Techno Review : 3D Printing Sudah Mendisrupsi 10% Manufaktur  

Techno Review : 3D Printing Sudah Mendisrupsi 10% Manufaktur  
3d printer/bhpotovideo.com

MONDAYREVIEW.COM – Industri manufaktur Indonesia semestinya sedang tumbuh pesat. Agar impor barang dapat ditekan. Kebutuhan dalam negeri dapat dipasok pabrik-pabrik kita sendiri. Dan ekspor produk bernilai tambah dapat digenjot.

Banyak barang dalam industri manufaktur dibuat dengan mesin-mesin canggih. Termasuk mesin bubut dengan CNC (computer numerical control). Berbagai produk juga dibuat menggunakan mesin molding injection dimana pembentukan material termoplastik  yang dilelehkan dengan pemanasan lalu diinjeksikan oleh plunger ke dalam cetakan yang didinginkan oleh air sehingga mengeras. Ada juga yang menggunakan teknologi plastic forming. Yg

Industri 3-D PRINTING tumbuh sangat pesat. Tak lama lagi diramalkan akan menjadi mainstream dalam manufaktur dunia. Apa yang digantikan? Salah satunya adalah teknologi molding injection. Untuk skala produksi massal mesin-mesin molding masih merajai di pabrik-pabrik. Disamping mesin-mesin CNC dan plastic forming.

Proses percetakan 3D menggunakan konsep sederhana, di mana printer bekerja dengan mencetak material berlapis-lapis sehingga hasi. lnya membentuk objek tiga dimensi. Printer 3D umumnya mampu mencetak semua jenis bahan.

Teknologi ini telah bergerak jauh. Awalnya hanya untuk pembuatan prototipe, perkakas yang dibutuhkan segera, pernak-pernik, dan mainan.

Ada beberapa printer 3D  yang digunakan untuk sekedar hobi dijual di marketplace. Kebanyakan menggunakan teknologi FDM (Fused Deposition Modeling). FDM merupakan teknologi yang paling simpel karena mesin 3D printing benar-benar mengandalkan lelehan dari filamen plastik atau kawat logam tanpa melibatkan perangkat lain seperti sinar ultraviolet.

Untuk yang lebih serius banyak yang menggunakan teknologi SLA (Stereolithography Apparatus). Sumber cahayanya adalah laser atau proyektor digital (teknologi ini sering disebut DLP - Digital Light Processing). Laser "menggambar" lapisan; dalam DLP, seluruh potongan (lapisan dua dimensi) dari model diproyeksikan sekaligus ke dalam bak resin.

Printer Laser SLA biasanya lebih lambat daripada model DLP karena permukaan kecil dari sinar laser. Dalam printer DLP, setiap lapisan mengeras lebih cepat karena seluruh gambar dari satu lapisan diproyeksikan ke resin.

Selain itu, proyektor DLP lebih dapat diandalkan dan lebih mudah dirawat daripada sistem laser khusus karena proyektor menggunakan teknologi yang sama dengan proyektor bisnis dan bioskop rumah. Model yang dicetak harus menjalani proses pasca-pemrosesan.

Untuk SLA, merupakan teknologi yang lebih canggih dengan sinar ultraviolet dengan hasil yang lebih detail serta lebih tahan lama dari FDM, namun membutuhkan alat dan bahan lebih untuk finishing-nya sehingga cocok untuk benda yang memiliki detail kecil seperti cincin.

SLS memiliki teknologi yang lebih canggih dari SLA karena menggunakan laser, alatnya lebih besar, hasil bisa full color, finishing butuh alat lebih sedikit dari SLA, namun pengerjaan printing-nya jauh lebih mahal

Bahan-bahan yang digunakan dalam pencetakan 3D adalah plastik, logam, dan filamen kayu. Material plastik biasanya sesuai untuk printer 3D murah yang menggunakan Fused Filament Fabrication (FFF). Pada dasarnya, bahan print 3D yang digunakan berupa tali plastik yang dipanaskan hingga lentur kemudian diproses melalui mesin layering plastik.

Beberapa jenis printer dapat beroperasi menggunakan bubuk logam yang dipanaskan kemudian dipadatkan untuk membuat bentuk tiga dimensi.

Filamen logam untuk produksi printing 3D sebenarnya merupakan material termoplastik yang dicampurkan dengan sedikit logam. Dibandingkan termoplastik biasa, material ini lebih berat. Logam untuk produksi printing 3D antara lain perunggu, besi, tembaga, dan baja. Produk yang dibuat dari logam umumnya memerlukan proses akhir yang lebih rumit untuk menghasilkan tampilan yang diinginkan.

Serat kayu yang ditambahkan pada filamen plastik menghasilkan filamen kayu. Produk yang dihasilkan dari material ini tampak menarik dan estetik. Tampilannya juga menyerupai produk yang dibuat dari kayu asli, dapat dipotong, diampelas, ataupun dicat. Namun, dari segi fungsinya tidak sama dengan kayu yang sebenarnya. Contohnya, material ini tidak dapat digunakan untuk menghasilkan furnitur seperti kursi atau meja.

Awal revolusi muncul dalam survei PwC 2014 atas lebih dari 100 perusahaan manufaktur. Pada saat survei, 11% sudah beralih ke volume produksi suku cadang atau produk 3-D-cetak. Menurut analis Gartner, teknologi adalah "arus utama" ketika mencapai tingkat adopsi 20%.

Di antara banyak perusahaan yang menggunakan pencetakan 3-D untuk meningkatkan produksi adalah GE (mesin jet, peralatan medis, dan bagian peralatan rumah), Lockheed Martin dan Boeing (aerospace dan pertahanan), Aurora Flight Sciences (kendaraan udara tak berawak), Invisalign (piranti gigi), Google (elektronik konsumen), dan perusahaan Belanda LUXeXcel (lensa untuk dioda pemancar cahaya, atau LED).

3-D printing menjadi alternatif yang layak untuk proses manufaktur konvensional dalam semakin banyak aplikasi. Pada tahun 2014 penjualan printer 3-D tingkat industri di Amerika Serikat sudah sepertiga volume otomasi industri dan penjualan robot. Diperkirakan angka tersebut meningkat menjadi 42% pada tahun 2020.

Semakin banyak perusahaan akan menggunakan 3D printing  seiring dengan berkembangnya berbagai bahan yang dapat dicetak selain plastik dasar dan resin fotosensitif. Bahan lain seperti keramik, semen, kaca, berbagai logam dan paduan logam, dan komposit termoplastik baru yang diberi nanotube karbon dan serat.

Meskipun biaya langsung untuk memproduksi barang dengan metode dan bahan baru ini seringkali lebih tinggi, fleksibilitas yang lebih besar yang diberikan oleh 3D printing total biayanya dapat jauh lebih rendah.