Renungan Hari Anak Nasional

Renungan Hari Anak Nasional

MONDAYREVIEW.COM – Anakmu bukan milikmu, mereka adalah anak Sang Hidup. Begitulah sepenggal puisi popular karangan penyair besar Kahlil Gibran. Sepenggal lirik di atas mengandung pesan yang mendalam bahwa anak adalah amanah yang mesti dijaga. Hal ini sejalan dengan ajaran agama bahwa istri dan anak adalah ujian. Anak bisa mengantarkan kita ke surga manakala kita berhasil dalam mendidiknya. Namun bisa menjadi musibah manakala sebagai orang tua kita mengabaikannya.

Pada masa pra-modern, anak dianggap sebagai makhluk yang tidak tahu dan tidak mempunyai hak apapun. Hidup mati anak berada sepenuhnya dalam kendali orang tuanya. Anak diajarkan ketaatan mutlak kepada orang tua. Sebaliknya orang tua mempunyai kuasa penuh atas anak-anaknya. Muncul peribahasa bahwa banyak anak banyak rezeki. Dalam peradaban pertanian banyak anak dianggap berkah karena dapat membantu menggarap lahan pertanian orang tuanya.

Pada masa modern anak tidak sepenuhnya berada dalam kuasa orang tua. Anak mempunyai hak-hak yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun. Misalnya terbebas dari kekerasan dari siapapun. Hal ini sejalan dengan lahirnya konsep HAM pada masa modern. Tentu saja anak masih mempunyai kewajiban berbakti kepada kedua orang tuanya. Namun orang tua pun berkewajiban merawat anaknya dengan baik. Anak tetap dianggap sebagai makhluk yang belum bisa independen memutuskan yang baik dan buruk bagi dirinya. Karena itu harus tetap berada dalam bimbingan dan pengawasan kedua orang tuanya.

Masa kanak-kanak menjadi penentu bagi kehidupannya di masa dewasa. Banyak ditemukan kasus trauma pada masa kanak-kanak yang membuat kehidupan di masa dewasanya tidak berhasil. Maka dari kita sebagai orang dewasa kita harus memastikan anak-anak kita berkembang dalam situasi yang kondusif dimana potensinya bisa dimaksimalkan. Anak-anak hari ini adalah generasi penerus masa depan. Kondisi anak hari ini menentukan nasib mereka di masa depan. Nasib mereka di masa depan menentukan nasib bangsa ini.

Karena itu tidak salah jika isu anak menjadi salah satu isu yang penting untuk mendapatkan perhatian. Sebagai aktivis, tentu sudah tidak asing dengan aktivitas advokasi. Sebagian aktivitas tersebut sudah dipayungi secara resmi oleh negara. Misalnya isu HAM dilaksanakan oleh Komnas HAM. Untuk mengadvokasi isu-isu perempuan maka dibentuk Komnas Perempuan. Untuk isu anak sudah dibentuk lembaga yang bernama Komisi Nasional untuk Perlindungan Anak (KPAI).

KPAI sangat berperan guna mengadvokasi isu-isu yang berkaitan dengan anak. Misalnya kasus buruh anak yang bekerja di perkebunan kelapa sawit. UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan pekerja anak dimungkinkan jika melakukan praktik kerja yang tidak tergolong pekerjaan berbahaya di bawah 3 jam per hari.

Namun, beberapa laporan dari Lembaga Swadaya Masyarakat menunjukkan praktik pekerja anak di bawah umur dengan durasi waktu dan upah yang tidak wajar. Badan PBB yang menangani isu anak-anak, UNICEF (2016) menyebutkan setidaknya 5 juta anak di Indonesia hidup, baik sebagai tanggungan pekerja kelapa sawit atau sebagai pekerja.

Dua tahun kemudian, Koalisi Buruh Sawit, merilis Lembar Fakta Buruh Sawit menemukan kembali adanya pekerja anak di perkebunan kelapa sawit. Laporan tersebut menunjukkan bahwa fenomena buruh anak ini terjadi karena ada anggapan keliru bahwa anak bekerja dan membantu orangtua merupakan bagian budaya Indonesia.

Fenomena tersebut merupakan salah satu pekerjaan rumah bagi kita semua khususnya KPAI. Banyak pula anak-anak yang menjadi korban kekerasan fisik atau pelecehan seksual. Hal ini menambah suram catatan advokasi anak di Indonesia. Namun kita tidak boleh pesimis, harus tetap optimis. Semua pihak perlu diberi penyadaran pentingnya perlindungan anak di Indonesia. Anak adalah generasi penerus bangsa, tanggung jawab kita sebagai orang dewasa melindungi dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang.

Selamat Hari Anak Nasional!