Siapa Pembunuh Don Quixote? (Bagian 1)

Siapa Pembunuh Don Quixote? (Bagian 1)

LAKBAN- Sebuah film dirilis dengan judul yang menantang imajinasi. The Man Who Killed Don Quixote? Begitu judulnya. Dan kita bertanya-tanya tentang apa yang akan dikisahkan film ini. Dan sebelum kita mengupas filmnya ada baiknya kita mengulik Kisah dan Tokoh legendaris yang kontroversial dalam Novel Don Quixote de La Mancha alias Ksatria Kisot dari Kota Mancha.    

Don Kisot, begitu kita mengejanya, menjadi nama yang dikenal dunia. Tokoh sekaligus judul novel modern pertama yang terbit di Spanyol. Bayangkan, tahun 1605 novel ini terbit. Kala bangsa Eropa belum berkuasa dalam mengatur politik dan perdagangan di Nusantara.

Ada fakta yang mengejutkan! Kisah novel ini ternyata saduran dari kisah klasik yang ditulis pengarang Mesir. Miquel de Cervantes sang penulis novel Don Quixote baru mengakuinya di penerbitan kedua tahun 1615. Penerjemahannya dibantu oleh orang Moor. Tapi bagaimanapun sebagai karya Don Quixote telah melekat pada nama Cervantes.

Karakter Don Kisot ini menarik dikupas lagi. Di tengah perbicangan hangat tentang munculnya kerajaan dan imperium baru di sekitar kita. Imajinasi masyarakat petani akan hadirnya Ratu Adil yang akan mengubah tatanan dunia. Mimpi yang bersemi tatkala demokrasi dan negara modern tak mampu memberi keadilan pada ‘wong cilik’.

Inilah kisahnya. Seorang petani tua bernama Alonzo Quinjano yang hidup di distrik La Mancha Spanyol  terhitung orang yang gila baca. Ia terobsesi dengan tumpukan buku-buku di rumahnya yang bercerita tentang seorang Ksatria yang gagah berani.

Tak hanya dibaca berulangkali, Sang Petani acapkali memeperagakan segala yang tertulis dalam buku-buku itu. Inspirasi tentang kepahlawanan berubah menjadi ilusi. Ia tak lagi mampu membedakan antara imaji dan realita.  

Isi kepala Alonzo sudah menyerap dan menyalin seluruh gambaran kstaria dari lembaran—lembaran buku. Semua bayangan tentang sosok dan sikap ksatria nampak begitu nyata baginya. Itulah imajinasi bagai pisau bermata dua. Bisa menjadi pemandu cita-cita. Dapat pula menjadi halusinasi yang membunuh realita.

Puncak kisah adalah romansa epik yang menggigit. Alonzo memiliki ide untuk berpetualang sebagai seorang kesatria demi membela yang benar dan memerangi kejahatan. Ia lalu mengganti namanya dari Alonzo Quinzano menjadi Don Quixote dan menamai kuda keledai di kandangnya dengan sebutan Rocinante sebagai kuda tunggang kesatria.

Mimpi menyelamatkan dan memimpin dunia begitu rupa menjadi idealita di benak banyak orang. Kerajaan, imperium, dan sistem nomokrasi menjadi impian yang tak bisa begitu saja dianggap tiada. Kisah Don Kisot alias Petani Alonzo menjadi cermin bagi kita untuk memahami realitas yang terkadang samar terbungkus utopia.

Tertarik? Baca Novelnya dan tonton filmnya!

(Bersambung)