Serius! Kita Harus Berupaya Bersama Kurangi Sampah Pangan

Serius! Kita Harus Berupaya Bersama Kurangi Sampah Pangan
sampahmakanan (c) hashmicro

MONDAYREVIEW.COM  - Di satu sisi ada banyak orang kelaparan. Di sisi lain banyak makanan terbuang. Itulah ungkapan sederhana atas fakta ironis di tengah masyarakat. Perhatian kita pada soal ini perlu ditumbuhkan. Tentu diharapkan ada upaya nyata mengatasinya. Baik dalam skala individu, keluarga, lingkungan tempat tinggal, bahkan dalam lingkup yang lebih luas. Agar makanan terdistribusi lebih merata. Dan kualitas hidup dan lingkungan kita pun meningkat.

Salah satu yang menjadi perhatian dunia saat ini adalah sampah makanan. Terutama di daerah perkotaan yang padat. Pasokan bahan makanan dalam jumlah yang reatif sangat besar datang dari berbagai sumber penghasil dan pengolah pangan. Baik lokal maupun impor. Termasuk dari pedesaan atau daerah penghasil komoditas pertanian. Sementara semakin banyak orang akan tinggal di kota. Pada 2050 kelak diprediksi 6,3 Milyar manusia akan tingal di perkotaan. Beban kota termasuk dalam pengelolaan sampah pangan pun semakin besar.

Data menunjukkan Indonesia menjadi penghasil sampah pangan nomer dua di dunia setelah Saudi Arabia. Sampah menjadi salah satu masalah utama dunia terutama di kawasan urban. Sampah  dirasakan semakin luas dampaknya bagi lingkungan hidup. Kualitas hidup kita turun seiring turunnya kualitas lingkungan. Jumlah sampah yang besar tentu menjadi persoalan tersendiri. Dan satu diantaranya adalah sampah pangan.

Sampah Pangan dalam pengertian luas adalah bahan pangan yang terbuang. Sisa panen, busuk di gudang, kedaluarsa di lapak pedagang baik di pasar tradisional maupun supermarket, atau sisa dari piring makanan kita. Tentu ada definisi yang lebih tepat namun pengertian di atas dapat menjadi gambaran sederhana tentang sampah jenis ini.

Makanan tersaji di piring ‘orang kota’ yang bisa makan apa saja karena tebalnya kocek mereka. Wisata kuliner menjadi tren. Makan bukan saja memenuhi kebutuhan nutrisi namun juga gengsi. Apa yang dimakan tampil di halaman-halaman media sosial penikmat kuliner. Piring sisa makanan berserakan. Ditinggal penuh kebanggaan tanpa rasa berdosa.

Sebuah mata rantai panjang dilewati dari produsen hingga pemakai. Sayur-sayuran, misalnya, ditanam petani terutama di daerah pedesaan. Terkadang terbuang karena harganya jatuh atau tidak tertampung pasar. Tak jarang tomat, cabe, dan berbagai jenis sayuran dibiarkan membusuk di lahan pertanian. Biaya memanennya pun tak sanggup ditutup oleh harga di tingkat petani.

Belum lagi di pasar tradisional bahan pangan tidak disimpan dengan cara modern. Semakin cepat rusak atau kedaluarsa. Bahkan dalam hitungan jam. Walaupun Pemerintah sudah membangun tol darat dan laut belum sepenuhnya dapat menekan resiko ini. Banyak bahan pangan atau makanan yang terbuang sebelum sampai di lapak-lapak pedagang.

Maka upaya untuk menekan sampah pangan ini menjadi kerja besar. Kesadaran ini telah melahirkan Milan Urban Food Policy Pact (Pakta Kebijakan Pangan Perkotaan) yang dirilis Pemerintah Kota Milan pada 14 Oktober 2015. Pakta itu ditandatangani oleh 184 walikota. Sayangnya belum ada kota di Indonesia yang terlibat dalam inisiatif ini.  Sistem pangan sehat yang berkelanjutan telah menjadi isu positip yang ditularkan ke berbagai penjuru dunia.

Gerakan untuk menekan sampah pangan ini mulai muncul di kalangan civil society dan swasta di Indonesia. Ada Gerakan Indonesia Berseru, Tani Panen, Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia, dan elemen lainnya. Partisipasi masyarakat tentu sangat berarti. Dengan menekan sampah sejak hulu hingga hilir sangat berarti bagi semua. Semakin kecil jumlah sampah makanan semakin banyak sesama kita yang terhindar dari kelaparan.

Ayo mulai! Kembangkan dan tularkan gagasan cerdasmu untuk menekan sampah makanan!