Perguruan Tinggi, Platform Belajar Online dan Kampus Merdeka

Perguruan Tinggi, Platform Belajar Online dan Kampus Merdeka
Sumber gambar: antaranews.com

MONDAYREVIEW.COM – Era disrupsi tidak hanya terjadi dalam bidang bisnis, dunia pendidikan pun turut mengalami disrupsi. Salah satu bentuk disrupsi nyata yang kita alami adalah menjamurnya platform belajar online di dunia maya. Hari ini saat kita ingin menguasai suatu hal, tak perlu repot-repot untuk mendaftar dalam kelas formal di dunia nyata. Cukup kita mengakses beragam modul dan kursus di dunia maya. Platform seperti coursera, skill academy, ruang guru, zenius membuat kesempatan belajar menjadi sangat mudah pada hari ini.

Lantas bagaimanakah nasib lembaga pendidikan konvensional menghadapi disrupsi pendidikan? Bagaimana juga disrupsi pendidikan kaitannya dengan program kampus mereka yang dicanangkan pemerintah? Salah satu poin penting dalam konsep #KampusMerdeka yang diperkenalkan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim pada awal tahun ini adalah diizinkannya mahasiswa untuk menempuh pembelajaran hingga tiga semester di luar program studi.

Bentuk pembelajaran luar kampus ini beragam, mulai dari magang, proyek sosial, hingga membangun bisnis. Namun, salah satu bentuk yang juga diizinkan dalam Buku Panduan Penyusunan Kurikulum Kampus Merdeka yang selama ini belum banyak dibahas adalah pengambilan kelas secara online. Pembelajaran di luar program studi ala Kampus Merdeka melalui pengambilan kelas online menawarkan kebebasan pada mahasiswa dalam memilih beragam materi yang ditawarkan baik dari kampus sendiri, kampus lain, maupun dari dunia industri, cukup dari rumah - suatu hal yang ideal dilakukan semasa pandemi COVID-19.

Menurut Elisabeth Rukmini akademisi dari Universitas Katolik Atma jaya, cara terbaik bagi universitas untuk memfasilitasi hal ini adalah dengan menggandeng platform yang menyediakan kelas daring secara masif dan terbuka atau yang dikenal dengan istilah Massively Open Online Courses atau MOOC. Beberapa contoh platform MOOC yang ternama di dunia, misalnya, adalah Coursera yang didirikan beberapa profesor dari Stanford University di Amerika Serikat (AS). Ada juga EdX buatan Harvard University dan MIT yang juga di AS.

Sementara untuk kelas berbahasa Indonesia di antaranya banyak terdapat di MOOC yang dibangun oleh Universitas Terbuka atau misalnya platform kelas online yang dikelola swasta, Indonesia X. Berikut beberapa pelajaran terkait skema kolaborasi yang telah dilakukan kampus, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Unika Atma Jaya) dengan Coursera.

Skema kolaborasi kampus-MOOC untuk mendukung Kampus Merdeka

Unika Atma Jaya menjalin kontrak dengan Coursera melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mereka dari Juni hingga September 2020. Melalui Coursera, mahasiswa kami bisa mengakses lebih dari 4.500 kelas online bersertifikasi - yang bila dihitung secara kasar, kurang lebih setara dengan total 67.500-180.000 jam pembelajaran atau 1.600-4.250 SKS - di platform mereka secara gratis selama 5 bulan. Bandingkan jumlah ini dengan program studi S1 di Indonesia yang sesuai Standar Nasional Pendidikan memiliki beban 144 SKS selama 8 semester

Pada akhir masa kerja sama, tercatat seluruh mahasiswa kami yang berpartisipasi mendaftar sebanyak 6.579 kelas online dengan total 20.142 jam belajar. Di Coursera sendiri terdapat berbagai kelas yang disediakan oleh kampus ternama seperti Stanford University dan juga perusahaan teknologi seperti IBM. Di EdX, ada kelas dari Harvard University, Sorbonne University di Prancis, hingga University of Queensland di Australia. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengkonversi berbagai kelas online yang diambil mahasiswa di platform MOOC untuk diadopsi ke dalam sistem nilai yang diterapkan di kampus.

Untungnya, Buku Panduan Kampus Merdeka menyediakan jalan keluar, yakni dengan menyesuaikan apa yang disebut dengan kriteria atau “capaian pembelajaran lulusan” (CPL). Seorang dosen bisa menyesuaikan suatu modul online yang diambil mahasiswa untuk mengganti nilai tugas atau nilai mata kuliah sepenuhnya. Namun, lebih baik lagi apabila ini dilakukan secara sistemik dengan mendaftarkan secara resmi modul mana saja dalam MOOC untuk menggantikan mata kuliah yang ada.

Misalnya, mahasiswa kami yang mengambil kelas dari Rice University di Texas, AS berjudul “General Chemistry”, apabila lulus bisa mengkonversikan nilainya untuk digunakan sebagai nilai UTS mata kuliah Kimia Dasar. Dalam hal ini, konversi modul MOOC tersebut setara dengan 1,5 SKS Kimia Dasar. Karena kolaborasi ini juga sifatnya satu universitas, pengambilan mata kuliah di luar program studi menjadi lebih mudah dilakukan secara online.

Mahasiswa di program studi yang terkait teknik, misalnya, dapat menyelesaikan mata kuliah terkait machine learning di Program Studi Sistem Informasi dengan cara mengambil suatu kelas online dengan topik serupa di platform MOOC yang capaian pembelajarannya sudah disesuaikan.