Milad ke-59 IPM, Momentum Mencerahkan Bangsa

Milad ke-59 IPM, Momentum Mencerahkan Bangsa
Ilustrasi foto/Net

KETIKA ditawari susu dan khamr, tetapi dia memilih susu. Sehingga dia mendapatkan fitrah dan tidak akan menyesatkan umat. Dia juga melihat gambaran neraka dan surga di masa mendatang.

Ketika di Sidratul Muntaha, Lelaki kinasih itu juga diperlihatkan Jibril dalam rupanya yang asli. Padahal di dekatnya ketika itu, juga diperlihatkan surga tempat tinggal segala kenikmatan, namun tidak berpaling sedikitpun.

Warga Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) baru saja memperingati milad pendiriannya yang ke-59 kemarin, 18 Juli 2020. Seperti awal kelahirannya, milad kali ini juga diwarnai dengan situasi nasional yang tidak begitu membahagiakan, terutama karena pandemi Covid-19.

Nukilan yang saya comot dari buku sirah Nabawiyah, tulisan Syekh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri dan penggalan ayat dalam surah an-Najm sengaja saya tampilkan di muka. Mengingat pentingnya misi profetik yang terkandung baik dalam teks maupun konteksnya terutama bagi saya yang pernah sekian tahun bergelut menjadi warga IPM.

Bagi sebagian penduduk bumi yang telah berkecukupan harta maupun jiwa lantaran telah banyak memakan asam garam kehidupan, pandemi covid-19 bisa jadi dianggap sebagai momentum untuk melakukan uzlah secara permanen. Lalu tenggelam dan mengalami ekstase spiritual.

Karena itu saya tampilkan nukilan di atas agar bisa mengingatkan tentang gagasan almarhum Kuntowijoyo yang diilhami pemaknaan Muhammad Iqbal atas peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Kata filusuf asal Punjab itu, seandainya Nabi Muhammad adalah seorang mistikus atau sufi, maka ia tidak akan memiliki keinginan kembali ke bumi, karena telah merasa tentram bertemu Tuhan dan berada di sisi-Nya. Namun, Nabi Muhammad memilih untuk turun kembali ke bumi demi menggerakan perubahan sosial.

Misi profetik seperti inilah yang sejatinya menjadi pegangan para aktivis IPM saat ini kala menghadapi kenormalan baru. Karena kita tahu Covid-19 telah menciptakan irreversible changes (perubahan yang tak dapat dipulihkan) dan changes permanently (perubahan permanen).

Selama vaksin belum ditemukan maka kita akan tetap menjalani masa tidak normal. Pun demikian bila vaksin ditemukan kita akan masuk kepada kebiasaan baru yang jelas-jelas akan meninggalkan masa normal sebelumnya ke kebiasaan normal baru, atau new normal.

Gambaran paling sederhana bagaimana new normal ini benar adanya adalah berubahnya kebiasaan-kebiasaan kecil kita. Misalnya saja, saat pagi masih menyisakan gigit dingin, kita biasanya sudah menghadapi traffic light, tapi kini berubah menjadi zoom fatigue. Lelah karena terlalu banyak melakukan video conference.

Ketika menghadapi transformasi seperti itu, maka seorang pelajar muslim tentu harus memiliki perspektif alternatif yang lebih berkemajuan. Dalam konteks ini perlu sekali membangun pengetahuan dan struktur kesadaran, tentang konsisi saat ini yang tengah kita hadapi.

Karena ketika pengetahuan sudah di tangan, kita pun menjadi lebih mudah melakukan tindakan. Persoalannya, seberapa kuat tradisi yang kita miliki dapat menghadapi new normal? Alih-alih dapat melakukan adaptasi, bisa jadi malah larut dalam situasi.

Jika bersandar pada nukilan di atas, maka kesadaran sejatinya berdasarkan pengalaman-pengalaman religious, bukan pengalaman sosial semata. Seperti Nabi Muhammad yang mengubah pengalaman religious mi’rajnya menjadi suatu kekuatan psikologis untuk melakukan perubahan sosial.

Jika sudah memiliki kesadaran seperti itu, maka seperti disebut dalam surah Ali Imran ayat 110, bahwa “kuntum khaira ummah ukhrijat linnasi ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuna billahi.”

Jangan sampai, peristiwa covid-19 tak meninggalkan catatan sedikit pun. Hingga akhirnya malah membuat kita atau siapa pun masuk dalam kategori masyarakat dengan solidaritas yang mulai memudar dan tengah menanti kepunahanannya.

From desert attitude to sedentary culture, from privation to luxury, from a state in wich everybody shared in the glory to one in wich one man claims all the glory for himself while the others are too lazy to strive for (glory), and from proud superiority to humble subservience,” kata Ibnu Khaldun.

Pandemi covid-19 semestinya menjadi momentum untuk mentransformasikan pengalaman-pengalaman religious menjadi nilai dan kebudayaan baru yang tak sekadar sesuai zaman namun juga ketentuan syariah. Pandemi covid-19 dengan begitu merupakan momentum ‘mencerahkan bangsa’ sesuai misi profetik.

Selamat Milad ke-59 IPM!