Merdeka Belajar, Pitik Geprek dan Tradisi Keilmuan

Merdeka Belajar, Pitik Geprek dan Tradisi Keilmuan
Ilustrasi: MMG/Denkemplu
Saya heran ada orang-orang yang terlalu mengidolakan saya, padahal saya sangat mengidolakan ilmuwan Muslim Al-Khawarizmi karena tanpa Algoritma dan Aljabar, maka jangan pernah bermimpi ada Facebook, Whats App, BBM, Line, games bahkan komputer.”

TERPAKSA sekali nukilan yang ditulis Mark Zugerberg tersebut harus saya comot dari status facebooknya. Nukilan tersebut dibuat Mark bukan sekadar untuk gagah-gagahan atau bahkan pencitraan di mata publik terutama pengguna facebook belaka.

Apalagi, bukan cuma sekali Mark menulisnya. Kali kedua dia menulis status tentang kekagumannya kepada ilmuwan terdahulu lainnya, Ibnu Khaldun. Mark tertarik membaca kitab Mukadimah karena fokus membahas alur kemunculan masyarakat dan kebudayaan, termasuk munculnya kota, politik, perdagangan, dan ilmu pengetahuan.

Karena itu, menurut Mark, karya Ibnu Khaldun layak dibaca agar manusia di era digital mengetahui tentang dunia yang dihadapinya. Bagi saya, nukilan ini bukan sekadar status facebook, namun lebih sebagai tamparan tentang bagaimana tradisi keilmuan kita.

Kita atau siapa pun tentu kaget dengan apa yang ditulis Mark Zuckerberg. Karena tradisi ini begitu kontras dengan apa yang kita lihat dan hadapi saat ini. Saat kita dibuat heboh oleh polemik merek ‘Piti Geprek’ dan ‘Merdeka Belajar’.

Kedua polemik dan aktor yang terlibat di dalamnya kontra sekali dengan apa yang dilakukan Mark, yang betul-betul menghargai turats dan peradaban. Karena Mark, dengan sangat jujur mengatakan jika facebook, terinspirasi dari para ilmuwan terdahulu, terutama Alkhawarizmi dan Ibnu Khaldun.

Apa yang dilakukan Mark, mirip tradisi para ilmuwan muslim yang senantiasa menisbatkan jerih payah temuan dan karya pada pemiliknya. Karena jika kita membaca buku-buku para ilmuwan muslim, di dalamnya selalu dipenuhi dengan kutipan nama-nama ilmuwan yang mereka nukil pendapatnya. Dan Mark melakukan itu ketika menyebut facebook, produk intelektual paling revolusioner abad ini.

Sayangnya, apa yang dilakukan Mark kontras dengan apa yang terjadi saat ini, di dekat kita. Dan mungkin, tak hanya sekadar aktor-aktor yang terlibat dalam polemik seputar ‘Pitik Geprek’ maupun ‘Merdeka Belajar’, tapi juga kita. Minimal, ketika menuliskan status di media sosial.

Untuk kasus ‘Pitik Geprek’, Sang aktor sebetulnya sudah tak asing bagi kita. Karena kariernya di dunia entertainment memang juga sedang menanjak. Salah satunya, karena urusan ‘Pitik geprek’ ini.

Sang aktor tetiba naik kelas, setelah merambah bisnis kuliner. Seluruh sisi kehidupannya pun dianggap layak untuk diceritakan dan menginspirasi banyak orang. Lantas, dikapitalisasi dan menghasilkan cuan yang banyak.

Terakhir, Sang Aktor ternyata dihadapkan dengan kasus perebutan hak paten merek dagang ‘Pitik Geprek’ antara dirinya dan pemilik restoran I am Geprek. Gugatan pun dilayangkan pada tahun 2018. Sialnya, putusan MA yang keluar tahun 2020 memutuskan I am Geprek sebagai pemilik sah merek ‘Pitik Geprek’.

Kasus yang nyaris sama dan bikin heboh di abad ini adalah soal polemik merek ‘Merdeka Belajar’. Heboh karena ada sosok mantan Bos Gojek dan Mendikbud Nadiem Makarim serta pendiri Sekolah Cikal Najeela Shihab dalam kasus tersebut.

