Perdamaian, Pandemi dan Kemerdekaan

Perdamaian, Pandemi dan Kemerdekaan
Sumber gambar: antaranews.com

MONDAYREVIEW.COM – Tiga kata yang menjadi judul tulisan ini merupakan kata kunci dari pidato yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam Sidang Majelis Umum Persyarikatan Bangsa-bangsa (PBB). Presiden menyampaikan secara langsung pidatonya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dalam sidang-sidang sebelumnya, Presiden Jokowi selalu diwakilkan oleh Jusuf Kalla sebagai wakil presiden. Baru pada tahun ini Presiden tidak menunjuk Kiai Makruf Amin untuk berpidato melainkan menyampaikannya sendiri.

Tiga hal yang disampaikan presiden di hadapan banyak pemimpin negara tersebut merupakan hal yang penting dan relevan bagi dunia saat ini. Presiden masih melihat adanya rivalitas dan pertentangan dalam kondisi pandemic ini. Yang bisa kita lihat dengan mudah adalah antara Amerika Serikat dengan Republik Rakyat China. Hal ini menurut presiden sebuah persaingan yang kontra-produktif bagi perdamaian dunia. Seharusnya dalam kondisi pandemi, negara-negara dunia membangun sebuah solidaritas dan perdamaian. Pandemi merupakan sebuah masalah berat yang menimpa negara-negara, jangan ditambah dengan konflik yang semakin merunyamkan kondisi.

Presiden dalam pidatonya juga menyinggung Bung Karno dan Dasa Sila Bandung yang merupakan hasil dari konferensi Asia Afrika. Spirit dari Dasa Sila Bandung adalah persamaan kedudukan antar negara-negara. Presiden juga dengan tegas menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina. Dukungan presiden ini cukup bermakna mengingat dalam beberapa waktu ini Uni Emirat Arab dan Bahrain menyatakan diri menjalin persahabatan dengan Israel. Dukungan terhadap Palestina juga disampaikan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di hadapan sidang Majelis Umum PBB.

Dalam pidatonya, Jokowi menyampaikan tiga poin pemikiran:

Pertama, PBB harus senantiasa berbenah diri melakukan reformasi, revitalisasi dan efisiensi. PBB harus dapat membuktikan bahwa multilateralism delivers termasuk pada saat terjadinya krisis. PBB harus lebih responsif dan efektif dalam menyelesaikan berbagai tantangan global. Dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat PBB agar PBB tetap relevan dan semakin kontributif sejalan dengan tantangan zaman. PBB bukanlah sekedar sebuah gedung di kota New York tapi sebuah cita-cita dan komitmen bersama seluruh bangsa untuk mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan bagi generasi penerus. Indonesia memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap PBB dan multilateralisme. Multilateralisme adalah satu-satunya jalan yang dapat memberikan kesetaraan.

Kedua, collective global leadership harus diperkuat. Kita paham bahwa dalam hubungan antar negara, dalam hubungan internasional, setiap negara selalu memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

Namun jangan lupa, kita semua memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi menjadi bagian dari solusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan dunia. Di sinilah dituntut peran PBB untuk memperkokoh collective global leadership. Dunia membutuhkan spirit kolaborasi dan kepemimpinan global yang lebih kuat untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.

Ketiga, kerja sama dalam penanganan COVID-19 harus kita perkuat, baik dari sisi kesehatan, maupun dampak sosial ekonominya. Vaksin akan menjadi game changer dalam perang melawan pandemi.

Kita harus bekerja sama untuk memastikan, bahwa semua negara mendapatkan akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga terjangkau. Untuk jangka panjang tata kelola ketahanan kesehatan dunia harus lebih diperkuat. Ketahanan kesehatan dunia yang berbasis pada ketahanan kesehatan nasional akan menjadi penentu masa depan dunia. Dari sisi ekonomi. reaktivasi kegiatan ekonomi secara bertahap harus mulai dilakukan dengan melakukan koreksi terhadap kelemahan-kelemahan global supply chain yang ada saat ini. Aktivasi ekonomi harus memprioritaskan kesehatan warga dunia. Dunia yang sehat dunia yang produktif harus menjadi prioritas kita. Semua itu dapat tercapai jika semua bekerja sama bekerja sama dan bekerja sama.