Pergerakan Rupiah dan IHSG Pasca Demo UU Ciptaker

Pergerakan Rupiah dan IHSG Pasca Demo UU Ciptaker
ilustrasi Rupiah dan USD/ Antara

MONDAYREVIEW.COM – Situasi ekonomi makro Indonesia cenderung stabil pada awal pekan ini. Meski pekan kemarin dilanda demonstrasi di beberapa daerah terkait UU Cipta Kerja kondisi keamanan berangsur normal. Situasi ini menggambarkan psikologi pasar yang lebih tenang dalam menghadapi dinamika politik di dalam negeri.  

Pekan ini pantauan pergerakan Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan tipis. Faktor internal pelonggaran PSBB mendongkrak Rupiah dan IHSG. Dari dalam negeri, PSBB DKI Jakarta kembali dilonggarkan menjadi PSBB transisi. Hal ini merupakan sentimen baik untuk pasar dengan mulai beroperasinya kembali mall, tempat wisata dan restoran yang sudah diizinkan untuk makan di tempat (dine-in).

Sementara faktor eksternal sembuhnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari COVID-19 memperkuat pasar Negeri Paman Sam. Dollar AS relatif semakin perkasa berhadapan dengan mata uang negara-negara lainnya.  

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak menguat 12 poin atau 0,09 persen menjadi Rp14.688 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.700 per dolar AS. Bergerak menguat seiring dengan pelonggaran kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta. ​​​Demikian pendapat Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra.

Tapi di sisi lain, lanjut Ariston, pasar mewaspadai isu penerimaan UU Cipta Kerja yang masih berpotensi demo. Mempertimbangkan hal tersebut, ia memprediksi penguatan rupiah kemungkinan tidak besar.
Sementara itu dari eksternal, pasar masih memantau perkembangan pembicaraan stimulus AS yang masih mandek.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan diprediksi bergerak positif seiring diterapkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di DKI Jakarta.

IHSG dibuka menguat 24,47 poin atau 0,48 persen ke posisi 5.078,13. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,91 poin atau 0,77 persen ke di posisi 777,68.

Pasar AS akhir pekan lalu mencatatkan kenaikan. Dari AS, sentimen yang dapat diperhatikan diantaranya kondisi kesehatan presiden Donald Trump yang dikabarkan sudah mulai membaik dan kesepakatan stimulu.

Donald Trump pada hari Jumat (9/10) lalu menaikkan pengajuan anggaran menjadi 1,8 triliun dolar AS dari sebelumnya 1,6 triliun dolar AS untuk dinegosiasikan dengan Partai Demokrat yang mengesahkan tagihan sebesar 2,2 triliun.

Pada Minggu (11/10) kemarin, Gubernur The Fed Jerome Powell mendesak kongres untuk mengeluarkan lebih banyak stimulus fiskal dan bila diperlukan akan kembali menggelar pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing).

Sentimen dari dalam negeri yang bisa diperhatikan pekan ini diantaranya penetapan suku bunga Bank Indonesia dan rilis indeks keyakinan bisnis.

Dimana perubahan suku bunga BI 7DRR (Seven Days Repo Rate) dapat mempengaruhi nilai tukar. Mekanisme ini sering disebut jalur nilai tukar. Kenaikan BI 7DRR, sebagai contoh, akan mendorong kenaikan selisih antara suku bunga di Indonesia dengan suku bunga luar negeri. Dengan melebarnya selisih suku bunga tersebut mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrument-instrumen keuangan di Indonesia seperti SBI karena mereka akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Aliran modal masuk asing ini pada gilirannya akan mendorong apresiasi nilai tukar Rupiah. Apresiasi Rupiah mengakibatkan harga barang impor lebih murah dan barang ekspor kita di luar negeri menjadi lebih mahal atau kurang kompetitif sehingga akan mendorong impor dan mengurangi ekspor. Turunnya net ekspor ini akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian.

Perubahan suku bunga BI 7DRR mempengaruhi perekonomian makro melalui perubahan harga aset. Kenaikan suku bunga akan menurunkan harga aset seperti saham dan obligasi sehingga mengurangi kekayaan individu dan perusahaan yang pada gilirannya mengurangi kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti konsumsi dan investasi.

Dampak perubahan suku bunga kepada kegiatan ekonomi juga mempengaruhi ekspektasi publik akan inflasi (jalur ekspektasi). Penurunan suku bunga yang diperkirakan akan mendorong aktifitas ekonomi dan pada akhirnya inflasi mendorong pekerja untuk mengantisipasi kenaikan inflasi dengan meminta upah yang lebih tinggi. Upah ini pada akhirnya akan dibebankan oleh produsen kepada konsumen melalui kenaikan harga.