Perkuat AKHLAK, Majukan BUMN

Perkuat AKHLAK, Majukan BUMN
Menteri BUMN, Erick Tohir/Net.
Oleh: M. Muchlas Rowi (Komisaris Independen PT Jamkrindo)

 

Akronim AKHLAK yang ditetapkan Erick Thohir merujuk pada nilai Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan kolaboratif (AKHLAK) sebagai core value di lingkungan Kementrian BUMN.

TAHUN 2020 merupakan tahun yang sangat dinamis bagi ekonomi Indonesia, terutama karena menghadapi pandemi corona virus disease (COVID-19). Ada kontraksi atau bahkan ancaman resesi yang terus membayangi.

Lantas kita pun ditantang untuk bisa bergerak lebih cepat dalam mengambil keputusan-keputusan yang tepat. Termasuk bagi BUMN yang telah ditetapkan untuk ikut dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Ada sekira tujuh BUMN kakap yang telah resmi menerima kucuran dana sebesar Rp151,1 triliun melalui PEN. Sederet korporasi pemerintah tersebut telah menjadi sasaran program PEN untuk menggenjot kinerja ekonomi yang mandek akibat pandemi.

Persoalannya, apa yang kita hadapi saat ini memang tak pernah ada presedennya kapan dan di manapun jua. Di tahun 1998, 2008, atau bahkan tahun 1930-an kita memang pernah mengalami krisis hebat, namun yang kita hadapi saat ini jauh lebih hebat.

Belum lagi BUMN saat ini juga tengah menghadapi persoalan klasik. Seperti dikeluhkan Menteri BUMN Erick Thohir, yakni soal kebiasaan BUMN yang masih saja merambah banyak sektor usaha di luar fokus utamanya.

Mestinya BUMN fokus dan maksimal dalam bidang usaha yang jadi kegiatan utamanya. Perilaku yang tidak fokus dan merambah semua bidang usaha, tanpa strategi yang matang bisa menimbulkan kerugian baik bagi BUMN, maupun pemerintah sendiri. Perilaku ini tentu tidak baik, jauh dari nilai budaya BUMN maupun bangsa.

Karena itu, reformasi yang tengah didorong Menteri Erick Thohir saat ini di tubuh BUMN menemukan signifikansinya. Terutama upaya untuk merestrukturisasi dan menguatkan core business maupun core value BUMN.

Rencana Erick yang ingin melebur bisnis-bisnis sampingan yang dimiliki oleh BUMN patut diapresiasi. Hal tersebut untuk menindaklanjuti temuan mengenai banyaknya BUMN yang memiliki anak cucu usaha yang berbeda dari bisnis inti.

Inilah momentum reformasi total di tubuh BUMN. Bahkan termasuk soal core value BUMN sendiri yang kini tengah disorong, disosialisasikan, dan dikuatkan.

Bengkel AKHLAK

Dalam konteks BUMN, AKHLAK, core value BUMN dimaksudkan sebagai identitas dan perekat budaya kerja yang mendukung peningkatan kinerja secara berkelanjutan. Yang bertujuan melakukan transformasi human capital dan meningkatkan daya saing BUMN menjadi pemain global dan menjadikan BUMN sebagai pabrik talenta.

Akronim AKHLAK yang ditetapkan Erick Thohir merujuk pada nilai Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan kolaboratif (AKHLAK) sebagai core value di lingkungan Kementrian BUMN.

Menteri Erick ingin menetapkan AKHLAK sebagai ‘core value’, bukan ‘lips service’, karena kalau kita bekerja ada ‘core value’ ini yang membuat kita kuat. AKHLAK menurut Erick merupakan nilai-nilai organisasi Kementrian BUMN untuk maju.

Ia menyampaikan salah satu poin dalam AKHLAK yakni Loyal, menjaga citra, harkat, dan martabat diri sendiri, sesama rekan kerja, pimpinan, kementrian BUMN, bangsa dan negara.

