Sempat Terpapar Covid-19, Wakil Ketua Ombudsman RI Maknai Arti Penting Dukungan Para Tetangga

Sempat Terpapar Covid-19, Wakil Ketua Ombudsman RI Maknai Arti Penting Dukungan Para Tetangga
Wakil Ketua dan anggota Ombudsman RI, Lely Pelitasari Soebekty (Mondayreview.com)

MONDAYREVIEW - Virus Corona atau Covid-19 memberikan kesan terdalam bagi Wakil Ketua dan anggota Ombudsman RI,Lely Pelitasari Soebekty. Saat itu, Ia dan pimpinan Ombudsman lainnya menjalani tes pada 20 Maret 2020 silam. Hasilnya keluar empat hari kemudian. 
Sulit dipercaya dan sangat terkejut, ketika Dokter menelepon dirinya dan dinyatakan positif Covid-19.  Namun, Kehadiran tetangga memberikan makna berarti saat menjalani isolasi selama 14 hari.

"Saya sempat kaget karena termasuk pasien tanpa gejala. Belakangan saya baru tahu bahwa dari tujuh pimpinan Ombudsman yang dites, hanya saya dan Bu Ninik Rahayu anggota Ombudsman RI yang dinyatakan positif" tuturnya kepada Mondayreview.com, rabu (6/5/2020)

Kehadiran tetangga, kata Lely, kerap mengingatkan dirinya tentang keseimbangan hidup, antara bekerja, beribadah, makan, tidur dan olahraga.

"Jika kita sakit ikhtiar itu wajib, tawakal akan takdir itu harus," ujarnya. 

Ia teringat, saat Dokter bertanya apa yang dirasakan selama ini. Dia pun menjawab tidak ada gejala apa pun. Empat gejala infeksi virus corona adalah demam tinggi, batuk kering, sesak napas, dan lemah lunglai. Kadang juga diawali dengan diare. Tak satu pun gejala corona itu ia rasakan. Suhu tubuhnya ketika itu juga di bawah 370 Celsius. Tentunya, Suhu tubuh sangat normal.

Diakui Lely, memang ada gejala ringan pada malam sebelum hasil tes diumumkan, yakni badan agak meriang dan tenggorokan gatal. Tapi itu tidak lama. Sudah membaik esok harinya. Karena itu dokter menyarankan dirinya menjalani isolasi mandiri di rumah. Baru ke rumah sakit jika ada gejala makin parah.

Sebelum pulang dan dinyatakan sembuh dari Covid-19, 8 April 2020 (Dok. Lely Pelitasari Soebekty)

Untuk mencegah gejala sakit corona meningkat, Ia setuju direkomendasikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Brimob di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Rumah sakit ini baru saja jadi rujukan rumah sakit untuk merawat pasien Covid-19. 

"Jadi kami berdua, sy dan bu ninik termasuk angkatan (batch) pertama yang masuk ke rumah sakit ini sebagai pasien Covid-19. Total ada sembilan orang yang dirawat karena positif corona. Saya sekamar dengan Bu Ninik Rahayu," ungkapnya.

Walaupun judulnya dirawat di rumah sakit tetapi pada prinsipnya tetap merupakan isolasi mandiri, karena menurut dokter, belum ada obat untuk virus corona ini. Dokter hanya memberikan tiga jenis antibiotik dan beberapa obat yang sifatnya preventif. 

Obat hanya dimakan ketika gejala muncul, juga diberikan suplemen vitamin C dan B1. Selebihnya Ia mengonsumsi beberapa suplemen lain seperti madu, VCO, habbatussauda. Suplemen ini dibawa sendiri dan dokter tidak keberatan.

Kegiatan selama terisolasi

Kegiatan sehari-hari selama isolasi bisa dirasa wajar. Pagi dan sore Ia berolahraga, berjemur jam 10 pagi dengan memanfaatkan sinar matahari yang masuk melalui jendela, makan dan minum secara rutin, ibadah, berdoa, membaca, dan tidur cukup. Makan tiga kali sehari. Dokter berkunjung sehari sekali. Suster dan dokter, juga petugas kebersihan, masuk ke ruangan dengan alat pelindung diri lengkap.

Buat group whatsApp

Untuk memudahkan komunikasi antar pasien dan paramedis serta mencegah risiko penularan terhadap perawat karena intensitas masuk ruang perawatan, kepala perawat membuat grup WhatsApp yang berisi pasien-pasien serta paramedis.

"Saya juga masih tetap rapat dengan kolega dan tim kerja di kantor secara online. Jadi tidak ada yang berubah. Saya tidak terlalu merasa bosan karena mungkin sekamar berdua. Kami saling menyemangati," tandasnya.

Bersama Bu Ninik Rahayu (kiri), teman sekamar di Rumah Sakit Bhayangkara Depok (Dok. Lely Pelitasari Soebekty)

Sesekali waktu, pikirannya juga berkecamuk kekhawatiran karena memikirkan banyak hal. 

