Pelanduk Cerdik di Tengah Pertarungan Para Gajah

Pelanduk Cerdik di Tengah Pertarungan Para Gajah
ilustrasi@china briefing

MONDAYREVIEW.COM – Jika ada persaingan biasanya ada yang menang dan ada yang kalah. Bisa juga hasilnya seri alias imbang. Jika ada dua pihak bersaing maka besar kemungkinan pihak ketiga mendapat peluang untuk mendapatkan keuntungan sebagai buah dari persaingan itu. Sesederhana itu saya memaknainya dalam pergaulan hidup sehari-hari.  

Di arena yang lebih besar persaingan antar negara juga terjadi. Cara kita memahaminya mungkin harus menggunakan pisau analisis yang lebih kompleks. Namun secara umum tak jauh berbeda dengan kehidupan bermasyarakat. Persaingan antar adikuasa telah bergeser. Di masa lalu Perang Dingin memperhadapkan Barat dengan Timur. Terutama Amerika Serikat dengan Uni Sovyet. Sekira 22 tahun lalu Tembok Berlin tumbang dan menjadi penanda perubahan konstelasi politik global. Rusia masih kuat namun tak lagi menjadi simbol komunisme.

Seiring waktu berjalan Tiongkok semakin menguat. Penguatan nampak dalam bidang ekonomi, teknologi, dan militer. Kue ekonomi Tiongkok sangat besar. Dan negara Tirai Bambu itu bekerja efektif dan efisien dalam menata sumber daya yag dimilikinya hingga menjadi kekuatan besar yang diperhitungkan dunia internasional.

Tiongkok membungkam demokrasi. Peristiwa Tiananmen dan Hongkong mempelihatkan bahwa Beijing bukan main-main dalam menerapkan kebijakan melindungi kepentingannya terkait stabilitas politik. Boleh dikata tanpa kompromi. Hal yang juga nampak dalam menangani Tibet dan Xinjiang. Pendek kata pesaing utama AS sekarang adalah Tiongkok yang sekaligus menjadi mitra dagang utamanya.

Dalam tahun-tahun terakhir ini defisit neraca perdagangan AS atas Tiongkok semakin lebar. Investasi dan ekspor Tiongkok juga makin jauh berlari. Tak aneh jika AS kalang kabut. Meski dari sisi teknologi militer dan kekuatan alutsista AS masih dominan namun bukan tak mungkin dalam waktu dekat Tiongkok akan menyusul. Apalagi sebagai negara komunis Tiongkok menempatkan militer dalam peran yang sangat kuat.

AS punya sekutu kuat di Eropa ditambah Jepang dan Korsel di Asia. Dalam perlombaan teknologi dan ekonomi AS harus membangun hubungan baru dengan kesepakatan-kesepakatan yang lebih adil agar sekutunya tak berpindah ke lain hati. Bagaimanapun rayuan modal Tiongkok bukan tak mungkin mengubah kebijakan poltik sebuah negara.  

Dalam bidang ekonomi khususnya investasi AS dan Tiongkok bersaing ketat. Termasuk di Asia dan Afrika. Kompetisi antar produsen atau pedagang sejatinya akan cenderung menguntungkan konsumen. Namun dalam berbagai hal dapat pula mencelakakan. Karena keterbelahan dalam negeri mitra AS atau mitra Tiongkok dapat melebar dan mengeras menjadi konflik yang meruntuhkan konsolidasi demokrasi.

Perebutan pengaruh politik dan ekonomi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok semakin terlihat telanjang. Belum lama ini AS memperbaharui dan memperkuat kesepakatannya dengan Kenya. Setelah sebelumnya AS juga menarik Sudan dalam skema Abraham Accord dengan menormalisasi hubugan diplomatiknya dengan Israel.

Dari perspektif politik kedekatan Afrika dengan Tiongkok juga tak dapat disangkal. Ethiopia menjadi salah satu negara yang berada di garis depan dalam kerjasama dengan Tiongkok. Cukup lama Afrika dijajah Barat pada masa lalu. Beragam ketidakadilan warisan kolonial masih membekas dan membuat rakyat di negara-negara Afrika lebih nyaman bekerjasama dengan mitra barunya dari Asia.

Kontroversi investasi atau aliran modal Tiongkok memang masih dapat dimainkan AS untuk menghadang lawan di arena Benua Hitam ini. Salah satunya dengan menuduh investor Tiongkok sebagai predator. Dengan kata lain lintah darat. Negara tujuan investasi akan menjadi sapi perah. Tenaga dan sumber daya alamnya diperas.   

Tiongkok ada di Asia sehingga hubungan Tiongkok dengan mitra-mitra Asianya tentu memiliki nilai lebih. Termasuk dengan hubungan dagang antara Tiongkok dengan mitra-mitranya di ASEAN. Indonesia ditengarai juga membuka lebar hubungan dagang dan investasi dengan Negeri Panda. Ini terjadi sebelum dan selama pandemi berlangsung. Proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung menjadi salah satu contoh bahwa modal Tiongkok berkibar di negeri ini.

Apalagi bila kita lihat pengaruh modal Tiongkok di Vietnam dan negara-negara Indochina. Boleh dikata hampir tak terbendung meski sesekali mereka tarik ulur dalam beberapa isu. Salah satunya terkait klaim Tiongkok atas 9 garis putus-putus di Laut Cina Selatan sebagai ‘milik’ mereka secara tradisional.

AS pun terus berupaya melakukan manuver agar pengaruhnya di Asia dan Afrika tak lekang oleh ekspansi Tiongkok. Di arena pasar mata uang Tiongkok sudah menggagas dan mulai melangkah untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang US Dollar. Di dalam negerinya mereka sudah mampu menerapkan digitalisasi sistem pembayaran. Dan lebih dari pada itu manufaktur mereka juga mampu menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan pasar.

Kedatangan Menlu AS Pompeo ke Indonesia memberi sinyal kuat bahwa Indonesia tetap berdiri tegak dan teguh dalam politik luar negeri yang bebas aktif. Di sisi lain AS juga memberi perhatian dan ruang bagi ekspor RI ke negara itu sebagai pasar tradisionalnya. Setidaknya sebagai balas jasa di masa pandemi atas laba tak kepalng tanggung yang selama ini didapatkannya dari bisnis dan investasinya di Indonesia.

Dalam persaingan itu Indonesia mestinya dapat mengambil keuntungan. Bukan dalam arti mengail di air keruh. Namun jangan sampai pula nasibnya mirip keledai yang mati di arena pertarungan para gajah. Dan suatu saat kita bisa menjelma menjadi gajah. Untuk saat ini setidaknya kita berikhtiar menjadi pelanduk yang cerdik. Secerdik kancil dalam dongeng masa kecil.