Merdeka Belajar : Pentingnya Kompetensi Kreatif dan Kolaboratif

Merdeka Belajar : Pentingnya Kompetensi Kreatif dan Kolaboratif
Mendikbud Nadiem Makarim/ net

“..di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghapal.” (Mendikbud Nadiem Makarim, 2020)

MONDAYREVIEW.COM - Setiap masa ada tantangannya. Bagai menapaki anak tangga manusia secara individual maupun kolektif berusaha untuk mencapai tingkat peradaban yang lebih tinggi. Meningkatkan kualitas hidupnya. Beradaptasi dengan perubahan di lingkungan sekitarnya. Mengatasi hambatan yang menghadang langkahnya untuk maju.

Nilai-nilai pembentuk watak, pengetahuan, dan keterampilan berkembang seiring peradaban. Dan pendidikan menjadi jalan untuk mentansformasikan nilai-nilai dan pengetahuan tersebut dari generasi ke generasi. Hingga pengalaman para pendahulu dapat membantu generasi baru untuk melesat jauh ke depan. Mandiri dan berdaulat bahkan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Dalam upaya membangun pendidikan yang baik banyak cara dan model dikonseptualisasi dan diimplementasikan. Lembaga pendidikan, manajemen pendidikan, manajemen kelas, teknologi pendidikan, kurikulum dan berbagai konsep serta instrumen pendidikan disusun dan dipedomani. Tak jarang semua itu melahirkan pendidikan yang mengekang kemerdekaan pikiran dan menenggelamkan potensi peserta didik.

Zaman senantiasa berubah dan bangsa Indonesia harus beradaptasi. Termasuk dalam merancang dan mengelola sistem pendidikan. Salah satu gagasan penting dalam mengubah mindset pendidikan kita adalah merdeka belajar. Jauh di cakrawala sana kita dunia menuntut lahirnya generasi baru dengan kemampuan berkarya dan berkolaborasi.    

Kemampuan Berkarya

Salah satu kelebihan manusia adalah beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuan kreatifnya melahirkan berbagai temuan dan inovasi. Baik di bidang sains, teknologi, ekonomi, kesenian, maupun sosial humaniora. Peran pendidikan sangat kuat di balik perkembangan dan pencapaian tersebut. Kemampuan berfikir kreatif dan mewujudkan karya menjadi nafas keseharian bangsa-bangsa maju.  

Ketika kreativitas dianggap sebagai pendekatan untuk pemecahan masalah, bukan sebagai bakat bawaan, maka pendidikan dapat memainkan peran penting dalam perkembangannya. Pendidikan berbasis kompetensi, karena penekanannya pada tujuan yang dinyatakan, umpan balik, evaluasi diri, dan pengalaman belajar alternatif, adalah pendekatan untuk desain kurikulum yang harus mengarahkan siswa untuk menjadi pemikir yang lebih kreatif.

Deskripsi pendidikan berbasis kompetensi dikembangkan, dan penelitian tentang metode dan kreativitas pendidikan diteliti oleh para ahli. Berkarya dalam dalam kamus memiliki arti hasil perbuatan dan ciptaan. Dapat pula bermakna hasil olah rasa, hati, dan pikiran yang kita buat / ciptakan sehingga ada dampak sosial. Kemampuan berkarya dekat pengertiannya dengan kreativitas. Dan kreativitas membutuhkan jiwa dan sikap yang merdeka. Juga pemikiran terbuka.

Kemampuan berkarya juga didasari oleh kesadaran akan tanggung jawab moral. Pendidikan semesetinya mendorong setiap insan peserta didik untuk berkontribusi positip bagi masyarakat. Dalam dirinya tertanam motivasi kuat untuk menemukan solusi, mengembangkan inovasi, bahkan menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru demi kepentingan dan kesejahteraan bangsa dan ummat manusia.   

Segala yang bersifat mengekang mesti dikaji kembali. Aturan, administrasi, dan kurikulum boleh saja ada tanpa membebani dan akhirnya menjadi kontraproduktif terhdap tujuan pendidikan itu sendiri. Kelas diharapkan lebih hidup. Ruang untuk mengembangkan kemampuan kreatif lebih luas.

Kemampuan kolaboratif

Baik jenis pekerjaan di atas kertas maupun pekerjaan lapangan sama-sama membutuhkan kerjasama. Orang dengan kemampuan intelijensia yang tinggi belum tentu dapat bekerjasama dengan orang lain. Belum tentu dapat beradaptasi dalam kerja tim.

Kerjasama semacam itu membutuhkan penggunaan keterampilan kolaboratif. Keterampilan kolaboratif adalah perilaku yang membantu dua orang atau lebih bekerja bersama dan berfungsi dengan baik dalam proses.

Guru dapat melatih siswa mereka dalam keterampilan kolaborasi sehingga mereka akan dapat menyelesaikan tugas kelompok, tidak hanya di ruang kelas tetapi juga di lingkungan kerja, lingkungan sosial dan aspek kehidupan lainnya. Tugas kelompok yang diberikan oleh guru belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik oleh para siswa.

Keterampilan dasar kolaborasi mirip dengan keterampilan komunikasi, di mana mereka umumnya diserap oleh anak-anak yang lebih muda yang dapat membangun keterampilan mereka saat mereka tumbuh.

Jadi, apa keterampilan kolaborasi? Kerja sama sangat tergantung pada kemampuan untuk sekadar bergabung, berkomitmen untuk bekerja dengan orang lain, mendengarkan apa yang dikatakan orang lain dan mendorong mereka untuk berbicara dan berbicara sendiri ketika kita memiliki ide atau pendapat.

Kolaborator – dalam pengertian positip- juga harus tahu cara memulai dan mengakhiri percakapan secara efektif, meminta bantuan atau bantuan, mengikuti arahan, dan mengajukan pertanyaan ketika bingung atau ingin tahu.

Keterampilan penting lainnya termasuk kemampuan untuk mengekspresikan perasaan kita secara efektif serta kepedulian terhadap orang lain dan, tentu saja, memiliki pemahaman tentang perilaku dasar - mengucapkan tolong dan terima kasih - dan mengetahui bagaimana mengatakan tidak tanpa menyinggung seseorang.

Satu keterampilan penting, tetapi sangat sering diabaikan, adalah kemampuan untuk memberikan pujian atau kritik yang membangun. Dan sama pentingnya untuk mengetahui bagaimana menerima pujian atau kritik yang membangun.

Yang terakhir adalah keterampilan negosiasi, membahas ketidaksepakatan sampai mencapai kesepakatan, sangat penting dalam semua aspek kehidupan.

Masih banyak hal yang bisa ditambahkan. Dengan pemahaman dasar keterampilan kolaboratif, siswa dapat membangun keterampilan mereka sendiri dan tumbuh sebagai kolaborator. Anak-anak yang unggul secara individual sekaligus mampu bekerja dalam tim. Bukan untuk membudayakan menyontek saat ujian.