Santri Membangun Negeri

Santri Membangun Negeri
Sumber gambar: antaranews.com

MONDAYREVIEW.COM – Santri pernah dipandang sebelah mata di republik ini. Hal tersebut bukan tanpa alasan, namun karena pada masa pra kemerdekaan, kelompok santri masih dianggap sebagai kelompok yang hanya menguasai ilmu agama saja. Oleh karena itu tidak bisa berkontribusi bagi kehidupan kemajuan tanah air. Walaupun memang masih didominasi pemikiran tradisional, dimana santri hanya fokus mengembangkan pemikiran keagamaan, namun jiwa revolusioner santri sudah tertanam sejak dahulu.

Banyak pahlawan nasional kita yang berasal dari kelompok santri bahkan seorang kiai. Kita kenal Kiai Zainal Mustofa dari Tasikmalaya dan pemberontakan petani di Banten yang dipimpin oleh kaum tarekat. Kita juga mengenal resolusi Jihad yang dicetuskan oleh para kiai NU di Jawa Timur untuk mempertahankan kemerdekaan. Tuanku Imam Bonjol pun didaulat sebagai pahlawan nasional yang beliau merupakan seorang ulama. Kiai Dahlan, Nyai Walidah Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari merupakan pahlawan nasional yang telah ditetapkan pemerintah.

Jika pada awalnya santri hanya bercorak tradisionalis, muncul corak lain dari santri yakni kelompok modernis. Hal ini dicetuskan oleh KH. Ahmad Dahlan yang melakukan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Kiai Dahlan mencoba menggabungkan pemikiran Islam dengan pemikiran modern barat. Hal ini agar umat Islam dapat maju dan mengejar ketertinggalan. Jejak modernisasi pendidikan ini diikuti oleh Pondok Modern Gontor yang kelak melahirkan tokoh-tokoh bangsa. Hidayat Nur Wahid, Hasyim Muzadi dan Din Syamsuddin merupakan alumni Gontor yang sudah berkiprah dalam tataran nasional.

Pasca kemerdekaan, santri tetap percaya diri untuk berkiprah dalam perpolitikan nasional. Pada masa orde lama, santri turut serta dalam pergulatan ideology antara Islamisme, nasionalisme dan komunisme. Kelompok santri yang pada awalnya berkumpul dalam Partai Masyumi, harus pecah menjadi Masyumi dan NU. Dua partai ini memperoleh suara yang besar walaupun tidak memenangkan pemilu. Pada masa ini kelompok santri belum bisa lepas dari aspirasi formalisasi hukum Islam dalam hukum positif negara. Yang pada awalnya tercantum dalam piagam Jakarta sebelum penghapusan tujuh kata.

Pada masa orde lama, muncul reformasi gagasan dimana kelompok santri ingin keluar dari aspirasi politik dan bergerak dalam strategi kebudayaan. Tokohnya adalah Nurcholis Madjid (Cak Nur) dari kelompok modernis dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari kalangan tradisionalis. Sebutan modernis dan tradisionalis lebih didasari pada primordialisme, yakni asal pesantren dimana Cak Nur alumni Gontor dan Gus Dur alumni Tebu Ireng. Namun baik kelompok modernis maupun tradisionalis sama-sama sudah bisa beradaptasi dalam dunia modern dan tidak menolak sepenuhnya modernisasi.

Pohon yang ditanam  pada masa orde baru berbuah manis pada masa reformasi, dimana konstelasi tokoh bangsa banyak diisi oleh santri. Jika dalam dunia teknokrasi seperti teknik dan manajemen bisnis masih dominan oleh kelompok priyayi abangan, lain halnya dalam dunia aktivisme sosial politik, kelompok santri seperti HMI dan PMII cukup dominan secara kuantitas. Pasca pembaharuan pemikiran Islam yang dilakukan Cak Nur, umat Islam tak segan untuk masuk ke partai-partai berhaluan nasionalis. Dampaknya perlahan partai tersebut juga terhijaukan dan terIslamkan, tidak sepenuhnya bercorak sekuler anti agama.

Setelah para santri berhasil berkiprah dalam kancah nasional, maka tentu saja para santri pun banyak berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Banyak gagasan-gagasan kebangsaan yang lahir dari kalangan santri. Kita bisa runut dari masa orde lama dimana Muhammad Natsir mencetuskan gagasan mosi integral yang merupakan cikal bakal dari NKRI. Din Syamsuddin mencetuskan gagasan Darul Ahdi wa Syahadah sebagai bentuk penerimaan Muhammadiyah kepada bentuk dan sistem negara ini. PBNU pun dengan tegas mengatakan bahwa NKRI harga mati.

Hari ini menjadi santri bukan semata pilihan terakhir karena tidak masuk sekolah favorit, atau karena nakal maka dimasukan ke pesantren. Menjadi santri di pesantren yang terkenal menjadi pilihan utama guna menghasilkan SDM-SDM yang berkualitas untuk pembangunan bangsa. Selamat Hari Santri!