Pergerakan Saham, Emas dan Minyak Mentah Jelang Pilpres AS

Pergerakan Saham, Emas dan Minyak Mentah Jelang Pilpres AS
emas batangan/ Antara

MONDAYREVIEW.COM – Geliat ekonomi dunia terutama di Amerika Serikat cukup menebar optimism pasar. Hampir pada saat yang sama indeks Wallstreet menguat bersamaan dengan penguatan tipis emas dan minyak mentah. Walau ditahan oleh pergerakan harga saham, nilai emas tetap menguat.

Emas berjangka naik tipis pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), ketika ketidakpastian seputar pemilihan presiden AS dan spekulasi bahwa stimulus baru akan mendorong inflasi mengimbangi tekanan pada emas dari dolar yang lebih tinggi dan meningkatnya selera terhadap aset-aset berisiko.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, menguat 4,3 dolar AS atau 0,23 persen menjadi ditutup pada 1.895,10 dolar AS per ounce, menghentikan kerugian selama dua hari berturut-turut.

Emas juga mendapat dukungan setelah sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (8/10/2020) menunjukkan bahwa klaim pengangguran awal AS turun hanya 9.000 menjadi 840.000 pada pekan yang berakhir 3 Oktober, lebih tinggi dari yang diperkirakan 820.000.

Sementara itu saham-saham dunia menuju ke level tertinggi satu bulan karena harapan untuk lebih banyak stimulus mengimbangi meningkatnya jumlah kasus virus corona dan lockdown di Eropa, yang pada gilirannya membatasi kenaikan harga emas.

Tapi, emas masih melonjak 24 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh stimulus pemerintah dan bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia untuk menghidupkan kembali ekonomi karena dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan perlindungan yang aman selama ketidakpastian ekonomi dan politik.

Harga minyak naik pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), terangkat oleh gangguan produksi di Teluk Meksiko akibat Badai Delta, pengurangan pasokan karena pemogokan di industri minyak Norwegia, serta kemungkinan pengurangan pasokan dari Arab Saudi.

Pergerakan Minyak Mentah

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember naik 1,35 dolar AS atau 3,2 persen, menjadi menetap di 43,34 dolar AS, setelah jatuh 1,6 persen pada Rabu (7/10/2020).

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) terangkat 1,24 dolar AS atau 3,1 persen, menjadi ditutup di 41,19 dolar AS per barel setelah jatuh 1,8 persen sehari sebelumnya.

Minyak juga mendapat dukungan dari prospek penutupan produksi yang lebih banyak di Laut Utara karena pemogokan pekerja. Perusahaan minyak dan pejabat tenaga kerja mengatakan mereka akan bertemu dengan mediator yang ditunjuk negara pada Jumat dalam upaya kedua belah pihak berharap akan mengakhiri pemogokan yang mengancam memotong produksi minyak dan gas Norwegia sekitar 25 persen.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah ditantang oleh peningkatan produksi di Libya, anggota OPEC yang dibebaskan dari pemotongan produksi, serta peningkatan kasus virus corona di banyak wilayah di dunia.

Pasar naik tajam pada siang hari ketika laporan Dow Jones mengatakan Arab Saudi sedang mempertimbangkan untuk berbalik arah atas rencana peningkatan produksi OPEC awal tahun depan.

Dua hari setelah membatalkan negosiasi tentang RUU yang komprehensif, Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News mengatakan pembicaraan dengan Kongres telah dimulai kembali tentang bantuan COVID-19 berikutnya dan ada peluang kesepakatan dapat dicapai. Namun dia tidak memberikan rincian lain tentang kemungkinan kesepakatan.

Sementara perdagangan sore hari berombak, indeks menambah keuntungan setelah juru bicara Gedung Putih mengatakan Trump menginginkan RUU bantuan virus corona yang "ramping".

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi mengatakan undang-undang untuk membantu maskapai penerbangan adalah masalah keamanan nasional dan hanya dapat bergerak melalui Kongres dengan jaminan melanjutkan pekerjaan kesepakatan komprehensif.

Pakar strategi mengatakan investor juga mulai mempertimbangkan prospek calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden memenangkan pemilihan 3 November.

Biden tampaknya memimpin atas Trump di antara kemungkinan pemilih di Florida dan keduanya terjebak dalam persaingan ketat di Arizona, menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada Rabu (7/10).

Sementara itu saham International Business Machines Corp (IBM) melonjak 6,0 persen setelah mengatakan akan memecah perusahaan menjadi dua perusahaan publik, mengkahiri upaya selama bertahun-tahun untuk melakukan diversifikasi dari bisnis lama guna fokus pada komputasi awan yang bermargin tinggi.