Pembelajaran Daring di Daerah Terpencil, Bagaimana Caranya?

Pembelajaran Daring di Daerah Terpencil, Bagaimana Caranya?
Sumber gambar: kumparan.com

MONDAYREVIEW.COM – Covid-19 membuat dunia pendidikan berpikir keras, bagaimana pembelajaran dapat terlaksana tanpa harus masuk kelas untuk tatap muka. Untungnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh. Terlepas dari sejauh mana efektifitas metode pembelajaran ini, namun pembelajaran jarak jauh menjadi pilihan paling realistis demi kesehatan dan keselamatan civitas sekolah.

Memasuki era normal baru, kemdikbud mengizinkan sekolah untuk membuka kembali kegiatan belajar secara tatap muka dengan berbagai aturan. Diantaranya, yang boleh melaksanakan kegiatan belajar di kelas hanya yang berada dalam zona hijau. Satu kelas tidak boleh diisi penuh oleh seluruh siswa, melainkan hanya setengahnya. Kantin tidak boleh buka, harus memakai masker, rutin mencuci tangan dengan hand sanitizer.

Adanya beragam batasan bagi pembelajaran secara tatap muka di era new normal, membuat kegiatan pembelajaran tidak mungkin dilaksanakan seperti sedia kala. Yang dimungkinkan adalah penggabungan antara pembelajaran jarak jauh dan tatap muka, yang disebut dengan blended learning. Blended learning mengharuskan peserta didik untuk menjalani pembelajaran tatap muka dan daring sekaligus. Misalnya satu minggu tatap muka, satu minggu berikutnya daring.

Sejak pertama kali pembelajaran jarak jauh diberlakukan, bagi peserta didik yang tinggal di daerah perkotaan tidak menemukan kendala yang berarti. Yang menjadi kesulitan di perkotaan biasanya ketersediaan kuota internet yang harus dibeli. Adapun mengenai sinyal internet, tidak akan menemui kendala berarti di perkotaan.

Bagi daerah yang sering disebut 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal), pelaksanaan kegiatan pembelajaran jarak jauh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kendala utama bagi daerah ini adalah sulitnya sinyal internet untuk didapat. Jikapun ada, tidak sekuat di daerah non 3T. Tentu juga ada daerah 3 T yang sudah mendapatkan sinyal, namun masih ada juga yang belum.

Selain soal sinyal, faktor ekonomi juga membuat pembelajaran jarak jauh menjadi sulit. Misalnya seorang guru yang bernama Ujang di Garut harus mendatangi rumah muridnya yang tidak memiliki HP dan televisi. Nasib serupa dialami Beni, seorang guru SD di Kalimantan Barat yang juga mengajar dengan mendatangi rumah siswanya. Hal ini dilakukan karena sulitnya akses internet. Dari total 116 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6, mungkin hanya sekitar 30 anak yang bisa mengakses internet.

Lantas adakah solusi yang bisa dilakukan guna menyelesaikan problem tersebut? Bagi tenaga pendidik yang berada pada kondisi tersebut, memanfaatkan fitur percakapan grup di Whatsapp (WA) atau bahkan SMS dapat menjadi solusi untuk tetap melaksanakan pendidikan jarak jauh. Penggunaan SMS sebagai media pembelajaran sudahdilakukan di banyak negara berkembang. Di Benua Afrika, Sudah Selatan dan Uganda sudah menggunakannya. Tenaga pendidik di Malaysia juga menggunakan SMS sebagai media pembelajaran daring.

Dengan menggunakan SMS, instruksi guru tetap dapat disampaikan dari jauh. Setelah itu, umpan baliknya dapat menggunakan telepon atau SMS juga.  Sebuah studi tahun 2017 dari Universitas Sains Malaysia menemukan bahwa salah satu daya tarik SMS bagi mahasiswa dan pelajar di daerah ruraladalah kemudahan pemakaiannya karena hanya berbasis teks. Riset lain menemukan bahwa penggunaan SMS sangat menolong pelajar yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah karena tidak membutuhkan biaya internet yang mahal.

Tentu saja penggunaan SMS bukan tanpa masalah. Pelajaran matematika agak sulit disampaikan melalui SMS. Saat SD kita mengenal penghitungan matematika dengan cara vertikal. Hal ini sulit dilakukan melalui SMS. Maka guru mesti mencoba metode menghitung lain dari metode penghitungan vertikal. Pemerintah juga harus memberikan subsidi pulsa sms kepada masyarakat yang tidak bisa mengakses internet.