Razan Najjar, Simbol Perdamaian Palestina

Razan Najjar, Simbol Perdamaian Palestina
Razan Najjar/Net
“Hari ini saya nyaris tertembak, tapi berkat kasih sayang Allah saya selamat. Saya bangga melakukannya, dan berharap bisa membantu mereka hingga hari terakhir saya.”

DEMIKIAN petikan wawancara Razan Najjar dengan stasiun televisi TRT World, tepat seminggu sebelum perawat muda palestina ini meregang nyawa. Peluru panas seorang penembak jitu Israel berasal kelahiran Boston, Amerika Serikat, bersarang tepat di dadanya.

Seperti diberitakan kantor berita Palestine al-Yawn dan dilansir media Press TV, Sabtu (2/6/2018), Razan Ashraf al-Najjar sedang menangani para demonstran palestina yang terluka di timur Khan Yunis, yang berlokasi sekitar 25 kilometer selatan Kota Gaza. Saat itulah, pasukan Israel melepaskan tembakan membabibuta ke sekelompok demonstran dan mengenai perawat 21 tahun itu. Razan terluka parah akibat tembakan tersebut dan tak lama kemudian meninggal.

Pihak internasional sebetulnya telah banyak yang menyerukan, salah satunya menteri Luar negeri Turki Mevlut Cavusoglu agar rezim Israel segera diajukan ke Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) atas pembantaian di Gaza.

“Israel harus dibawa ke Mahkamah Kejahatan Internasional atas pembunuhan warga palestina. Dikarenakan pihak ketiga tak bisa melakukannya. Palestina perlu memulai ini,” tegasnya.

Dalam sepekan terakhir, Gaza memang kembali memanas, ini buntut dari pembukaan kedutaan AS di Yerusalem pada tanggal 14 Mei lalu. Seorang diaspora asal Palestina dan penulis, Nada Ella dalam tulisannya di middleeasteye menggambarkan, bila apa yang dilakukan Ivanka Trump dengan bergembira ketika berada di samping Benjamin Netanyahu telah menaburkan garam di atas luka yang tengah menganga.

Bagaimana tidak, tanah kuburan puluhan Pemuda palestina peserta aksi damai #GreatReturnMarch masih merah, sementara ribuan korban luka dalam aksi itu pun masih merasakan sakit, namun Ivanka Trump malah terlihat ketawa-ketiwi ketika meresmikan pembukaan kedutaannya bersama Benjamin Netanyahu di Yerusalem.

Seperti diketahui, Great Return March adalah aksi damai, namun Israel menanggapinya dengan mengangkat senjata. Paling tidak ada sekitar 15 pemuda palestina yang ketika itu tewas, dan ribuan lainnya mengalami luka. Lalu kini, moncong senjata sniper Israel telah merebut nyawa seorang paramediK muda Najar Rajjan.

Protes yang dilakukan warga Gaza saat ini, kata Nada, sebetulnya merupakan upaya untuk melakukan kontra narasi bahwa apa yang dilakukan Israel dan As saat ini adalah upaya sesat yang mengaburkan sejumlah kesepakan yang telah ada.

Warga Gaza saat ini juga ingin dunia tahu, bila apa yang dilakukan terhadap mereka mestinya dinyatakan sebagai pelanggaran kesepakatan damai. Puluhan bahkan ratusan Razan Najjar pun sebetulnya memang tak akan berarti apa-apa, bila dunia internasional tak bersuara.

Apalagi bila As, terus menerus memberikan sokongan finansial maupun diplomatiknya kepada Israel. Ini mengingatkan kita apada apa yang pernah ditulis Edward Said, ketika menggambarkan posisi Inggris yang super power ketika itu, bahwa 'matahari tidak akan pernah tenggelam'. 

[Mrf]