit di dunia industri di lingkungan sekolah. misalnya saja, seperti 5S yang betul-betul diimplementasikan di lingkungan sekolah; berjalan di Jalur hijau, membuang sampah pada tempatnya, ketertiban, kerapihan rambut, cara berpakaian, dan sebagainya.

Ketika masuk ke jalur hijau, itu para peserta didik diharuskan untuk terus berjalan di tracknya. Sama sekali tidak diperbolehkan untuk keluar dari jalur hijau tersebut. Itu sebetulnya mengadopsi kebiasaan atau habbit di lingkungan industri sebagai pertanda daerah tersebut adalah aman untuk dilewati. Sementara daerah di luar jalur hijau itu adalah daerah atau tempat untuk bekerja dan tidak aman untuk dilewati.

“Kebiasaan-kebiasaan itu yang kita tanamkan ke anak didik sehingga ketika di lapangan seperti ini mereka nggak boleh di tengah bergerombol, mereka harus jalannya satu-satu di pinggir,” tutur Harimawan.

Terkait dengan kebersihan, sampah dan lainnya SMK Musaba mengimplementasikan betul sehingga ada yang namanya gerakan disiplin di sekolah, yaitu mengawal disiplin anak-anak ketika di sekolah. dimana pada pagi hari, ada toleransi 5 menit untuk masuk sekolah. Ketika jam telah menunjukkan pukul 07.05 menit anak-anak belum masuk ke ruang kelas, maka akan ndiarahkan ke masjid semua. Disana mereka akan mengikuti pembinaan, shalat, tadarus, serta pembinaan spiritual agar di kemudian hari mereka tak mengulangi kesalahannya kembali.

Kebiasaan lain yang diajarkan di sekolah sebagaimana habit yang ada di industri misalnya adalah menghentikan kerja atau kegiatan belajar mengajar (KBM) pada 15 menit terakhir. Kegiatan di 15 menit terakhir ini ialah membersihkan ruangannya masing-masing. Para peserta didik diharuskan untuk memastikan ruangan belajar mengajar telah bersih sebelum mereka keluar ruangan.

Untuk menunjang kegiatan tersebut, pihak sekolah telah menyediakan di masing-masing ruang kelas peralatan seperti sapu dan lainnya. Dengan cara ini, sekolah ingin membiasakan diri kepada anak didik untuk menjaga kebersihan, termasuk kerapihan rambut. Bahkan, pihak sekolah menyediakan alat potong sendiri. Ini agar masing-masing peserta didik bisa saling memotong rambutnya. Mereka diberi pilihan untuk memotong sendiri, atau dipotong temannya.

Ada banyak orang yang selalu berkata ingin mengubah hidup, tapi hanya sedikit orang yang benar-benar melakukannya. Perbedaannya bermuara pada kekuatan kebiasaan. Kenapa begitu? Karena kebiasaanlah yang dapat mengatur hidup kita dan memungkinkan kita terlibat dalam banyak tugas sehari-hari tanpa membebani otak.

‘Bisa itu karena biasa’, demikian seringkali dikatakan banyak orang. Dan itu telah dibuktikan banyak peneliti, bahwa sesungguhnya Tuhan telah mengajari kita dalam hal kebiasaan, terutama bagaimana cara kita memulai, berhenti, dan mengubah kebiasaan.

Seperti jelas tertera dalam visi Musaba sendiri, yaitu ‘membentuk tamatan yang berakhlak mulia, mandiri dan berdaya saing’. SMK Musaba terus berusaha menyeimbangkan kemampuan teknis (skill) dengan kesadaran spiritual tamatannya. Tentu saja spiritual dalam arti yang lebih luas. Dan oleh karena itu, selain kebiasaan-kebiasaan di dunia industri, SMK Musaba juga menggunakan pendekatan spiritual untuk meningkatkan keunggulan sekolahnya. Bagi Harimawan, budaya yang berakhlakul karimah, berakhlak mulia itu nomor satu untuk ditanamkan. Ini dilakukan agar peserta didik menjadi pribadi yang disiplin, bersih, tertib, sopan santun, menghargai budaya dan keragaman.

Untuk itu SMK Musaba menanamkan pentingnya anak-anak didik bisa membaca dan menulis al-Qur’an. Mereka akan diminta untuk meghafal ayat-ayat pendek, ayat-ayat pilihan, surat-surat pendek ketika mereka tidka hafal kemudian nanti bagaimana mereka shalat.

Prinsip dasarnya, bagaimana mereka bisa menegakan shalat 5 waktu, sementara mereka tidak bisa menghafal ayat-ayatnya. “kewajiban menghafal surat-surat pendek adalah agar ketika mereka sewaktu-waktu diminta menjadi imam shalat, mereka juga bisa,” tutur harimawan.

Selain itu, menghafal ayat al-Qur’an adalah dalam rangka mendorong mereka untuk menjaga shalat lima waktu. Bagi Harimawan, ini adalah harga mati. “Target kami adalah semua rumusan dari SMK Muhammadiyah 1 bantul itu tidak ada yang tidak bisa membaca al-Qur’an,” tegasnya.

Kebiasaan lain yang diterapkan misalnya adalah secara budaya. Terutama dengan mengenalkan para anak didik terhadap budaya atau tradisi jawa. Dan itu menurut Harimawan ada dalam salah satu materi pelajaran bahasa jawa. “Mereka memang harus bisa muatan local bahasa jawa. Itu pelajaran bahasa jawa tapi di dalamnya kita menguatkan busana local jawa,” tuturnya.

Beberapa tradisi yang diajarkan dan diperkenalkan di Musaba adalah memakai blankon, memilih keris jawa dan termmasuk yang seperti disampaikan sebelumnya mewiru kain jarik. Selain beberapa filosofi yang diajarkan kepada mereka, juga lebih sebagai cara untuk menjaga tradisi masyarakat Jawa. ADV