Sepak Terjang MIT di Sulawesi Tengah

Sepak Terjang MIT di Sulawesi Tengah
Sumber gambar: antaranews.com

MONDAYREVIEW.COM – Mujahidin Indonesia Timur merupakan kelompok milisi yang berafiliasi kepada ISIS/IS. Jika kelompok Islam pada umumnya tidak menggunakan kekerasan dalam dakwahnya, Mujahidin Indonesia Timur adalah kelompok militer yang senantiasa menggunakan kekerasan dalam setiap aksinya. Komandan yang cukup terkenal dari kelompok ini bernama Santoso alias Abu Wardah. Santoso pada akhirnya berhasil ditangkap dalam keadaan tak bernyawa. Kepemimpinan diambil alih oleh Ali Kalora yang meneruskan perjuangan Santoso. MIT merupakan kelompok kecil namun berbahaya. Terakhir mereka melakukan aksi yang membuat masyarakat Indonesia tersentak. Presiden Jokowi secara resmi telah mengumumkan kecamannya terhadap kejahatan kemanusiaan ini.

Pemerintah Indonesia tidak diam saja, namun berusaha memberantas dan membasmi mereka. Namun sampai hari ini kelompok ini belum berhasil dilumpuhkan seluruhnya karena mereka berperang secara gerilya. Keakrabannya dengan medan memberi MIT keunggulan atas pasukan Indonesia, yang secara rutin keluar masuk wilayah sebagai bagian dari Operasi Tinombala, operasi kontraterorisme spesifik yang menargetkan MIT. Operasi Tinombala, yang dimulai pada Januari 2016, terus diperpanjang. Setiap kali pihak berwenang menyatakan mereka hampir menghancurkan kelompok itu, serangan dan bentrokan MIT yang berlanjut membuktikan yang sebaliknya.

Pihak berwenang mengatakan MIT memiliki sekitar selusin militan. Dari Januari hingga April 2020, setidaknya 17 tersangka anggota MIT atau afiliasinya ditangkap. Itu menunjukkan jumlah militan yang sebenarnya mungkin lebih banyak dari yang dinyatakan pihak berwenang. Jumlah itu juga kemungkinan tidak termasuk pendukung kelompok, terutama di Kabupaten Poso, di mana ribuan orang melayat saat pemakaman Santoso.

Poso juga merupakan titik pusat sektarianisme, di mana kekerasan komunal pernah terjadi antara orang Kristen dan Muslim pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Pemenggalan tiga gadis Kristen pada 2005 juga terjadi di Poso. Ali Kalora mencoba memanfaatkan sentimen yang sudah ada ini. Selama Ramadan, para anggota MIT melakukan serangan untuk mengamankan amaliyah (istilah yang mengacu pada aksi lapangan yang dilakukan oleh para jihadis Indonesia).

Di bawah kepemimpinan Ali Kalora, MIT telah berupaya meningkatkan pendanaannya, dan diyakini telah menerima dana dari jaringan dan simpatisan teror luar negeri. Kelompok ini juga berupaya meningkatkan kemampuan bahan peledaknya. Pihak berwenang menemukan bahan-bahan dan bom dalam beberapa serangan.

Sejauh ini, MIT tetap merupakan kelompok kecil yang terbatas di Sulawesi Tengah. Namun, kelompok itu telah mendapat rasa hormat dari para jihadis Indonesia. Seiring kelompok itu berkumpul kembali dan mengkonsolidasikan kelompoknya lebih jauh, mereka akan terus mendapatkan lebih banyak dukungan dari orang-orang yang teradikalisasi di Indonesia dan luar negeri. Mereka juga kemungkinan berusaha untuk menciptakan jaringan logistik dengan kelompok lain, seperti JAD. MIT akan terus menjadi ancaman terbatas, tetapi signifikan bagi Indonesia.