Pendidik dan Riset

Pendidik dan Riset
ilustrasi kelas/ hai-online

MONDAYREVIEW.COM - Guru dan dosen adalah pendidik. Atau praktisi Pendidikan. Perannya sangat berarti bagi pendidikan. Mereka mendidik -tak hanya mengajar- untuk meningkatkan kualitas anak bangsa. Selain pengetahuan dan keterampilan moralitas dan kepribadian juga ditanamkan oleh para pendidik. Lebih dari itu para pendidik harus mampu menyasuaikan diri dengan berbagai hal baru yang berkembang dalam ekosistem pendidikan. Maka mereka harus melakukan riset untuk itu.

Penelitian atau riset juga menjaga agar cara pandang dan pendekatan berfikir para guru terjaga dalam koridor ilmu. Mengedepankan obyektifitas dalam bertugas. Dan memelihara semangat untuk maju dan tumbuh seiring perkembangan lingkungan pendidikan.

Sebagian pendidik mungkin menggemari penelitian sebagai bagian dari kerja ilmiahnya. Sebagian lainnya mungkin agak terpaksa untuk memenuhi berbagai syarat administratif yang mengharuskan pendidik untuk melaporkan kerja risetnya. Suka tak suka para pendidik harus mempelajari, mempraktikkan, dan mendekatkan dirinya dengan riset.

Bidang riset yang ditekuni biasanya seputar kurikulum, metode mengajar, teknologi pendidikan, motivasi murid, dan topik terkait mata pelajaran yang diampu seorang pendidik. Ketika kesadaran akan hadirnya era digital makin mengental maka topik-topik terkait teknologi informasi, digitalisasi, dan sejenisnya juga berkembang dalam riset para pendidik.

Sementara itu hambatan yang sering dihadapi adalah penguasaan metodologi riset. Tentu saja hal ini harus terus dicarikan solusinya. Dengan perkembangan teknologi digital saat ini materi seputar metodologi semakin banyak tersedia di kanal maya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus mengintensifkan penggunaan media daring dan media sosial untuk ‘menggenjot’ para pendidik dalam penguasaan metodologi penelitian.

Hal yang terpisahkan dari metodologi penelitian adalah penulisan laporan penelitian. Setidaknya para pendidik yang masih pemula dalam kerja riset mulai membiasakan diri untuk menulis esai ilmiah atau makalah berdasarkan kajian pustaka. Dengan cara ini para pendidik akan terbiasa dalam membedah teori dan analisis. Maka ketika mendesain dan melakukan penelitian pun sudah memiliki ‘pisau’ analisis dan bekal teoritis yang memadai.

Salah satu ranah riset yang aplikatif bagi para pendidik adalah penelitian tindakan kelas. Jika diandaikan dalam perusahaan mirip penelitian R&D yakni penelitian untuk menggali inovasi dalam suatu ekosistem atau institusi pendidikan. Sifatnya yang aplikatif akan mendorong para guru untuk ‘bekerja sambal meneliti’ sehingga prosesnya berlangsung sinergis dan manfaatnya terasa.

Jika setiap pendidik diberi kesempatan, dorongan, dan sumber daya informasi yang memadai untuk melakukan riset maka berbagai perbaikan dalam dunia pendidikan di Indonesia niscaya terjadi. Berbagai terobosan solutif bisa hadir. Dan para pendidik dapat menikmati hari-harinya sebagai pencerah kehidupan anak bangsa. Pun demikian dengan para peserta didiknya.

Dengan meneliti para pendidik akan terus belajar dan mengembangkan wawasannya. Berbagai inovasi dalam proses pembelajaran dan pendidikan akan semakin terasa. Bukan menjadikan riset sebagai beban dan ornamen administratif untuk mengejar kenaikan pangkat. Bukan pula sekedar menunjukkan