Pesan Haedar Nashir untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah

Pesan Haedar Nashir untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah
Haedar Nashir/ muhammadiyah.or.id

MONDAYREVIEW.COM - Semangat berbagi kemajuan akan mengkapitalisasi percepatan dari bawah ke tengah, tengah ke atas dan atas lebih lagi. Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah tumbuh besar akan bertambah besar jika berbagi. Tetap dengan semangat tangan di atas. Tidak membuat yang dibantu merasa bergantung. Demikian pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di hadapan para pimpinan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan PTMA, Rabu (2/12)

Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini juga berpesan agar skala prioritas pengelolaan dilakukan dengan kesabaran dan kebersamaan sembari berpedoman pada rekomendasi ahli epidemi.

Penanganan pandemi yang berlarut-larut tentu berpengaruh pada kondisi perguruan tinggi. Para pengelola harus mampu mengantisipasi kondisi yang berat ini. Data terbaru yang disampaikan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah yang juga Guru Besar FEB UGM, Lincolin Arsyad, menunjukkan jumlah PTMA per Desember 2020 cukup banyak. Yakni, 164 kampus Muhammadiyah yang terdiri atas 4 akademi, 13 institut, 3 politeknik, 75 sekolah tinggi, dan 61 universitas. Lalu, kampus Aisyiyah meliputi 3 politeknik, 2 sekolah tinggi, dan 3 universitas. Kebersamaan dalam menghadapi pandemi tentu sangat berarti.

Selain mendorong adanya kebersamaan, Haedar lebih jauh berpesan agar dilakukan penguatan jaringan baik ke dalam maupun ke luar. Termasuk penguatan akuntabilitas tata kelola keuangan. Para rektor, pimpinan harus talent scouting SDM dan di-drill sehingga kemampuannya mencolok. Jika levelnya masih domestik, diberi kesempatan ke luar demi kebutuhan Muhammadiyah di masa depan.

“Muhammadiyah masih bisa berkembang besar utuh sebagai institusi itu karena digerakkan oleh para kader, anggota dan pimpinannya yang mengutamakan kebersamaan, musyawarah. Kemudian juga dalam menyelesaikan masalah, usaha-usaha menopang kebersamaan dan penguatan sistem itu menjadi sangat penting,” pesannya.

Dalam upaya itu, Haedar berpesan agar semua PTM/PTMA yang memiliki kualitas akreditasi lebih tinggi mau mendampingi PTM/PTMA berakreditasi lebih rendah hingga akreditasi mereka berubah lebih baik.

Menurut Prof Haedar, kebersamaan menjadi modal penting di persyarikatan. Majelis dan PTMA juga menjadi modal sosial yang sangat penting karena mengutamakan kebersamaan, ketulusan, dan nilai luhur dalam pergerakan.

Setidaknya ada delapan butir uraian pesan Haedar Nashir yang mesti dipedomani oleh kalangan manajemen perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiah. Agar PTMA tidak surut dalam kualitas layanan lini pendidikan tinggi meski dihantam pandemi, yakni :   

PERTAMA, IKHTIAR DALAM BERBAGI SPIRIT KEMAJUAN.

PTMA harus saling berbagi sebagai amal jariyah dengan dasar ta’awun. PTMA yang sudah besar dapat menularkan ilmu sehingga pihak yang membantu tetap semangat dan yang dibantu akan semakin semangat.

KEDUA, MEMPERKUAT JARINGAN KE DALAM DAN KE LUAR SECARA INSTITUSI.

PTMA harus mampu menjalin kerja sama dan saling berjaringan dengan adanya tata kelola yang bersistem dan berjalan baik.

KETIGA, KONSOLIDASI PENGELOLAAN AKADEMIK.

Kekuatan PTMA dalam menghadapi lembaga asing atau isu cipta kerja lainnya. Selain itu, SDM menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi sehingga menjadikan PTMA diatas rata-rata.

“Penguatan SDM menjadi spesialisasi yang harus ditingkatkan kualitasnya. SDM yang ahli dalam merancang dan menguasai dunia pendidikan di era digital atau dosen muda yang memiliki integritas bagus harus didukung sehingga kemampuan dan keahliannya semakin berkembang,” tegasnya.

KEEMPAT, HARUS ADA PENGUATAN PAHAM ISLAM BERKEMAJUAN.

Adanya AIK yang menjadi ciri khas PTMA membutuhkan regulasi baru dan pengemasan cara mengajar yang menarik.

KELIMA, INTEGRITAS KEPRIBADIAN BERBANGSA DAN BERNEGARA.

Pemahaman ini menjadi penting dan harus ditularkan kepada dosen dan karyawan.

KEENAM, ADANYA PERENCANAAN STRATEGIS.

Perlunya perencanaan strategis yang harus dicermati, misalnya perencanaan keuangan.

KETUJUH ADALAH PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN

Pengembangan kepemimpinan dengan menekankan tiga hal. Yaitu, pimpinan PTMA harus menyiapkan dan memberikan kesempatan kepada kadernya untuk menjadi penerus, kepemimpinan PTMA harus memiliki kemampuan dalam memobilitasi potensi, dan adanya perencanaan dan planning sistem agar tetap eksis. Kepemimpinan PTMA harus ada nilai keutamaan.

“Tetap rawat nilai moral dan integritas diri. Karena harta termahal kita adalah akhlak, moral, sehingga ketika kita sudah tidak menjabat kita tetap dapat tumakninah. Kepemimpinan seperti ini akan mengayomi persyarikatan,” papar Haedar.

KEDELAPAN, MEMBANGUN KEMAJUAN BERSAMA PERSYARIKATAN,

Khususnya dalam membangun keperluan penting di atas dasar sistem ta’awun. “Jika adanya hubungan yang kurang baik, perbaiki. Setiap orang perlu belajar untuk rendah hati dan jauhi angkuh diri,” pungkas Haedar.