Saatnya Guru Menjadi Youtuber

Saatnya Guru Menjadi Youtuber
Sumber gambar: jatenglive.com

MONDAYREVIEW.COM –  Covid-19 membuat dunia pendidikan Indonesia harus membiasakan diri dengan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, namun secara daring atau online. Hal ini membuat masyarakat menyoroti banyaknya kendala terkait pembelajaran jarak jauh ini. Ternyata banyak diantara masyarakat kita yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Hal ini membuat dunia pendidikan kita dipenuhi oleh narasi pesimisme terkait pembelajaran di kala pandemi.

Kesenjangan digital akhirnya terbongkar dan tampak begitu nyata. Sesuatu yang tak akan menjadi masalah jika pandemi sudah tiada. Pemerintah mempunyai banyak pekerjaan rumah guna menyelesaikan problem kesenjangan digital. Kegiatan pendidikan selama pandemi pun dinilai tidak terlalu efektif. Mayoritas masyarakat menginginkan kegiatan belajar mengajar dikembalikan menjadi tatap muka seperti semula. Sesuatu yang belum bisa dikabulkan Mendikbud melihat kurva covid-19 di negeri ini belum menurun.

Saya teringat pernah membaca sebuah buku dengan judul yang menarik, Setengah Isi Setengah Kosong. Buku yang ditulis oleh Marpaung Parlindungan tersebut berisi tentang sudut pandang kita saat melihat suatu gelas. Misalnya ada suatu gelas yang diisi air setengahnya, kita bisa mengatakan bahwa gelas itu setengah isi, dan setengah kosong. Dua-duanya adalah benar sesuai fakta. Namun perkataan kita apakah gelas tersebut setengah isi menunjukan bahwa kita memandang gelas tersebut secara optimis. Sebaliknya jika kita memandang gelas tersebut setengah kosong menunjukan pesimisme.

Rumus ini bisa kita pakai juga dalam melihat pembelajaran jarak jauh yang sedang dilaksanakan selama ini. Sudah banyak yang melihat kegiatan PJJ dengan nalar kritis dan mengkritisi kekurangan-kekurangannya. Hal ini bagus karena memang perlu banyak yang dibenahi dari kondisi yang ada. Namun tetap perlu ada juga yang melihat kegiatan PJJ dari kacamata optimis. Yakni melihat kegiatan PJJ sebagai peluang bagi kemajuan teknologi pendidikan. Menurut saya, pembelajaran jarak jauh bisa menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya.

Ada hikmah dari kegiatan PJJ, yakni guru dipaksa menyampaikan materinya secara daring. Hal ini sebenarnya peluang bagi guru untuk menjadi youtuber. Bagaimana tidak, biasanya materi cukup disampaikan secara langsung, hari ini karena pandemic guru harus merekam terlebih dahulu materinya untuk kemudian dikirim ke peserta didik. Kenapa tidak sekalian rekaman tersebut diunggah di channel youtube, agar bisa dinikmati lebih banyak orang?

Adalah Wikan Sakarinto Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemdikbud RI yang juga dosen UGM yang mempunyai channel youtube selain mengajar. Menurut Wikan, jika mengajar secara konvensional, dia hanya akan ditonton oleh mahasiswanya saja mungkin kurang dari 50 orang. Namun jika diunggah di channel youtube, maka lebih banyak orang berpeluang untuk menonton videonya. Wikan juga berpendapat jika youtube tidak diisi oleh konten positif, maka anak-anak akan mengkonsumsi konten negative. Inilah kenapa selain menjadi dosen, Wikan juga membuat channel youtube.

Pengalaman Wikan ini bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru daring untuk juga membuat channel youtube. Tentu tidak perlu diniatkan untuk menjadi seperti Atta Halilintar atau Ria Ricis. Mereka bisa kaya dari youtube. Cukup diniatkan untuk membagikan ilmu dan sarana aktualisasi diri. Soal materi itu bonus yang mengikuti. Saya membayangkan jika guru-guru di Indonesia menjadi youtuber, maka para peserta didik tak akan kesulitan untuk mencari materi pembelajaran. Tidak perlu membayar untuk berlangganan ruang guru, namun hanya cukup mempunyai kuota untuk mengakses youtube.