Pelabuhan Patimban, Efisiensi Logistik, dan Pengembangan Kawasan Rebana

Pelabuhan Patimban, Efisiensi Logistik, dan Pengembangan Kawasan Rebana
Presiden Joko Widodo Resmikan Pelabuhan Patimban/ net

MONDAYREVIEW.COM – Salah satu kendala lalu-lintas ekspor adalah waktu tempuh dari Kawasan Industri di Karawang, Cikarang, dan Bekasi ke Pelabuhan Tanjung Priok yang selama ini memakan waktu hingga 5 jam. Setelah pembangunan tol pelabuhan dan tol Cibitung-Cilincing maka pengoperasian Pelabuhan Patimban menjadi langkah strategis. Diperkirakan waktu tempuh itu akan terpangkas hingga diperlukan waktu hanya 1 jam saja.

Pelabuhan Patimban jadi salah satu proyek strategis nasional dengan investasi Rp 43,2 triliun di area seluas 369 hektar dan lahan cadangan 356 hektar. Pembangunan tahap I menyedot anggaran Rp 14 triliun dari APBN dan pinjaman Japan International Cooperation Agency atau JICA. Jepang yang memiliki investasi yang cukup besar di kawasan itu tentu berkepentingan dengan arus ekspor produk yang mereka hasilkan.

Presiden RI Joko Widodo pada Minggu (20/12/2020) hadir secara virtual bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyaksikan dilakukannya soft launching dan pengoperasian perdana Pelabuhan Internasional Patimban, Subang, Jawa Barat.

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dengan dioperasikannya Pelabuhan Patimban akan menjadi cikal bakal kawasan metropolitan Rebana. Kawasan tersebut akan terdiri dari 13 kota industri baru.

Ketika Jokowi memutuskan pemindahan ibu kota negara dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur sontak ada wacana pemindahan ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kang Emil pernah menyebut ada tiga wilayah yang menjadi calon ibu kota baru, yakni Tegalluar, Walini, dan Segitiga Rebana (Cirebon, Subang, Majalengka).

Jika kawasan metropolitan Rebana berhasil dengan Patimban sebagai cikal bakalnya maka 4,3 juta pekerjaan akan tercipta dalam 15 tahun ke depan. Dan memberikan tambahan pertumbuhan ekonomi sampai 4 persen untuk provinsi Jawa Barat yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pembangunan Pelabuhan Patimban akan mengurangi biaya logistik dan memperlancar arus barang, serta mengurangi beban kendaraan barang di jalan raya khususnya wilayah Jabodetabek.

Pelabuhan Patimban yang disinergikan dengan Pelabuhan Tanjung Priok diharapkan dapat mengefisiensikan waktu dan biaya logistik. Khususnya untuk menekan biaya logistik nasional dan meningkatkan efisiensi biaya ekspor produk Indonesia ke luar negeri, salah satunya produk otomotif.

Budi Karya mengatakan dalam proses membangun pelabuhan, selain fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur Pelabuhan Patimban, juga memperhatikan aspek ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar dengan melakukan aksi sosial dan secara aktif memberikan pelatihan seperti pelatihan kewirausahaan, pelatihan pemberdayaan masyarakat, serta pemberian program keahlian bagi para nelayan sekitar.

Secara keseluruhan, pembangunan Pelabuhan Patimban dilakukan dalam tiga tahap. Saat ini telah diselesaikan pembangunan tahap 1 fase 1, yaitu meliputi pembangunan area terminal, pembangunan breakwater, seawall, dan revetment, pembangunan back up area, jalan akses, dan jembatan penghubung dengan terminal kendaraan seluas 25 ha dengan kapasitas kumulatif sebesar 218.000 CBU, terminal peti kemas seluas 35 ha dengan kapasitas kumulatif sebesar 250.000 TEUs untuk tahap I secara keseluruhan.

Selanjutnya, untuk tahap 1 fase 2 akan dikerjakan pada 2021-2024 dengan pekerjaan terminal peti kemas seluas 66 ha dengan kapasitas kumulatif sebesar 3,75jt TEUs, terminal kendaraan dengan kapasitas kumulatif sebesar 600.000 CBU, dan roro terminal seluas 200 m2.

Kemudian untuk tahap 2 akan dilaksanakan pada 2024-2025 pekerjaan terminal peti kemas dengan kapasitas kumulatif sebesar 5,5jt TEUs. Sedangkan tahap 3 akan dilaksanakan pada 2026-2027 dengan pekerjaan terminal peti kemas dengan kapasitas kumulatif sebesar 7,5jt TEUs.