Aroma Persaingan Keras dalam Industri Farmasi Global

Aroma Persaingan Keras dalam Industri Farmasi Global
ilustrasi/ middle east observer

MONDAYREVIEW.COM –Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Mohammad Nasih mengungkapkan bahwa ada persaingan yang keras dalam industri farmasi dunia. Di dunia farmasi ada oligopoli yang akan melibas pemain baru dalam industri ini. Para pemain dalam industri kesehatan dunia yang telah menguasai pangsa pasar global tentu tak rela bila ada produk atau perusahaan baru yang akan mengancam dominasi mereka.

Pendapat itu disampaikan dalam Diskusi Online Peluang Industri Farmasi Berbasis Herbal Hadapi New Normal yang diselenggarakan monitorday.com pada Sabtu (06/06/2020).

Sementara itu Indonesia memiliki kekayaan biodiversity atau keanekaragaman hayati nomor dua setelah Brazil. Dengan kekayaan itu kita berpotensi untuk mengembangkan ini. Bahan-bahan alami yang tersedia memicu riset dalam pengembangan industri farmasi khususnya yang berbasis herbal. Demikian disampaikan Direktur Utama PT Biofarma Honesti Basyir.

Menanggapi hal tersebut Ekonom CORE Indonesia Hendri Saparini menegaskan bahwa potensi jangan sampai berhenti menjadi potensi. Menuju era normal baru. Semestinya Indonesia tidak sekedar perilaku masyarakat. Tetapi memperbaiki struktur ekonomi kita. Sehingga peluang dan kekuatan kita terpetakan.

“Industri herbal ke depan harus berbasis sumber daya alam. Tidak hanya minyak bumi. Termasuk sumber daya herbal. Juga kekuatan kultural untuk memanfaatkan dan mengembangkan industri herbal”, kata Hendri.   

Lisensi menjadi penting untuk berkembang secara internasional. Namun dengan captive market yang dimiliki kita dapat membangun kekuatan industri kita. Dengan memenuhi kebutuhan dalam negeri saja industri kita dapat berkembang dengan baik. Harus ada keberfihakan yang jelas dari Pemerintah. Salah satunya adalah industri herbal. Masuk dalam strategi.

Dalam Diskusi ini Atase Perdagangan Kedubes RI untuk Korea Selatan Ani Nigeriawati menegaskan bahwa diperlukan keberfihakan Pemerintah untuk industri farmasi berbasis herbal.

Di Korea ada Undang-undang tersendiri terkait pengobatan tradisional. Ada pengakuan terhadap praktisi kesehatan tradisional.  Ada Korean Traditional Medicine (KTM). Ada K Medi.

Disamping itu di Korea Selatan ada kawasan pengembangan industri medis tradisional.  Triple Helix antara Pemerintah, dunia usaha, dan kalangan riset di Korea sangat tinggi.

Ada hambatan dari riset ke komersial. Prematur industrialisasi. Mestinya lagi gencar-gencarnya. Justru pertumbuhannya melambat dan share semakin turun terhadap GDP. Kita sedang menuju puncak bonus demografi. Tetapi manufaktur kita lemah.

Agar industri herbal dalam negeri tidak kalah bersaing diperlukan awareness atau kepedulian konsumen di Indonesia. Mustika Ratu, menurut Kusuma Anjani selaku Direktur Business Development telah melakukan inovasi rasa sehingga kalangan muda mau menikmati jamu.