"Saya merasa meriang dan terbangun malam-malam. Ketika dicek, ternyata suhu tubuh normal seperti biasa, hanya 370 Celsius. Selama masa karantina itu, suhu tubuh saya tak lebih dari 37.20 C. Tenggorokan juga gatal. Jadi apa yang menyebabkan meriang itu," imbuhnya.

Pikiran sadarnya  kemudian mengatakan bahwa Ia harus melawan kondisi ini. Kemudian, dengan sigap, Ia menyeduh air panas dan mencampurkannya dengan madu. Lalu minum satu gelas penuh. Setelah itu kumur air garam. Sambil menata pikiran kembali dan berdoa. 

"Alhamdulillah, bisa tidur dan ketika bangun saya berkeringat. Meriang hilang dan tenggorokan tidak gatal lagi," takjubnya.

Gejala virus ini sangat ringan, tapi tidak  boleh menganggap enteng. Sebab ketika mengabaikan gejala tersebut, saat itulah virus menyerang. 

Minum madu

Setelah meriang malam-malam itu, Ia tak pernah absen minum madu hangat dan dampaknya sangat terasa ditubuh.Dia sangat bersyukur bisa ditempatkan satu kamar dengan rekannya sehingga jadi semangat sembuh.

Pentingnya membangun optimisme.

Melihat kondisinya, Dokter yang merawat juga berbagi informasi tentang seorang pasien (konon pejabat di satu instansi) berstatus pasien dalam pemantauan (PDP) yang kehilangan semangat untuk sembuh. Ia murung sejak dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Akibatnya imun tubuhnya merosot dan virusnya menyerang lebih leluasa. 

Bagi para dokter, kondisi ini tentu akan membuat proses penyembuhan lebih sulit. Karena itulah mungkin setiap berkunjung, dokter dan perawat lebih banyak memberikan dukungan agar terus bersemangat untuk sembuh. 

Dalam satu kunjungan dokter, Ia sempat ditanya riwayat pertemuannya dengan orang lain dalam 14 hari sebelum dilakukan tes. Dokter ingin tahu sumber penyebaran virusnya. Secara rinci Ia jelaskan dengan niat membantu rumah sakit melakukan tracing.

Padahal sebulan terakhir, Ia tak keluar Jakarta dan memang bertemu dengan banyak orang, berinteraksi dengan kolega di kantor, mengantar keponakan ke rumah sakit untuk pemeriksaan dokter, dua kali menengok teman yang sakit di rumah sakit, dan ada rapat dengan seorang kolega yang baru pulang dari luar negeri.

Sesuai prosedur, saat dinyatakan positif, seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dan pegawai di kantor yang berinteraksi dengan dirinya, juga dites. 

"Alhamdulillah rapid test pertama terhadap sembilan orang anggota keluarga saya dan lima orang anggota keluarga Bu Ninik hasilnya negatif. Demikian juga rapid test terhadap 100 pegawai di kantor, termasuk sekretaris yang berada satu ruangan dengan saya. Semua hasilnya negatif," jelasnya.

Mereka juga telah menjalani tes kedua setelah 14 hari. Keluarga kolegnya, ninik rahayu dan 100 pegawai kantor menjalani tes dan hasilnya negatif. Sedangkan anggota keluarganya menjalani tes swab. Hasilnya tak menulari orang lain. Soal siapa yang menulari dia, sampai sekarang belum terlacak.

Setelah dua kali dilakukan swab ulang, Ia dan Ninik Rahayu dinyatakan sembuh pada 8 April 2020 lalu dan dibolehkan pulang. Tapi selama 14 hari  masih tetap harus menjalani isolasi mandiri di rumah. 

Ia tidak tahu virus ini benar-benar sudah musnah atau belum dari tubuhnya. Dari pelajaran yang dipetiknya selama di rumah sakit, kesimpulannya virus corona adalah virus yang bandel. Ia menyerang ketika tubuh sedang lengah dan mental menuurun. Namun, tetangganya tidak bosan-bosanya memotivasi dirinya tentang banyak hal.

Karena itu isolasi 14 hari setelah dari rumah sakit menjadi sangat penting. Sejalan dengan informasi dari dokter, secara teori masa aktif virus ini totalnya 28 hari.

Jadi, Lely saat ini di rumah. Menjalani masa-masa sehat dan menikmati isolasi. Untuk masyarakat dan pasien yang masih isolasi, tetap semangat.

"Insya Allah virus ini bisa kita lawan jika kita bersemangat, tidak banyak pikiran buruk, dan percaya bahwa kita lebih kuat. Lebih penting lagi, setelah wabah ini berlalau, semangat bertetangga dalam hal kebaikan harus diperkuat," pungkasya.