Pegiat Anti Kekerasan: Klub Harus Investasi untuk Produksi Narasi Positip  

Pegiat Anti Kekerasan: Klub Harus Investasi untuk Produksi Narasi Positip  
irfan amali (c) youtube

 

MONDAY REVIEW- Prestasi sepakbola Indonesia mulai menampakkan titik cerah. Salah satu kabar terbaru yang menggembirakan publik bola Tanah Air adalah lolosnya Tim Nasional Indonesia U-16 ke semifinal Piala AFC. Garuda Muda memuncaki klasemen di babak penyisihan grup.

Salah satu faktor terpenting dalam pencapaian prestasi itu adalah keajegan dan kualitas kompetisi dalam negeri. Disamping pembinaan yang optimal sejak usia dini. Karena latihan terbaik adalah bertanding. Dan pertandingan-pertandingan dalam kompetisi yang ketat akan memberi ruang untuk mengasah mental, teknik, dan intuisi para pemain.

Sayangnya, kompetisi Liga 1 di Tanah Air baru saja ternoda oleh tindak kekerasan yang mengakibatkan meninggalnya seorang suporter. Minggu (23/9/2018) menjadi hari terakhir dalam hidup Haringga, seorang pendukung Persija. Usia korban masih sangat belia. Publik terhenyak dan seakan baru menyadari bahwa peristiwa semacam ini bukan kali pertama terjadi.

Irfan Amali, seorang pegiat anti kekerasan yang sudah lama menyelami kehidupan anak muda Bandung sangat prihatin dengan kejadian tersebut.  

“Klub, suporter, dan semua stake holder harus secara sistematis mengikis  narasi-narasi  kekerasan.”, kata Irfan.  

Ia memberi contoh narasi visual yang tampak di sebuah pertandingan. Gambar Viking dengan tanduk memegang kampak berdarah menghabisi lawan. Jargon-jargon provokatif yang diproduksi di t-shirt,  yel-yel kebencian yang dinyanyikan di stadion serta meme-meme di sosial media. Menurutnya, organisasi  suporter harus berani menegur bahkan menghukum suporter yang mempromosikan narasi negatif.

Yang tak kalah pentingnya adalah peran media massa. “Media massa harus stop memanas-manasi dengan narasi-narasi provokatif dlm berita seperti pemilihan kata “musuh bebuyutan”, “laga paling panas” dan lain-lainl.

“Terapkan prinsip jurnalisme perdamaian. Kirim somasi ke media yg provokatif”, imbuh Irfan.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah membuat dan mempromosikan narasi perdamaian sebanyak-banyaknya dan secara konsisten. Mendorong suporter untuk menciptakan narasi positif. Termasuk dengan memberi reward pada mereka yang menyuarakan narasi anti kekerasan.

“Libatkan para kreator, budayawan dan seniman utk membuat kontra narasi ini. Klub dan sponsor harus berani investasi untuk ini. Jangan cuma mau ambil profit saja. Tapi harus kontribusi utk membuat strategi kontra narasi ini”, sambung Irfan.

Yang terakhir, Irfan menegaskan perlumya merumuskan sistem pembinaan dan pengkaderan wajib bagi suporter. Bahkan diperlukan upaya ‘Jemput Bola’ dengan melakukan pembinaan ke sekolah-sekolah dan basis-basis suporter di daerah.