Tentu saja untuk loyalitas kepada bangsa, dan agar kepentingan pribadi dikedepankan, maka hasil kerja seperti bonus, tantiem menjadi penting diberikan. Agar sekira 53 kasus hukum di BUMN tidak terulang kembali. Itulah kenapa AKHLAK menjadi sangat penting.

Ada juga nilai Adaptif, yakni mampu beradaptasi dengan perubahan serta harus siap untuk melakukan kolaborasi. Proyek-proyek strategis harus dijalankan dan pembukaan lapangan kerja harus terjadi dalam kondisi pandemi seperti saat ini.

Dengan AKHLAK, Indonesia diharapkan akan memiliki kekuatan untuk menjadi negara besar di kawasan Asia. Kita punya kekuatan itu, jika kerja keras dan menjadikan AKHLAK sebagai core value.

Dalam konteks yang lebih luas, AKHLAK pun sejatinya harus melahirkan empati dan sikap rendah hati. Syeikh Nawawi pernah mengatakan, janganlah menatap seseorang dengan pandangan merendahkan dan meremehkan. Siapa tahu anda tak pernah mendapat ma’rifat, sementara orang itu justru dianugerahi ma’rifat.

Namun rendah hati sejatinya bukan milik agama semata. Tapi juga manajemen organisasi mutakhir, seperti ditulis Lars Kolind dan Jacob Botler. Bahwa sudah bukan zamannya merasa hebat sendiri, membuat takut orang lain, merasa lebih unggul, atau bahkan merasa paling inovatif. Saat ini, waktunya untuk bekerjasama, tua muda, berkolaborasi.

Yang harus dibangun saat ini adalah kekeluargaan, saling rangkul, berdiri sejajar tanpa memikirkan jabatan, harta, keturunan, dan latar belakang lain. Itu harus ditanamkan kepada generasi tua maupun generasi muda kita.

Tidak dapat ditawar lagi, jika AKHLAK amat penting agar korporasi pemerintah betul-betul menjadi center of excellence, pabrik talenta yang piawai membangun kebersamaan dan peningkatan kinerja secara berkelanjutan.

Raison d’etre

Tantangannya saat ini, kemajuan teknologi dan akses internet selain membuka banyak sekali kesempatan terutama bagi talenta muda BUMN untuk mendapat ilmu yang baik, bermanfaat dengan cepat juga keberadaan konten dan narasi negative yang destruktif. Jumlahnya tak kalah banyak dibandingkan dengan konten dan narasi bermuatan positif.

Karena itu wajar jika sejumlah pihak pun melontarkan kekhawatiran terhadap talenta muda di tubuh BUMN. Katanya kaum muda terkadang lupa dengan sejarah masa lalu, sehingga ahistoris ketika menelurkan kebijakan.

Generasi muda seperti kata Taufik Ismail, tak berkutik tatkala mendapat serbuan konten dan narasi negatif dari kanal-kanal digital. Salah satu narasi negative tersebut, seperti dikatakan Menteri PMK, Muhadjir Effendy adalah keengganan kaum muda melewati proses, sehingga memilah jalan pintas.

Karena itu, talenta muda BUMN ‘harus diingatkan, ditolong’. Bahwa mereka itu cerdas, itu harus kita akui. Akan tetapi gangguan yang terjadi di sekitar kita semua, terasa bahaya itu luar biasa.

Menteri Erick Thohir perlu mengingatkan talenta muda BUMN tentang pentingnya menyelami sejarah masa lalu, tentang raison d’etre BUMN. Penting sekali mengajak mereka untuk kilas balik bahwa sejarah awal BUMN lekat dengan semangat nasionalisme dan kemandirian.

Dengan begitu, bukan cuma masa depan yang mereka ketahui tapi juga masa lalu. Sehingga ketika bertindak pun, menjadi tidak terburu-buru dan hanya menggunakan logika pragmatis semata, melainkan juga realistis dan logis.

Jika sudah begitu, maka bukan cuma program pemulihan ekonomi nasional yang tepat sasaran dan kita keluar dari ancaman resesi. Tapi juga membantu Indonesia menggapai cita-citanya menjadi negara maju di tahun 2045.