Penggunaan Teknologi Hadapi Pandemi (Bagian 2)

Penggunaan Teknologi Hadapi Pandemi (Bagian 2)
ilustrasi aplikasi/net

MONITORDAY.COM – Tidak mudah melewati hari-hari yang penuh tekanan. Memerangi pandemi seserius COVID-19 membutuhkan respons cepat. Semakin lambat semakin riskan. Para pemimpin dan pejabat kesehatan masyarakat telah melirik beberapa strategi paling radikal yang tersedia.

Di saat wabah pertimbangan keselamatan papasien dan tenaga kesehatan sama-sama penting. Pilihan-pilihan sulit harus diambil untuk mendapatkan hasil yang paling optimal. Serba dilematis bagai makan buah simalakama.

Teknologi menjadikan kita hidup bagai tanpa sekat. Apa yang terjadi di berbagai penjuru dunia segera dapat kita ketahui.  Berita lockdown atau karantina total satu kota di Cina dengan cepat meluas ke karantina seluruh provinsi kita akses beberapa saat setelah peristiwa tersebut terjadi.

Hampir seluruh negara termasuk Italia akan dan telah menerapkan isolasi sosial dan jam malam.  Itu salah satu cara paling efektif untuk memutus rantai penularan virus, beberapa ahli kesehatan mengatakan mungkin saja tindakan kejam ini tidak harus menjadi fenomena global.

Kunci untuk respons awal terletak pada upaya yang ekstra. Lebih dari sekedar strategi yang sudah berusia berabad-abad dan menggabungkan metode yang akrab bagi hampir setiap industri mulai dari perbankan hingga ritel hingga manufaktur, tetapi itu masih lambat untuk diadopsi dalam kesehatan masyarakat.

Aplikasi ponsel cerdas, analisis data, dan kecerdasan buatan membantu pelacakan dan perawatan orang dengan penyakit menular jauh lebih efisien daripada sebelumnya.

Konektivitas adalah amunisi untuk memerangi pandemi ini dengan cara baru. Membangunnya akan sangat penting untuk memastikan bahwa wabah berikutnya agar tidak meledak dari epidemi menjadi pandemi global.

Pasien dapat terhubung dari jarak jauh melalui aplikasi ke dokter yang dapat menentukan gejala mereka saat mereka masih di rumah. Setidaknya itu kita lihat dalam beberapa aplikasi yang sudah ada.

Konsultasi jarak jauh ini dapat mengurangi risiko bagi para tenaga kesehatan. Tanpa kontak langsung mereka dapat menentukan perlu tidaknya pasien mendapatkan tes untuk mendeteksi infeksi Virus.

Sementara itu untuk aplikasi pelacakan mobilitas dan kontak individu telah dirilis Kementarian Komunikasi dan Informasi. Menurut situs terkait PeduliLindungi adalah aplikasi yang dikembangkan untuk menghentikan penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19).

Aplikasi ini melindungi diri kita, keluarga kita, dan orang terdekat lainnya, serta menghentikan penyebaran COVID-19 dengan mengandalkan partisipasi masyarakat untuk saling membagikan data lokasinya saat bepergian agar penelusuran riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dapat dilakukan.

PeduliLindungi menggunakan data yang diproduksi oleh gadget kita dengan bluetooth aktif untuk merekam informasi yang dibutuhkan. Ketika ada gadget lain dalam radius bluetooth yang juga terdaftar di PeduliLindungi, maka akan terjadi pertukaran id anonim yang akan direkam oleh gadget masing-masing.

PeduliLindungi selanjutnya akan mengidentifikasi orang- orang yang pernah berada dalam jarak dekat dengan orang yang dinyatakan positif COVID-19 atau PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan ODP (Orang Dalam Pemantauan). Hal ini akan sangat membantu ketika orang tersebut tidak dapat mengingat riwayat perjalanan dan dengan siapa saja dia melakukan kontak.

PeduliLindungi sangat memperhatikan kerahasiaan pribadi kita. Data kita disimpan aman dalam format terenkripsi dan tidak akan dibagikan kepada orang lain. Data kita hanya akan diakses bila kita dalam risiko tertular COVID-19 dan perlu segera dihubungi oleh petugas kesehatan.

Jika kita pernah berada di tempat yang dekat dengan kasus COVID-19 positif, baik kita tahu ataupun tidak tahu orangnya, PeduliLindungi membantu petugas kesehatan untuk menghubungi kita lebih cepat. dengan begitu, lebih cepat juga menghentikan penularan COVID-19, sehingga kita bisa melindungi orang-orang yang tercinta di sekitar kita.