Perjuangan Seniman Untuk Bertahan di Tengah Pandemi

Perjuangan Seniman Untuk Bertahan di Tengah Pandemi
Seorang seniman di Yogyakarta membuat lukisan sebagai bentuk apresiasi pada tenaga medis di masa pandemi Covid-19 Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/321115/seniman-mengasah-kreativitas-di-tengah-pandemi/ANTARA

MONDAYREVIEW.COM – Dunia seni merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak oleh pandemi covid-19. Hal ini karena kebijakan penanganan pandemi berupa PSBB membuat mata pencaharian para seniman terganggu. Bagaimana tidak, para seniman mendapatkan penghidupan dari menyanyi dari café ke café. Adanya pandemic membuat café mesti ditutup. Kalaupun buka jumlah pengunjungnya tak seramai sebelum pandemi. Begitupun seniman dalam bidang lain seperti seni lukis dan rupa. Pandemi membuat mereka tidak mungkin mengadakan pameran.

Survei dari Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) di pertengahan tahun ini yang melibatkan 139 pekerja di berbagai industri seni, misalnya, menunjukkan hilangnya pendapatan di sektor kreatif. Hampir 50% responden menyatakan kehilangan potensi pendapatan Rp 5-30 juta sepanjang Maret hingga Juli, dan memaksa 41,6% responden untuk menguras tabungan pribadi.

Tommy Soesmanto, dosen ekonomi dan bisnis di Griffith University, Australia menjelaskan situasinya pada industri musik. Meskipun pendapatan dari penjualan musik tidak terlalu terdampak karena produksinya masih bisa dilakukan selama pembatasan sosial, pendapatan akibat konser turun secara drastis. Tapi arus lainnya yang melambangkan 50% dari total pendapatan, adalah konser, penampilan, festival, dan lainnya. Bahkan, pada beberapa wawancara musisi yang saya lihat, musisi di Indonesia 70-80% pendapatannya dari konser.

Tidak hanya bicara artis ternama, tapi juga musisi skala kecil dan mereka yang manggung di kafe dan pernikahan, imbasnya signifikan. Selain itu juga kru produksi, teknisi suara, dampaknya pada mereka bahkan lebih besar. Sebagian besar dari pekerja seni ini adalah anak muda - salah satu demografi yang paling rawan terkena dampak ekonomi dari pandemi COVID-19.

Pada tahun 2016, data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menunjukkan hampir tiga perempat dari total jumlah pekerja kreatif di Indonesia merupakan Generasi Y dan Z. Proporsi terbesarnya, yakni 26,31% berusia 25-34 tahun.

Harriman Saragih, dosen pemasaran dan bisnis di Universitas Prasetya Mulya di Jakarta, mengatakan kondisi ini memaksa pekerja kreatif muda di Indonesia untuk mengasah naluri bisnis dan memperhatikan dengan lebih serius arus pendapatan dari karya mereka.

Yang pada awalnya mata pencahariannya hanya dari musik, atau hanya menulis di industri literatur, atau misal di seni pertunjukan seperti menari, juga harus mencari bentuk media lain seperti pindah ke daring supaya tetap mempertahankan arus pendapatan mereka.

Pandemi ini memaksa pelaku kreatif ini menjadi enterpreneurial artists (seniman berjiwa bisnis). Harriman mengatakan dalam produksi karya seni, pekerja kreatif terbagi berdasarkan bagaimana mereka memandang pasar. Biasanya kubu seni terbagi menjado dua ekstrim. Ekstrim yang pertama yang super idealis dengan seninya, dan yang kedua sekadar mengikuti pasar saja.

Saat dilanda pandemi mereka harus menggunakan kemampuan wirausahanya tidak hanya satu lini pendapatan saja, tapi juga lini pendapatan yang lain. Di sini mereka menjadi enterpreneurial artists, mengasimilasi kebutuhan pasar dan apa yang jadi kemampuan seninya supaya tidak hanya terjebak idealisme. Salah satu cara melakukan ini adalah dengan memanfaatkan berbagai platform digital.

Pekerja kreatif muda, menurut Tommy, dalam hal ini dapat melakukannya dengan mudah karena sifat mereka yang “internet savvy atau melek internet. Musisi Danilla Riyadi, misalnya, sejak pandemi COVID-19 semakin banyak mengandalkan pemasukan dari endorsement atau pesan sponsor melalui akun instagramnya.

Selain memperluas usaha kreatif mereka, seniman muda yang terdampak pandemi COVID-19 juga mulai mendayagunakan berbagai platform urun dana atau “crowdfunding”. Karyakarsa sendiri merupakan startup crowdfunding yang didirikan pada Oktober tahun lalu.

Dengan mencontoh konsep dari Patreon, yakni platform serupa yang sudah terlebih dulu terkenal di dunia, Karyakarsa menyediakan tempat bagi pekerja kreatif untuk menjual komik, animasi, musik, dan karya lainnya dengan berbagai paket seperti merchandise dan konten eksklusif mulai dari Rp 10.000.