Soal Pendataan Medsos, Menristekdikti Bantah Berantas Kebebasan Mahasiswa

Soal Pendataan Medsos, Menristekdikti Bantah Berantas Kebebasan Mahasiswa
Menristekdikti Muhamad Nasir/net

MONDAYREVIEW - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menampik kabar bahwa pihaknya mengekang kebebasan mahasiswa terkait akan adanya kebijakan mendata media sosial mahasiswa dalam rangka mencegah radikalisme di kampus.

“Kami bukan memberantas kebebasan. Kebebasan berjalan terus, ini merupakan langkah antisipasi,” tutur Nasir di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, (7/6/2018).

Ia menyebutkan tidak ada sama sekali pembatasan bagi mahasiswa untuk berkarya di bidang apapun. Namun, merupakan sebuah kewajiban universitas untuk mengawasi ketat setiap kegiatan mahasiswa agar tidak terpapar oleh pemahaman yang radikal.

Selain itu, Nasir juga menyebutkan, pihaknya tidak melarang mahasiswa belajar berbagai macam keilmuan dan paham politik. Namun harus tetap berada pada jalur yang berpegang teguh pada NKRI. Justru kata dia, dengan pemahaman keilmuan yang beragam membuat cara pandang mahasiswa meluas.

“Komunis silakan kalau itu dalam kajian akademik, tapi negara telah memilih sesuai konvensi yaitu Pancasila sebagai ideologi negara,ini yang penting,” ungkap Nasir.

“Dulu saya juga belajar marxist dan teori komunis saya juga belajar teori sosialis saya juga belajar tapi apakah saya jadi komunis kan enggak,” imbuhnya.

Sebelumnya Nasir menyebutkan, Pihaknya berniat menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mendata media sosial mahasiswa dalam rangka mencegah terpaparnya lingkungan kampus dari paham radikal.

"Medsos mahasiswa akan dicari, kami lakukan penelusuran, gimana sih jejaknya. Profiling gitu agar terhindar (dari radikalisme)," ujar Nasir.