Taufiq Ismail tentang Nasib Bangsa yang Menelantarkan Literasi

Taufiq Ismail tentang Nasib Bangsa yang Menelantarkan Literasi
Taufiq Ismail / Arie Aprian - Monday

MONDAYREVIEW – Di era digital sekarang ada banyak kemudahan dalam mengakses bacaan dan sumber informasi. Buku dan koran yang tercetak sudah semakin terdesak oleh penggunaan gawai yang relatif lebih murah. Khalayak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar gawai. Bacaan bagus termasuk karya sastra tentu juga bisa didapatkan di dunia maya. Namun informasi yang destruktif dan tidak mendidik pun tersedia bahkan membanjir bagai tsunami.

Saat ini, tatkala budaya baca di kalangan masyarakat Indonesia belum juga tumbuh bersemi, sudah dihantam oleh lahirnya teknologi yang menyajikan informasi yang serba instan. Banyak yang lalai. Menjadi konsumtif dan tidak produktif. Sehingga bangsa ini tak beranjak ke tingkat peradaban yang lebih tinggi.

Hipotesis di atas mendorong Mondayreview.com untuk membincangkannya dengan sastrawan Taufiq Ismail. Pada Rabu (21/11/2018) wawancara yang hangat berlangsung di kediaman budayawan asal Minang ini.   

 “Kami para sastrawan selama 20 hingga 30 tahun terus berupaya mendampingi pemerintah supaya literasi kembali berjaya seperti di zaman penjajahan” , ungkap Taufiq Ismail. Dalam pengamatannya, selama 70 tahun pasca kemerdekaan, pendidikan kita menelantarkan sastra.

Menurut Taufiq, para sastrawan dan masyarakat luas harus berupaya untuk terus membujuk agar publik terutama anak-anak membaca buku-buku yang memang seharusnya dibaca sesuai jenjang usianya. Jangan hanya mengajarkan muatan eksakta, hukum, dan ilmu sosial.  Himbauan untuk membaca dan belajar sastra memerlukan kegigihan dalam pelaksanaannya. Dimulai dari orang-orang terdekat dan keluarga.

Perjuangan dan gagasan untuk mengembangkan sastra memerlukan wujud nyata. Bersama para sastrawan Taufiq Ismail di tahun 90-an menggerakkan kegiatan literasi di sekolah dan perguruan tinggi secara massif. Dukungan pendanaan untuk kegiatan tersebut dari Yayasan Ford, tanpa menggunakan APBN. Dan dukungan pemerintah dalam bentuk kesempatan dan kerjasama dengan sekolah dan perguruan tinggi sangat berarti.

Program yang menghadirkan sastrawan berbicara di sekolah dan kampus sangat efektif menggugah minat baca para siswa dan mahasiswa. Apalagi gerakan ini menghadirkan bacaan wajib dalam bentuk 7 kitab sastra yang dicetak sekitar 60 ribu eksemplar dan didistribusikan mengiringi program lainnya. “Sayang, kegiatan tersebut tidak dilanjutkan, “ imbuhnya.

Taufiq Ismail juga sangat risau dengan apa yang terjadi di luar dunia pendidikan. Di gelanggang politik, keadaannya sangat mengkhawatirkan. “Ada kekuatan besar di luar negeri yang ingin menguasai negeri kita. Terutama RRC yang sesungguhnya telah mengkhianati ideologi Marxisme dan Leninisme dan menjadi sangat makmur  setelah berpaling pada Kapitalisme”, kata Taufiq.

Di usia senja, Taufiq Ismail terus berjuang untuk bangsa. Salah satunya dengan mendirikan Rumah Puisi di tanah kelahiranya Aiek Angek, Sumatera Barat. Buku-buku koleksinya diangkut ke situs tersebut. Dan secara rutin, sastrawan yang memiliki gelar dokter hewan ini pergi pulang dari kediamannya di Jakarta ke Rumah Puisi yang didirikan dan diasuhnya.

Lewat puisi dan syair-syair lagunya yang indah, sastrawan ini telah menginspirasi banyak orang. Kata-kata yang dirangkainya membidik pusat kesadaran khalayak untuk peduli pada nasib bangsa, bergandeng tangan menyelamatkan pendidikan, membangun watak yang berintegritas, dan tentu saja mendekat kepada Tuhan yang Maha Kuasa dalam setiap gerak dan langkah. Tak hanya pada sastra, Taufiq Ismail mengungkapkan kepeduliannya pada seluruh gerak seni-budaya. Tak henti-henti. Penuh semangat dan vitalitas.