Perebutan Wilayah Armenia Vs. Azerbaijan

Perebutan Wilayah Armenia Vs. Azerbaijan
Para warga menghadiri pertemuan di Yerevan, Armenia, Minggu (27/9/2020), yang ditujukan untuk merekrut tentara sukarela setelah otoritas Armenia menyatakan darurat militer dan mengerahkan penduduknya yang laki-laki, pascabentrokan dengan Azerbaijan menyangkut pemisahan wilayah Nagorno-Karabakh. ANTARA/Photolure via REUTERS

MONDAYREVIEW.COM – Di saat dunia sedang fokus untuk mengatasi pandemi, Armenia dan Azerbaijan malah terlibat dalam konflik bersenjata guna memperbutkan wilayah Nagorno Karabakh yang telah lama menjadi sumber sengketa. Dua negara tersebut mengajak sekutunya untuk mendukung peperangan. Di belakang Armenia ada Rusia dan Iran. Sementara di belakang Azerbaijan ada Turki. Armenia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik. Sementara Azerbaijan mayoritas penduduknya adalah muslim syiah. Menarik bahwa negara yang mayoritas penduduknya Syiah yakni Iran malah mendukung Armenia. Sedangkan Turki yang mayoritas penduduknya muslim Sunni mendukung Azerbaijan.

Perang terjadi sejak Minggu (27/9/2020). Peperangan yang hingga kini terjadi telah memakan korban jiwa hampir 100 orang. PBB mengecam terjadinya perang ini dan mengimbau dua negara tersebut agar segera menghentikannya. PBB juga mengecam jatuhnya korban dari kalangan sipil yang tidak bersalah. Beredar sebuah video serangan Azerbaijan dengan drone yang berhasil meledakkan sebuah truk dan juga mengenai banyak tentara Armenia yang sedang berkumpul.

Sebenarnya konflik tersebut mempunyai sejarah panjang, yakni sejak tahun 1990. Nagorno-Karabakh berada di dalam teritori Azerbaijan tetapi ia dijalankan oleh etnis Armenia. Saat Uni Soviet runtuh, Nagorno-Karabakh adalah wilayah mayoritas etnis Armenia namun Kremlin yang memegang kendali memberikan wilayah itu pada otoritas Azerbaijan Ini membuat dorongan memisahkan diri terjadi di mana Nagorno-Karabakh ingin membuat negara sendiri. Perbedaan mayoritas Nagorno-Karabakh yang Kristen dan Azerbaijan yang Muslim semakin memperkeruh persoalan.

Armenia pun mendukung kelompok yang bersitegang dengan Azerbaijan sehingga menimbulkan konflik. sementara Azerbaijan berusaha untuk menekan gerakan separatis. Kedua negara tersebut perang berdarah di wilayah yang sama pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Puluhan ribu orang tewas dan hingga satu juta orang mengungsi di tengah laporan pembersihan etnis dan pembantaian yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

Pasukan Armenia menguasai Nagorno-Karabakh sebelum gencatan senjata yang ditengahi Rusia pada 1994. Namun kesepakatan damai akhirnya dibuat dengan ditengahi Rusia. Nagorno-Karabakh tetap menjadi bagian dari Azerbaijan. Namun realitanya kelompok kemerdekaan setempat membentuk republik dan mendeklarasikan negara sendiri, dijalankan oleh etnis Armenia dan didukung oleh pemerintah Armenia.

Perundingan damai juga telah berlangsung, dengan dimediasi oleh Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) Minsk Group. Ini adalah sebuah badan yang dibentuk pada tahun 1992 dan diketuai oleh Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat (AS). Namun sejauh ini perjanjian damai belum ditandatangani. Bentrokan terus berlanjut selama tiga dekade terakhir, dengan gejolak serius terakhir pada tahun 2016, ketika puluhan tentara di kedua negara tewas.

Konflik tersebut diperkeruh dengan Turki dan Rusia yang ikut campur mendukung kedua negara. Turki tidak mempunyai hubungan diplomatic dengan Armenia. Sementara Rusia berhubungan baik dengan Armenia. Saat ini kedua kubu masih belum mau berdamai. Hal ini menjadi ancaman mengingat jalur pipa gas untuk pasokan pasar dunia melewati daerah tersebut. Perlu ada mediator yang menawarkan resolusi konflik guna menghentikan kekerasan dari dua negara tersebut.