Piala Dunia 2018 dan Kontroversi Penggunaan VAR

Piala Dunia 2018 dan Kontroversi Penggunaan VAR
Ilustrasi foto/Net

KITA memang ingin melihat Monica Belucci telanjang, tetapi kita tidak ingin melihatnya dengan sinar x. Itu salah satu komentar yang menentang penggunaan VAR (video assistant referee) dalam dunia sepak bola. Karena VAR tidak mengedepankan sisi humanis dan menghilangkan drama dalam sepak bola.

Menurut studi badan yang mengatur regulasi sepakbola, International Football Association Board (IFAB), tingkat akurasi wasit sebelum menggunakan VAR sudah mencapai 93 persen. Angka itu sudah luar biasa untuk seorang wasit yang harus melihat 22 pemain dan memutuskan segalanya dalam waktu sempit.

Namun kontroversi atas keputusan wasit tetap terjadi karena semakin ketatnya pertandingan sepak bola dan semakin seimbangnya kekuatan tim yang bertanding. Tak pelak, sedikit saja keputusan wasit yang cenderung menguntungkan salah satu pihak, maka akibatnya langsung dapat memenangkan tim tersebut.

Wasit harus memutuskan dalam rentang waktu sempit atas kejadian yang sangat cepat. Dengan penglihatan manusia yang terbatas, bisa jadi wasit tidak melihat, terlambat melihat, atau hanya sebentar melihat, yang membuat wasit tidak yakin pada sebuah insiden yang terjadi.

Keterbatasan itulah yang membuat wasit sering melakukan kesalahan. Lalu dianggap tidak adil. Ujungnya dihujat, dan terancam akan dihukum oleh komisi. Selain itu kemarahan penggemar tim yang dirugikan juga menjadi ancaman tersendiri.

Untuk meminimalisir kesalahan wasit, Piala Dunia 2018 melibatkan VAR. Setelah VAR diterapkan ternyata akurasi wasit meningkat menjadi 98,8 persen atau hampir 99 persen. Artinya hampir sempurna. Jadi VAR adalah teknologi untuk menciptakan kesempurnaan dalam perwasitan.

Dalam pertandingan-pertandingan penting atau pada lingkungan dan tempat tertentu, wasit sering berada pada tekanan yang sangat tinggi. Ketika ada tekanan dari beberapa pihak, wasit cenderung membuat keputusan tak adil.

Psikolog mempelajari faktor-faktor yang memengaruhi keputusan wasit. Mereka menemukan jika wasit cenderung memihak tuan rumah. Temuan lain juga memperlihatkan jika pemain yang jatuh, berteriak kesakitan, dan menunjukkan beberapa gestur tertentu bisa memengaruhi wasit untuk menyatakan pelanggaran atau memberi kartu.

Dengan sistem VAR maka akan menggugurkan semua permasalahan-permasalahan tersebut. Karena VAR memiliki tingkat akurasi yang sangat tepat hingga 99 persen. Jadi VAR digunakan untuk membuat keputusan wasit yang tepat.

VAR memang sangat membantu wasit untuk menjadi sempurna, namun tidak membantu wasit untuk lebih dihargai. Bagi wasit, melakukan 99 kali keputusan yang tepat tapi melakukan satu saja kesalahan itu bisa berakibat fatal. Apalagi kesalahan itu sangat memengaruhi hasil pertandingan.

[Mrf]