Tangguhnya Negosiator China Menguji Kesabaran Trump

Tangguhnya Negosiator China Menguji Kesabaran Trump

MONDAYREVIEW.COM – Perang dagang AS – China belum sepenuhnya reda. AS tetap menekan China untuk mematuhi butir demi butir kesepakatan yang telah mereka capai. Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat mungkin akan mempertahankan bea masuk bagi produk Cina dalam jangka waktu tertentu sampai Beijing tunduk pada setiap perjanjian perdagangan.

Kemungkinan alotnya implementasi hasil kesepakatan kedua negara masih terlihat nyata. Pemerintah AS sebelumnya memberlakukan bea masuk bagi barang impor dari Cina senilai 250 miliar dolar. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Washington akan mencabut bea masuk tersebut jika mencapai kesepakatan perjanjian perdagangan dengan Beijing. Padahal dunia berharap agar implementasi kesepakatan itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia.

AS terlihat masih berhati-hati dan belum sepenuhnya percaya pada iktikad baik China untuk mematuhi kesepakatan dagang sepenuhnya. Trump pada Rabu (20/03/2019) mengatakan, otoritas AS berbicara tentang menerapkan bea masuk bagi produk Cina untuk periode waktu tertentu karena ingin memastikan bahwa apabila kedua negara mencapai kesepakatan, maka Cina akan mematuhinya.

Sikap yang membuat berbagai kalangan skeptis menunggu siapa yang akan memulai langkah-langkah signifikan dalam implementasi atas apa yang mereka sepakati. Beberapa media AS melaporkan kekhawatiran atas prospek pembicaraan perdagangan AS-Cina, karena sikap AS yang tidak mencabut bea masuk justru akan membuat Cina mengeras.

Upaya untuk mengantisipasi kemungkinan kemandegan proses tersebut segera dilakukan. Kedua negara berencana untuk menggelar pertemuan tingkat menteri di Beijing mulai pekan depan. Harapan tentu sangat besar bagi kebaikan dan keuntungan semua fihak, terutama kedua belah fihak.

Optimisme pada proses negosiasi perang dagang masih ada. Karena dunia kini berada dalam situasi yang sulit bila proses implementasi kesepakatan dagang berlarut-larut. Pengamat menilai persengketaan perdagangan yang berkepanjangan bisa memperburuk pelambanan ekonomi global.

AS selama ini menilai bahwa surplus perdagangan China didorong oleh faktor kecurangan dan ketidakadilan. China tidak menerima klaim bahwa kebangkitan ekonomi dan industrinya didasarkan pada pencurian kekayaan intelektual dan pemaksaan transfer teknologi selama puluhan tahun.

Dalam laporan yang terkait dengan perundingan di Beijing beberapa waktu lalu, China akan membuat subsidi industri sesuai dengan aturan yang relevan dari Organisasi Perdagangan Dunia, tetapi tidak mau membahasnya dengan pemerintah Amerika. China ingin bekerja dengan WTO untuk menyelaraskan kebijakannya dengan aturan perdagangan dan prosedur arbitrase yang ada. Amerika Serikat dapat berpartisipasi dalam musyawarah tersebut sebagai anggota WTO lainnya.

Ketangguhan para negosiator China dinilai akan sangat menguji kepiawaian koleganya dari AS. Kita tunggu kelanjutannya.