Penerapan Teknologi dalam UMKM Pangan

Penerapan Teknologi dalam UMKM Pangan
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati WIbawaningsih di Jakarta, Kamis (26/11/2020). ANTARA/HO-Kemenperin/pri.

MONDAYREVIEW.COM – Industri pangan merupakan salah satu sektor bisnis yang cukup tangguh dalam menghadapi covid-19. Di saat banyak industry yang kolaps akibat pandemic, produksi dan konsumsi pangan selama pandemic tetap berjalan. Hal ini menyebabkan industry ini bisa bertahan dalam situasi pandemic. Industri pangan di Indonesia sudah sangat tumbuh berkembang. Namun dalam kegiatan produksi masih banyak yang belum memaksimalkan teknologi. Hal ini perlu didorong agar industry pangan bisa memanfaatkan teknologi sebagai bentuk inovasi untuk bisa meraih keuntungan dan efisiensi dalam produksi.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendampingi industri kecil dan menengah (IKM) dalam bertransformasi digital, sehingga mampu mengimplementasikan teknologi industri 4.0 dalam produksinya guna meningkatkan daya saing, mendongkrak produktivitas, serta efisiensi biaya, energi, dan waktu. Menurut Dirjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin Geti Wibawaningsih, bukti nyata implementasi menuju industri 4.0 yang dilakukan sektor IKM, salah satunya adalah inovasi mesin penggoreng keripik tempe yang dimanfaatkan oleh IKM keripik tempe Sanan di Malang oleh startup Tempeniza.

Ia menjelaskan Malang dikenal sebagai salah satu kota penghasil tempe dengan sentra keripik tempe Sanan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Sebelum pandemi, sentra keripik tempe di Malang ini mampu menampung lebih dari 500 pelaku IKM tempe, dengan sirkulasi per hari mencapai Rp1 miliar dan kapasitas produksi bisa mencapai 30 ton dalam sehari.

Gati mengemukakan mesin konveyor penggoreng keripik tempe ini merupakan jawaban permasalahan sentra keripik tempe Sanan yang diangkat pada hackathon kompetisi Startup4indusry tahun 2019. Sentra keripik tempe Sanan membutuhkan peningkatan produktivitas dan terdapat permasalahan terkait dengan terbatasnya tenaga kerja berpengalaman. Inovasi mesin konveyor ini mampu memberikan hasil yang lebih cepat dengan jumlah yang banyak, dan keterampilan yang mudah dipelajari.

Proyek implementasi industri 4.0 di IKM, kata Gati, dapat dimulai dengan peningkatan teknologi produksi dengan menggunakan kontrol otomasi sehingga kualitas produk dapat terjaga. Pihaknya kemudian membuat proyek percontohan untuk implementasi alat penggoreng keripik tempe di Malang oleh Tempeniza selaku pelaku usaha rintisan. Proyek percontohan ini berlangsung sejak 29 September 2020 dan dikerjakan sesuai spesifikasi yang sudah disusun sesuai kebutuhan, kemudian diujicobakan melalui kerja sama dengan IKM binaan Dinas Industri dan Perdagangan Kota Malang dan dilanjutkan dengan serah terima ke IKM keripik tempe Sanan, Malang.

Tempeniza merupakan pemenang Startup4industry tahun 2019 dan merupakan salah satu produsen mesin berbagai kebutuhan pengolahan tempe dengan mengedepankan teknologi yang efisien dan terjangkau bagi IKM tempe Indonesia. Perusahaan startup tersebut membuat mesin pengolah berbagai macam proses pengolahan tempe dengan teknologi tepat guna yang terjangkau, hemat energi, efektif dan efisien.

Tempeniza juga menghadirkan solusi mengatasi masalah pengusaha tempe skala rumahan dengan merintis perusahaan mesin pengolah tempe higienis berdaya listrik rendah dan dijual dengan harga yang lebih ekonomis. Adapun keunggulan mesin goreng keripik tempe antilengket yang dibuat Tempeniza, antara lain memangkas biaya operasional, menghindari kelengketan dalam penggorengan tahap pertama, minim pecah atau hancur pada saat menggoreng, serta memberikan bentuk keripik yang bulat dengan kematangan lebih merata.

Adapun spesifikasi mesin penggoreng keripik tempe conveyor ini adalah dimensi 150x80x60 cm, kapasitas menghasilkan 1 kg keripik dalam waktu 1 jam, daya 220 watt, pemanas dengan kompor infrared bunner, pengoperasin semi otomatis dilengkapi dengan thermo control dan speed control, serta menggunakan material foodgrade.

Inovasi pengolahan tempe di Malang ini merupakan praktik baik bagaimana teknologi dapat membantu meningkatkan produktifitas UMKM pangan. Hal ini mestinya bisa menjadi contoh dan diterapkan bagi industry pangan lainnya.