Sepatu Khusus Dari Sang Presiden Untuk Adul

Sepatu Khusus Dari Sang Presiden Untuk Adul
Dialog Presiden Jokowi bersama Adul (dok. Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden)

MONDAYREVIEW.COM – Keterbatasan fisik bukanlah sebuah penghalang bagi seseorang untuk meraih mimpi dan cita-cita. Ada banyak kisah, bagaimana kemudian di tengah keterbatasan, baik fisik maupun non fisik masih mampu beraih sukses.

Bahkan, jika melihat prestasi yang diraih, seolah mereka tak ada bedanya dengan orang-orang dengan kondisi fisik yang sempurna. Urusan prestasi, mereka terkadang malah lebih hebat.

Salah satunya, kisah hidup ini dialami oleh seorang bocah berusia 8 tahun, Mukhlis Abdul Holik yang sering dipanggil Adul ini tidak berputus asa untuk menuntut ilmu. Adul yang saat ini tercatat sebagai salah satu siswa kelas 3 di sekolah SDN X Cibadak Sukabumi dengan keterbatasan fisik kaki dengan gigih meski harus merangkah mengandalkan kedua tangan menyusuri jalan sepanjang tiga kilometer dari rumah ke sekolah.

Kisah Adul yang bercita-cita menjadi pemadam kebakaran ini menjadi perhatian khusus dari orang nomor satu di Republik ini yakni Presiden Joko Widodo. Kegigihan Anak pasangan suami istri (pasutri) Dadan (50) dan Pipin (45) ini menjadi cuitan secara khusus dalam halam media sosial pribadi Presiden, instagram maupun twitter.

Dalam akun pribadinya, Jokowi sangat mengagumi keteguhan Adul dalam menuntut ilmu. Tidak sampai situ, Presiden juga mengakui kisah Adul sangat memberikan pelajaran sangat berarti bagi dirinya. 

Bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember, apa yang menjadi keinginan besar Adul ingin bertemu langsung dengan Presiden Jokowi akhirnya terwujud. Dalam acara yang digelar di Halaman Parkir mall Summarecon Bekasi, Adul menjadi salah satu penyandang Disabilitas yang mendapatkan perhatian dari Presiden Jokowi.

Tidak sekedar bertemu di ruang VIP dengan tokoh impiannya itu, tetapi juga dia digendong dan diajak berdialog lebih kurang lima menit. Dalam dialog antara Adul dan Presiden Jokowi yang sangat bersahaja. Beberapa pertanyaan terlontar dari Presiden Jokowi kepada Adul, inilah beberapa percakapan yang terekam layak seorang ayah menanyakan anaknya.

‘Berangkat dari rumah jam berapa ?’ tanya Jokowi.

Adul yang saat itu dipangku oleh Menteri Sosial Agung Gumiwang Kartasasmita menjelaskan ia harus berangkat ke sekolah sejak pukul 05:30 WIB dari rumahnya. Jarak rumah dari sekolahnya ia tempuh hingga tiga km.

Saat ditanya cita-cita kelak besar, dengan tegas Adul menjawab berkeinginan menjadi pemadam kebakaran. ia juga mengutarakan keinginannya untuk terus bersekolah.

"Mau sekolah sampai kuliah," katanya, mendengar jawaban itu Presiden dengan sontak memberikan kedua jempolnya kepada Adul.

Presiden Acungkan Kedua Jempolnya Kepada Mukhlis Abdul Holik (Adul) / Dok. ANTARA

Selama ini, ternyata Jokowi juga turut menyaksikan kisah Adul melalui media. Menurutnya, cita-cita yang disampaikan Adul tersebut menunjukan konsistensinya untuk menjadi pemadam kebakaran.

"Konsisten dia. Saya lihat di televisi jadi pemadam, masih konsisten," kata Jokowi sambil tersenyum

Saat ditanyakan alasan memilih profesi tersebut sebagai cita-citanya. "Karena mau nolong orang," kata Adul.

Lebih kurang lima menit berdialog dengan Adul, di pengujung pembicaraan Presiden memberikan sebuah sepatu khusus untuk disabilitas kepada Adul. Sepatu ini akan menggantikan sepasang sepatu olahraga dan sendal yang sudah nampak lusuh karena digunakan olehnya selama ini dengan merangkak untuk menghadapi jalan terjal dan jembatan bambu sejauh tiga kilometer hingga sampai ke sekolah.

Selain sepatu khusus bagi penyandang disabilitas, Presiden Jokowi atas nama Negara juga memberikan penghargaan sebagai salah satu diantara dua belas orang penyandang disabilitas berprestasi kepada Adul.

Secara perundang-undangan, setelah Indonesia meratifikasi United Nation Convention on the Rights of Person with Disabillity (UNCRPD) atau Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 19 tahun 2011 tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Dimana negara Indonesia sebagai salah satu negara yang telah menandatangani konvensi tersebut berkewajiban untuk melindungi dan memenuhi hak Penyandang Disabiltas melalui sebuah legislasi (UU).

Akhirnya, lahirlah UU UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, dengan 153 pasal yang termaktub didalamnya menjadi acuan bagaimana Negara ini memberikan perlindungan dan memenuhi hak penyandang disabilitas. Dalam undang-undang tersebut penyandang disabilitas memiliki hak yang sama layaknya manusia normal lainnya diantaranya hak mendapatkan pendidikan, salah satunya kepada Adul, bocah penyandang disabilitas berusia 8 tahun kelas 3 SD yang gigih menempuh 3 kilometer menuju sekolahnya.  

Ayo wujudkan Indonesia Inklusi dan Ramah Disabilitas !