Perkembangan Proyek Konstruksi Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Perkembangan Proyek Konstruksi Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Sumber gambar: antaranews.com

MONDAYREVIEW.COM – Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung merupakan kerja sama Indonesia-China dalam bidang infrastruktur. Proyek ini dimulai pada masa pemerintahan Jokowi periode pertama. Proyek ini merupakan wujud nyata komitmen Jokowi untuk membangun infrastruktur. Pada mulanya proyek ini mengalami kontroversi karena memilih China sebagai mitra kerja sama. Jepang sebagai salah satu negara sahabat Indonesia menganggap dirinya lebih pantas untuk membangun proyek ini dibanding China. Hal ini karena Jepang dinilai lebih bagus secara kualitas. Namun Indonesia lebih memilih China dengan alasan lebih menguntungkan secara ekonomis. Lantas bagaimanakah perkembangan proyek tersebut saat ini?

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (JKT-BDG) terus berjalan pembangunannya. Pada Bulan September yang lalu, salah satu jembatan continuous beam di daerah Jatiluhur, Jawa Barat baru saja diresmikan. Jembatan itu membentang di atas Sungai Citarum sepanjang 2,8 km, dan merupakan konstruksi ke 6 dari jembatan berbentuk continuous beam dari total 39 konstruksi lainnya. Saat ini total progres kereta cepat ini mencapai 60% dan ditargetkan selesai tahun 2022. Direncanakan pihak pengembang akan membangun 2.400 tiang alias tier yang akan dihubungkan. Kini yang sudah didirikan sekitar 1.300 tiang.

Sementara itu dari 13 tunnel alias terowongan dalam tanah. Sudah ada 3 yang selesai dibangun, Desember ini akan ada satu lagi yang selesai di kawasan Halim, Jakarta Timur. Bulan Desember kira-kira satu tunnel panjang lagi yang dibangun dengan bor TBM akan tembus juga. Itu diameter dua kali lipat daripada MRT. Tunnel itu di Halim. Pandemi Covid-19 sempat mengganggu proses pembangunan proyek kereta cepat Jakarta—Bandung. Namun, kini PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. meyakini bisa memenuhi target penyelesaian akhir 2022. Mahendra Vijaya Corporate Secretary WIKA menjelaskan bahwa progres pembangunan proyek kereta cepat saat ini terus menunjukkan perkembangan yang positif.

Menurutnya, saat ini aktivitas produksi dan pekerjaan konstruksi di lapangan bisa kembali berjalan lancar dengan penerapan protokol pencegahan Covid-19. Setiap pekerja selalu menjalankan protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan disiplin. Sebelumnya proyek kereta cepat Jakarta—Bandung sempat mengalami masalah yang sama, akibat kondisi pandemi Covid-19 sejak Maret 2020.

Nantinya, terdapat empat stasiun pemberhentian dalam rute tersebut, yakni Stasiun Halim, Karawang, Walini, hingga Stasiun Tegalluar di Kabupaten Bandung. Gubernur Jabar Ridwan Kamil berharap, moda transportasi penghubung antara Stasiun Tegalluar ke pusat Kota Bandung dapat segera diputuskan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia (RI) dan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Hingga kini, ia menilai rencana pembangunan jalur Light Rail Transit (LRT) dengan double track sebagai penghubung menuju stasiun di Kota Bandung belum memiliki kepastian.

Pihaknya tidak ingin moda transportasi penghubung terlambat dibangun. Adapun realisasi pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ditargetkan mencapai 70 persen pada akhir 2020. Meski begitu, dia menegaskan bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar akan mendukung keputusan pemilihan moda transportasi terintegrasi yang akan dibangun selama memudahkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.