Pialang Budaya di Panggung Politik

Pialang Budaya di Panggung Politik
Ilustrasi foto/Net

KEHIDUPAN politik selalu menarik. Pergerakannya selalu cair dan dinamis. Dalam politik tak ada lawan nan abadi. Kepentinganlah yang abadi. Ranah politik kian sedap ketika dibumbui intrik dan pertarungan wacana yang seringkali sumir plus hoaks.

Kampanye bersama artis, biduan dangdut, dan juga keterlibatan tokoh masyarakat/kiai/ulama/pastor/pendeta/biksu. Semua itu demi mengumpulkan suara, semakin membuat riuh hajatan lima tahunan itu.

Dalam konteks itu, belum lama ini, Lingkaran Survei Indonesia merilis hasil temuan tentang “Ulama dan Efek Elektoralnya”. Survei LSI Denny JA itu menunjukkan bahwa tokoh agama memiliki pengaruh kuat dalam menentukan arah pilihan warga masyarakat.

Sebesar  51.7% pemilih menyatakan bahwa mereka sangat mendengar himbauan dari tokoh agama (ulama, pastor, biksu, dan lain-lain). Sedangkan tokoh yang lainnya hanya di bawah 20%. Mereka yang menyatakan mendengar himbauan politisi hanya 11.0%, dan terpengaruh dengan himbauan atau pendapat pengamat hanya 4.5%.

Survei bulan Oktober 2018 itu menyebutkan ada lima tokoh yang cukup didengar petuahnya dalam hal politik. Mereka adalah Ustad Abdul Somad, Ustad Arifin Ilham, Ustad Yusuf Mansur, Ustad Abdullah Gymnastiar (AA Gym), dan Habib Rizieq Shihab.

Ustad Abdul Somad adalah tokoh agama/ulama yang dikenal oleh 59.3% pemilih. Mereka yang menyatakan suka terhadap Ustad Somad sebesar 82.5%. Dan mereka yang menyatakan mendengar himbauan Ustad Somad sebesar 30.2%. Sedangkan Habib Rizieq Shihab  dikenal oleh 53.4% pemilih. Dari mereka yang mengenal, sebesar 52.9% menyatakan suka dengan sosok Habib Rizieq. Dan dari mereka yang mengenal sebesar 17.0% menyatakan bahwa mereka mendengar himbaun dari Habib Rizieq.

Temuan survei itu menunjukkan bahwa umat masih sangat percaya pada arahan ulama/kiai/ustad. Masyarakat senantisa menantikan petuah mereka. Masyarakat tidak hanya menanti petuah dalam bidang sosial keagamaan, namun juga wilayah pilihan politik.

 

Pialang budaya

Apa yang terjadi pada kehidupan masyarakat sekarang seakan cocok dengan temuan Clifford Geertz (1960). Menurut Geertz, ulama adalah pialang budaya (cultural broker). Geertz mengidentifikasi peran kiai yang berubah dari semata-mata memegang fungsi perantara dalam mengkomunikasikan dan menyesuaikan doktrin-doktrin Islam ke dalam berbagai praktik dan keyakinan lokal masyarakat Jawa, kepada fungsi yang membuat mereka terlibat dalam berbagai persoalan politik dalam masyarakat Islam. Peran politik ulama terutama terletak pada fungsi mereka sebagai perantara (broker) isu politik nasionalisme untuk penduduk desa di mana ulama termasuk di dalamnya (Jajat Burhanudin, 2012).

Ulama/kiai memang tidak hanya berperan sebagai suluh agama. Mereka juga menjadi preferensi masyarakat dalam menentukan politik. Kondisi inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh calon pemimpin untuk mengunjungi tokoh-tokoh kunci yang hidup di tengah masyarakat. Mengunjungi pesantren, silaturahmi dengan kiai, dan meminta restu kepada mereka menjadi pilihan untuk meningkatkan elektabilitas calon.

Calon pemimpin pun sudah dengan terang bahwa kunjungan mereka adalah untuk mencari dukungan. Dan para ulama/kiai pun dengan tangan terbuka menerima mereka. Penerimaan kiai itu pun tentu tidak gratis. Seakan tahu sama tahu mereka “berkolaborasi” menggalang kekuatan memenangkan calon.

Masuknya kiai ke wilayah politik praktis memang menjadi dilema. Namun, kondisi zaman seakan mendorong kiai untuk terjun ke wilayah ini. ijtihad politik kiai ini tentu tidak bisa disalahkan begitu saja. Pasalnya, kiai juga mempunyai tanggung jawab mendidik masyarakat dalam segala bidang.

Bidang politik menjadi tanggung jawab penting karena hal ini terkait dengan hajat hidup orang banyak. Hal ini dikarenakan, politik menentukan hampir separoh lebih relasi sosial. Memenangkan pertarungan politik dengan demikian dapat menjadi jalan mulus bagi terciptanya bangunan sosial yang dicita-citakan.

Kunci kemenangan

Kekuatan ulama adalah pada fatwa atau petuah-petuahnya. Noah Feldman (2008) dalam The Fall and Rise of the Islamic State menyebut posisi  ulama sebagai panutan bagi masyarat dan simbol pengikat  bagi masyarakat menjadikan ulama mampu mengubah rezim yang berkuasa dengan cara mempengaruhi ketaatan masyarakat terhadap penguasa melalui  fatwa  dan ajaran-ajarannya (Hasbi Aswar, 2015).

Dengan demikian, ujaran ulama untuk menentukan calon tertentu dapat mengubah peta politik. Artinya, jika saat ini pilihan rakyat Indonesia hanya dua calon dalam pemilihan presiden, maka fatwa ulama akan sangat diperebutkan.

Pasangan petahana Joko Widodo yang berpasangan dengan seorang ulama (Kiai Ma’ruf Amin) belum cukup kuat untuk mendulang suara. Pasangan ini masih perlu mendapatkan dukungan dari ulama lain yang mempunyai basis massa.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf perlu merangkul kelompok-kelompok “Islam modern” yang terepresentasi dari lima ulama hasil temuan Denny JA. Keberhasilan Jokowi-Ma’ruf merangkul dan memastikan mereka dalam satu gerbong untuk dua periode menjadi kunci utama. Hal ini disebabkan, pasangan nomor urut 02, Prabowo-Sandi seringkali dianggap mempunyai kedekatan dengan lima tokoh di atas.

Pada akhirnya, temuan survei LSI ini semakin mengukuhkan tesis lama di mana ulama/tokoh agama selalu menjadi kunci kemenangan calon. Saat seorang calon mempunyai kedekatan emosional dengan tokoh agama, maka jalan menuju kemenangan akan semakin mulus. Sebaliknya, saat calon kurang berhasil merangkul mereka dan atau malah menjauh dari aktivisme itu, maka jalan kekalahan tampaknya menjadi harga yang mesti dibayar. Wallahu’alam