Palestina Bersatu Melawan Aneksasi

Palestina Bersatu Melawan Aneksasi
Logo Hamas dan Fatah/net

MONDAYREVIEW.COM –  Hamas dan Fatah bersatu melawan rencana aneksasi Israel atas Tepi Barat. Dunia bersuara keras menentang rencana Israel yang didukung Presiden AS Donald Trump itu. Tanah Palestina memang tak lekang oleh konflik berlatar agama dan kebangsaan sejak ribuan tahun lalu. Dan bara kembali menjadi api.

Hari-hari ini di tengah pandemi Israel kembali berulah untuk mencaplok Tepi Barat. Para pemukim Israel menganggap Tepi Barat adalah tanah yang diberikan Tuhan kepada mereka. Tak jauh dari batasnya Yerussalem yang merupakan Kota Suci Tiga Agama berada.  

Sejak kemenangan Israel melawan Aliansi negara-negara Arab dalam Perang 6 hari pemukiman illegal Israel di Tepi Barat terus tumbuh. Sekitar tiga juga orang hidup di penggalan tanah yang disebut Tepi Barat: 86% persen warga Palestina dan 14% (427.800 orang) adalah pemukim Israel. Demikian laporan bbc.com. Jika Tepi Barat yang selama ini dikontrol Fatah dicaplok Israel maka tinggalah tersisa Gaza yang dikontrol Hamas.  

Rencana aneksasi Israel itu mampu mempersatukan faksi-faksi yang terbelah di Palestina. Gerakan perlawanan Hamas dan partai politik Fatah akhirnya bersatu dan memiliki satu suara dalam memerangi rencana aneksasi Israel yang akan segera terjadi.

Walaupun ditentang komunitas internasional namun Amerika Serikat di bawah administrasi Trump mendukung hal ini termasuk pengakuan atas Yerussalem sebagai ibukota Israel. Padahal selama ini AS ada di pihak yang sama dengan Uni Eropa dalam bersikap terkait pemukiman Yahudi di Tepi Barat.

Tepi Barat sebagaimana ditulis wikipedia adalah wilayah yang tidak memiliki daratan di dekat pantai Mediterania Asia Barat, berbatasan dengan Yordania di sebelah timur dan oleh Garis Hijau yang memisahkannya dan Israel di selatan, barat, dan utara. Tepi Barat juga berisi bagian penting dari pantai Laut Mati barat.

Istilah West Bank atau Tepi Barat adalah nama yang diberikan kepada wilayah yang dikuasai Yordania setelah Perang Arab-Israel tahun 1948, dan kemudian dianeksasi pada tahun 1950. Kesepakatan Oslo, ditandatangani antara Organisasi Pembebasan Palestina dan Israel, menciptakan distrik administratif dengan berbagai tingkat otonomi Palestina di setiap daerah. Area C, di mana Israel mempertahankan kontrol sipil dan keamanan lengkap, menyumbang lebih dari 60% wilayah Tepi Barat.

Pemerintah Israel mendukung pemukiman-pemukiman baru ini karena pada dasarnya Israel mengklaim Tepi Barat sebagai bagian dari ‘Tanah yang Dijanjikan’.  Israel menyediakan layanan seperti air dan listrik kepada para pemukim, dan mereka dilindungi oleh tentara Israel. Permukiman Israeli juga tersebar di seluruh wilayah Palestina. Permukiman-permukiman ini dijaga oleh tentara Israel dan warga Palestina tak punya akses ke sana.

Dalam konferensi pers bersama pada Kamis (2/7) waktu setempat, anggota Komite Sentral Fatah, Jibril Rjoub, yang berbicara di Ramallah, dan wakil kepala Hamas, Saleh Arouri, yang berbicara melalui konferensi video dari Beirut, mengatakan bahwa dua kelompok besar Palestina, Hamas dan Fatah, satu suara dalam memerangi rencana aneksasi Israel.

Tahap saat ini adalah yang paling berbahaya bagi rakyat Palestina, yang mengharuskan semua elemen untuk menghadapi tantangan saat ini. Mereka ingin datang dengan visi strategis dengan semua faksi dari kekuatan nasionalis untuk menghadapi tantangan saat ini.

Menurut Wafa sebagai Kantor Berita Otoritas Palestina Fatah dan Hamas sekarang dituntut untuk menyatukan barisan mereka setelah bertahun-tahun berpisah. Sikap itu diambil untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Fatah dan Hamas berdiri tegak melawan rencana aneksasi Israel terhadap sebagian besar wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Rusia menyambut baik ikrar persatuan yang dicapai antara dua kelompok terbesar di Palestina, Fatah dan Hamas, yang memiliki satu suara dalam memerangi rencana aneksasi Israel yang akan segera terjadi.

Rusia sangat senang atas keputusan Fatah dan Hamas yang akhirnya bersama-sama membela kepentingan negara Palestina berdasarkan platform Organisasi Pembebasan Palestina. Demikian menurut Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, seperti dikutip oleh Russia Today.

Salah satu masalah utama yang perlu diselesaikan untuk upaya bersama mengembalikan persatuan Palestina. Moskow mengandalkan semua perwakilan negara Arab untuk secara aktif mendukung upaya Palestina.

Rusia menekankan bahwa Fatah dan Hamas sekarang dituntut untuk menyatukan barisan mereka setelah bertahun-tahun berpisah. Seluruh proyek nasional Pelestina terancam oleh pendudukan Israel. Pendudukan Israel juga melanjutkan pemisahan yang meruntuhkan persatuan nasional.

Jika aneksasi tetap berjalan, maka Fatah, Hamas, semua faksi dan seluruh rakyat Palestina akan melawan upaya Israel itu. Arouri yang mewakili Hamas mengatakan pertemuan virtual pada Kamis (2/7/2020) itu adalah kesempatan untuk memulai fase baru dalam membantu dan melindungi rakyat Palestina dalam situasi berbahaya ini.

Hamas mengklaim bahwa seluruh elemen di Palestina bersatu melawan pencaplokan. yang berada di seluruh Palestina maupun di luar Palestina saat ini sedang berperang melawan aneksasi oleh Israel.

Adapun sikap Indonesia jelas dari waktu ke waktu dalam menghadapi konflik di Timur Tengah antara Palestina dan Israel. Dengan mengedepankan langkah diplomasi dalam memperjuangkan perdamaian dunia Indonesia mendukung hak-hak rakyat Palestina. Indonesia menyadari bahwa konflik di Timur Tengah berimbas dan menyebar menjadi ketegangan kawasan bahkan ketegangan global.