Ngopi vs Produktivitas

Ngopi vs Produktivitas
Ilustrasi Ngopi/ net

MONDAYREVIEW.COM - Ngopi Yuk! Begitu pesan teks melalui aplikasi chat yang saya terima dari seorang teman. Ajakan paling trending beberapa tahun terakhir ini langsung saya iyakan. Khusus untuk momen kemarin bertepatan dengan situasi ‘panas’ isu politik dimana kami berada dalam posisi yang berbeda. Setelah bersitegang di medsos tiba saatnya untuk ngopi darat.

Walaupun dalam pilihan menu lagi-lagi kami berbeda. Saya suka kopi panas dan dia suka kopi dingin.

Perbincangan mengalir. Lebih dari dua jam. Lebih besar harga yang harus dibayar untuk menu pendampingnya. Judulnya ngopi tapi pakai makan berat segala. Seperti juga perbincangan yang bias kemana-mana. Topik utamanya omnibus malah jadi nggedabrus. Pun inti kesepakatan untuk saling memahami dirasa sudah tercapai dengan membayar bill kopi secara patungan.  

Menilik sejarahnya budaya ngopi memang menjadi social lubricant atawa pelumas sosial. Jangan dibayangkan bahwa kopi dulu dicampur oli. Ini lebih dimaksudkan bahwa lobi yang seret bisa diobrolin sambil ngopi. Gesekan antar tetangga bisa diatasi. Salah paham dengan teman bisa diselesaikan. Dan bila mitra tak suka kopi tentu ada pilihan menu lainnya yang pas dengan selera.

Secara umum ngopi telah mentradisi. Konon budaya ngopi berawal dari Turki dan merambah bersama perluasan kekaisaran Ottoman. Terlacak mulainya tradisi ini sejak abad ke 16. Tahun 1500 sekian lah. Indonesia masih era kekuasaan Majapahit. 

Akhir-akhir ini kedai kopi muncul dimana-mana. Terutama di Jakarta. Terkecuali buat orang Aceh mungkin sudah bukan barang baru. Sejak dulu si propinsi paling barat itu kita bisa temui kedai kopi di setiap sudut kota. Ada kebutuhan meeting, bekerja, dan melonggarkan syaraf paska rutinitas yang mendera

Pengeluaran jajan kuliner di luar rumah sudah masuk dalam anggaran rumah tangga kelas menengah. Dengan standar sejahtera kelas ini jumlahnya signifikan, Selaras dengan Indonesia yang naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah. Kelas yang mungkin bisa turun karena pandemi.

Sambil ngopi kreativitas bisa muncul. Di Eropa budaya ngopi tak hanya lekat pada tradisi hiburan dan wisata kuliner. Tradisi ini bersanding pula dengan atmosfir seni budaya dan tradisi intelektual. Diskusi-diskusi berkualitas hadir dalam ajang ngopi bareng. Isu yang dibahas di kedai kopi menjadi salah satu sumber kritis bagi para pemimpin dan pelayan publik.

Dalam konteks di atas ngopi tak berseberangan bahkan mendukung produktivitas intelektual massa. Komunikasi dua arah dalam suasana egaliter dan terbuka lebih potensial tercipta di ajang ngopi daripada di ruang kelas yang terbelenggu oleh tembok-tembok tradisi akademik yang beku.

Namun ada beberapa catatan penting. Budaya ngopi dapat juga menjadi bahaya laten yang mengancam produktivitas kerja.  

Pertama, tak semua jenis orang bisa produktif di sela-sela menguatnya kebiasaan ngopi. Pada sebagian orang atau kelompok orang terlalu banyak waktu yang harus dihabiskan minim bahkan nir produktivitas. Lupa waktu dan berlalulah hari demi hari dalam tanpa ada progress rencana yang tereksekusi.

Apalagi kalau jabatan kita masih pelaksana dan jenis pekerjaan kita di level operator. Kebanyakan jeda ngopi bisa membuat kita dipecat.  

Kedua, bagaimanapun lambung seseorang punya batas toleransi terhadap kopi. Apalagi bila kebiasaan ngopi disertai kecanduan menikmati gulungan asap nikotin. Sangat tidak sehat. Dan jika akhirnya kita sakit, entah di lambung atau di paru-paru, maka produktivitas kita akan menurun.

“Saya nggak bisa mikir kalau tidak merokok dan ngopi. Saya nggak bisa produktif, ” kata teman ngopiku. Itulah dua diantara alasan mereka yang menikmati komposisi paling nikmat di dunia ini. Sebagian orang dengan profesi sebagai penulis, wartawan, penyair, dan seniman pada umumnya sering ditikam stigma ini. Pecandu rokok dan kopi. Sampai dokter mengharamkannya mereka akan bersikukuh memegang prinsip berikut dalil-dalil yang membenarkannya.

Ketiga, perubahan gaya hidup yang tak perlu. Karena terhanyut dengan budaya ngopi kita terkadang memaksakan diri untuk ‘terlalu serius’ dalam mendalami kopi. Sementara hal-hal lain yang seharusnya menjadi prioritas kita justru terabaikan.  

Maka budaya ngopi ada plus-minusnya. Jangan sampai justru menghambat produktivitas kerja kita.