SMK, Penopang Pertumbuhan Ekonomi

SMK, Penopang Pertumbuhan Ekonomi
Siswa SMK Muhammadiyah 1 Bantul, Yogyakarta.

RABU, 5 Desember 2018. Jalan Parangtritis, Area Sawah, Bantul Yogyakarta tak begitu dipadati riuh kendaraan. Cuaca tampak cerah. Tak begitu terik. Matahari tersipu. Malu-malu. Sesekali bersembunyi di balik tirai awan. Hari itu alam seakan memberi restu. Cericit burung di rindang pepohonan memberi isyarat dukungan. Tentang agenda Akreditasi SMK Binaan Daihatsu Program ‘Pintar Bersama Daihatsu” sekaligus juga SMK rujukan untuk program Revitalisasi SMK, di SMK Muhammadiyah 1 Bantul (Musaba) di tanah sejuta keindahan, Yogyakarta.

Ada adagium menarik dalam masyarakat. Yang mengatakan Yogyakarta diciptakan Tuhan dalam keadaan tersenyum. Kabarnya, ungkapan ini menyiratkan bahwa apa pun yang dilakukan di Yogyakarta akan selalu terkenang dan saat kita mengenangnya, secara bersamaan pula ada optimisme yang membuncah

Ya, saat banyak survei dan anggapan yang menyebut SMK sebagai intsitusi penyumbang tertinggi pengangguran, seketika itu pula terbantahkan dengan apa yang kita lihat dan rasakan setelah berkunjung ke SMK Musaba, Bantul Yogyakarta. Sebaliknya, muncul keyakinan bahwa SMK sesungguhnya penopang pertumbuhan.

Survei Angkatan Kerja Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 mencatat dari 6,8 juta jumlah pengangguran, 20,7% atau 1,4 juta orang di antaranya berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jumlah ini cukup besar mengingat lulusan SMK sebenarnya disiapkan untuk dapat terjun langsung ke dunia industri.

Data ini muncul, karena memang di masa awal pencarian kerja para lulusan SMK, mereka juga melakukan semacam seleksi. Keluar masuk, untuk meraih posisi yang lebih nyaman dan penghasilan lumayan.

Menko Perekonomian, Darmin Nasution, saat menyampaikan Keynote Speechnya dalam acara Rembuk Pendidikan Kejuruan SMK, 2018, di Hotel Pulman Jakarta, (5/12/2018) mengatakan, bahwa ada dua alasan kenapa lulusan SMK dikatakan penyumbang pengangguran terbanya; pertama, anak-anak muda yang pasti memilih-milih pekerjaan; kedua, link and matchnya antara yang diberikan pendidikan dana pa yang dibutuhkan oleh lapangan pekerjaan.

Darmin mengatakan, sesungguhnya lulusan SMK memiliki kualitas dan potensi yang luar biasa. Misalnya saja, kata dia, beberapa saat lalu anak-anak SMK pada Asia World Skills di Abu Dhabi meraih 6 medali emas dan 3 medali perak. “Saya ingin menyampaikan apresiasi dan kehormatan kepada para pemenang. Hal ini menunjukan bahwa kalau kita pilih siswa yang bagus-bagus maka bisa bersaing dengan tamatan/murid-murid di negara lain,” ujarnya.

Menko Darmin menambahkan, terdapat 4 (empat) perkembangan tren global terkait SDM di era industri 4.0 yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan vokasi, utamanya SMK. Tren pertama, munculnya teknologi digital yang memungkinkan orang dapat bekerja di mana saja.

Tren kedua, peran Long Life Learning. “Dengan kemajuan digital, pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan di sekolah formal saja dan memungkinkan akses pendidikan ke seluruh pelosok Indonesia,” kata Menko Darmin.

Tren ketiga, penggunaan media sosial yang banyak memunculkan talenta secara global tidak peduli seberapa jauh lokasinya. Tren keempat, manajemen kinerja berbasis analisis data. Maksudnya, kinerja seseorang tidak lagi diukur berdasarkan jumlah jam, kerja tetapi berdasarkan produktivitas mereka.

“Menghadapi persoalan kesenjangan ekonomi dan tren global tersebut, revitalisasi SMK secara menyeluruh mendesak dilakukan. Dimulai dari perbaikan kurikulum SMK yang sesuai dengan kebutuhan di masa depan, termasuk sertifikasi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), program pemagangan di industri untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas siswa, Training of Trainers Guru, hingga memperbaiki sistem seleksi yang sesuai keahlian dan meningkatkan minat calon siswa menjadi siswa SMK” tutur Menko Darmin.

Lebih lanjut Menko Darmin menjelaskan, Ia kini memiliki jurus baru yang efektif untuk merevitalisasi SMK. Caranya dengan menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi.
“Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Pemprov lebih mengetahui kebutuhan dan potensi daerah yang harus dikembangkan dan kewenangan SMK ada pada Pemerintah Provinsi sehingga revitalisasi dapat dilakukan secara masif dan sesuai kebutuhan daerah,” jelas Menko Darmin.

Pemerintah sendiri telah membuat pilot project untuk Jurusan Kopi di Jawa Barat. Pilot project yang sudah dimulai pada tahun ajaran 2018 ini melibatkan 66 siswa. Output yang dihasilkan dari pilot project ini, selain mendapatkan ijazah, seorang siswa akan mendapatkan 6 kompetensi keahlian dalam 3 tahun.

Selain itu, untuk menyelaraskan kebijakan pengembangan tenaga kerja, Kemenko Perekonomian bersama Kemdikbud dan lembaga terkait dibantu oleh World Bank Group, telah menginisiasi dan menjalankan program Skill Monitoring System (SMS).

“Dalam SMS ini, terdapat 35 Critical Occupation List (COL), yang dibutuhkan saat ini dan mendatang. COL sendiri bertujuan untuk memberikan informasi skill dalam pasar kerja, sehingga dunia pendidikan, termasuk SMK dapat mengetahui keahlian apa yang dibutuhkan oleh industry,” jelas Menko Darmin.

Sebagai penutup Menko Darmin berpesan perlu dukungan dari semua pihak agar revitalisasi SMK dapat terwujud.

“Merevitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi, utamanya SMK, bukan hanya dapat mengurangi pengangguran, tetapi lebih dari itu dapat mengantarkan perekonomian Indonesia sejajar dengan negara negara maju lainnya, dan menjadikan SDM yang berdaya saing tinggi hingga ditingkat global. Oleh karena itu perlu dukungan dari semua pihak untuk mewujudkan hal tersebut,” pungkas Menko Darmin.