Ketika pertama kali dilaunching, ‘Merdeka Belajar’ dianggap sebagai new hope, harapan baru. Mas Menteri, yang belum genap 100 hari bekerja, ternyata sudah menelurkan kebijakan yang cukup revolusioner. Di hadapan para pejabat Kemendikbud dan ratusan kepala dinas pendidikan se-Indonesia, Nadiem mengungkapkan alasan meluncurkan kebijakannya lebih cepat. Menurutnya, pada saat serah terima jabatan, dirinya memang pernah mengatakan jika 100 hari pertamanya adalah dirinya bukan untuk menjadi guru tapi murid yang belajar dari nol.

Tapi Mas Menteri tahu betul, jika setiap benda bersifat lembam atau inersia jika resultan gaya yang bekerja pada benda tersebut sama dengan nol. Kabinet Indonesia Maju bagi Nadiem harus dinamis, bergerak maju dan menjemput perubahan.

“Karena ini Kabinet Indonesia maju, saya segera melakukan hal-hal kerja nyata bukan hanya merencanakan saja tapi juga meengeluarkan kebijakan yang sangat dibutuhkan dunia pendidikan,” tutur Nadiem di hadapan ratusan kepala dinas pendidikan se-Indonesia di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Presiden Jokowi dan tentu saja publik sudah menaruh ekspektasi yang besar kepada Mas Menteri untuk memberikan kualitas pendidikan yang merata (quality education for all) di Indonesia yang luas membentang geografisnya dengan pendekatan dan adaptasi teknologi. Nadiem sendiri memiliki visi dan misi bagaimana meningkatkan relevansi pendidikan Indonesia dengan kebutuhan zaman. Sukses memajukan Gojek, jadi ukuran dan harapan publik kebanyakan.

Sayang, Mas Menteri tak jujur sejak awal dan melakukan kroscek tentang konsep 'Merdeka Belajar' tersebut. Jika soal kenyataan bahwa merek dagang tersebut telah didaftarkan bisa dipahami, karena memang prosesnya ribet dan lama. Kata Najeela, prosesnya sudah ia mulai tahun 2018 dan baru keluar tahun 2020.

Pertanyaannya, kenapa ia tidak sampaikan itu ketika Mas Menteri meluncurkan ‘Merdeka Belajar’ di Hotel Bidakara pertama kali di penghujung tahun 2019?

Dalam klarifikasinya, Najeela Shihab, pemilik sah merek dagang ‘Merdeka Belajar’ menyebut tak meminta royalty. Tapi kalaupun tujuannya sekadar untuk membuktikan siapa yang memiliki konsep tersebut lebih dahulu tentu saja itu lebih keliru.

Ini serupa dengan kengototan Mas Menteri yang enggan menggunakan istilah link and macth dan memilih istilah ‘kawin masal’ untuk menyebut kolaborasi antara dunia industri dan dunia pendidikan dalam memajukan sekolah vokasi kita.

Padahal, jauh sebelum kita terkoneksi secara digital seperti saat ini, tokoh sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tahun 1993 hingga 1998 di Era Soeharto, Wardiman Djojonegoro sesungguhnya sudah mengatakan, jika pendidikan mesti Link dan ‘Match’ untuk menghadapi perubahan.

Begitupun dengan istilah ‘Merdeka Belajar’, yang sebetulnya merupakan buah pikir Ki Hajar Dewantara. Pengamat dan praktisi pendidikan, Darmaningtyas menyebut konsep yang dibuat Ki Hajar Dewantara memberikan kebebasan kepada minat dan bakat murid.

Betapa sulit kita menisbatkan jerih payah temuan dan karya pada pemiliknya. Padahal, kita juga tahu jika apa yang terjadi di dunia ini tak luput dari pengulangan sejarah.

Saat ini, hukum perlindungan Hak Milik Intelektual (HAMI) memang sangat penting. Tapi akhirnya kita pun sama-sama tahu, jika urusan HAMI tak hanya soal nama dan kehormatan semata, tapi juga soal cuan.

Tabik,