Sembako Murah Atasi Kemiskinan dan Gerakkan Ekonomi

Sembako Murah Atasi Kemiskinan dan Gerakkan Ekonomi
(c) kemenkopmk.go.id

MONDAYREVIEW.COM – Bagi orang miskin sesuap nasi sangat berarti. Mereka rela membanting tulang demi kebutuhan pangan sebagai kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup. Seringkali sekedar untuk menahan lapar belum sampai memikirkan kandungan gizi yang dibutuhkan agar tubuh tetap sehat.

Urusan isi perut rakyat menjadi tanggung jawab Pemerintah. Tentu keterlibatan swasta dan kalangan civil society juga dibutuhkan dan tak kurang pentingnya dalam mengatasi problem pangan bagi rakyat banyak. Yang perlu diarahkan adalah program yang mampu memberi dampak nyata bagi rakyat. Tak hanya tertangani kebutuhannya juga berdenyut nadi perekonomiannya.

Yang harus dicermati adalah jangan sampai program bantuan bagi rakyat miskin menjadi proyek segelintir orang atau golongan untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Program bantuan non tunai ini harus diarahkan untuk membangun basis ekonomi kerakyatan. Sekali merengkuh dayung dua pulau terlampaui.

Kalaupun ada keterlibatan swasta tentu dalam platform yang bernafaskan upaya untuk mendorong keterlibatan Koperasi dan UMKM. Sisi sosioentepreneurship atau kewirausahaan sosial harus mendasari keterlibatan swasta dalam mengawal program bantuan non tunai ini. Dengan kesadaran bahwa kuatnya ekonomi rakyat akan menguntungkan pula bagi dunia usaha pada umumnya. Iklim berusaha akan semakin kondusif. Daya beli masyarakat juga tumbuh dengan baik.    

Ketahanan pangan dan pengurangan kemiskinan menjadi salah satu agenda penting Pemerintah di tahun 2020. Program sembako murah dapat berdampak untuk mengurangi angka kemiskinan. Jumlah penduduk miskin 9,4% ditargetkan turun menjadi 9%.

Terkait dengan tanggung jawab tersebut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memimpin rapat tingkat menteri (RTM) terkait Program Sembako tahun 2020 di Ruang Rapat Menko lt. 8, Kemenko PMK, Jakarta. Agendanya evaluasi Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahun 2019 dan persiapan Program Sembako 2020 yang leading sektornya berada di Kementerian Sosial.

Program sembako murah ditujukan untuk meningkatkan konsumsi masyarakat bawah. Demikian kata Menteri Sosial Juliari Batubara. Selama ini, keluarga penerima manfaat Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) hanya tercukupi untuk membeli beras dan telur. Ada tambahan pangan di dalamnya, yaitu ikan, ayam dan kacang-kacangan. Bulan Januari Kementerian Sosial siap untuk menurunkan PKH (Program Keluarga Harapan) yang mungkin nilainya Rp 7 Triliun dan BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) sekitar Rp 2 Triliun.

Tak ada kartu baru. Meski kartu sembako murah adalah program baru, kartu yang dipakai nantinya adalah kartu BPNT yang ada saat ini. Program ini tentu memerlukan pengawalan yang tuntas. Para penerima manfaat mendapatkan hak-haknya dan pada akhirnya dapat dientaskan dari kemiskinan yang selama ini membelenggunya.

Bila peran koperasi dan UMKM dapat dioptimalkan maka manfaat yang didapatkan rakyat tentu lebih besar. Pengadaan barang dan distribusinya dapat menggerakkan ekonomi rakyat. Mendorong semakin berkembangnya potensi ekonomi kerakyatan sebagai pilar dalam pembangunan nasional.