Ujian Kemanusiaan Itu Bernama Rasisme

Ujian Kemanusiaan Itu Bernama Rasisme
Sumber gambar: republika.co.id

MONDAYREVIEW.COM - Rasa-rasanya, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang bisa memilih dari orang tua mana dia dilahirkan. Yang kita tahu adalah, bahwa kita sudah lahir sebagai manusia ke dunia ini dari orang tua yang berbeda-beda. Ada yang terlahir sebagai anak berkulit putih, berkulit hitam, bermata sipit, berambut lurus, berambut keriting, semua itu di luar kuasa kita.

Kita pun tak bisa memilih apakah dilahirkan dari orang tua kaya raya, atau sengsara. Kita tak bisa memilih dilahirkan sebagai suku Sunda, Jawa, Minang atau Bugis. Yang jelas kita sudah lahir dengan sesuatu yang bukan kita yang memilih. Oleh karena itu, menjadi tidak rasional saat seorang manusia, membenci manusia lainnya karena sesuatu yang diluar kehendaknya.

Peristiwa pembunuhan George Floyd yang berkulit hitam oleh seorang polisi kulit putih membangkitkan kemarahan publik di Amerika Serikat. Kasus George Floyd membuka mata dunia bahwa rasisme belum sepenuhnya bisa dihapuskan di negara adidaya tersebut. Sentimen berdasarkan warna kulit masih menjadi api dalam sekam yang bisa membakar sewaktu-waktu.

Benar saja, puluhan ribu massa penuhi Washington DC sebagai bentuk solidaritas dan protes terhadap tindakan rasisme yang dilakukan oknum polisi Minneapolis bernama Derek Chauvin. Aksi demonstrasi tersebut diwarnai dengan tindakan vandalisme terhadap berbagai fasilitas bisnis milik swasta. Derek Chauvin pelaku pembunuhan diadili dan muncul wacana pembubaran kepolisian Minneapolis.

Pada masa lalu, sentimen rasisme dijadikan seolah-olah ilmiah guna melegitimasi perbudakan kulit putih terhadap kulit hitam. Seiring dengan penghapusan perbudakan dan deklarasi hak asasi manusia, rasisme kemudian menjadi perbuatan tercela dan tidak dibenarkan di mata hukum. Walaupun begitu, sisa-sisa sentimen ini tak mudah dilenyapkan.

Mengapa masih ada sentimen rasisme pada zaman dimana HAM dijunjung tinggi? Jawabannya adalah masih melekatnya stigma yang beredar di masyarakat terhadap ras tertentu. Contohnya kulit putih masih menganggap bahwa orang kulit hitam adalah tidak berpendidikan, pelaku kriminal, jorok dll. Padahal sikap menggeneralisir suatu kasus terhadap keseluruhan komunitas tidak dibenarkan secara logika.

Jika dalam suatu komunitas kulit hitam, ada anggotanya yang melakukan kriminal, kita tidak boleh mengatakan bahwa seluruh manusia berkulit hitam adalah pelaku kriminal. Faktanya orang kulit putih pun ada juga yang melakukan kriminal, namun mengapa stigma hanya muncul pada orang kulit hitam? Lagi pula jika kita lihat secara kritis, orang kulit hitam tertinggal dari kulit putih karena kebijakan pemerintah yang diskriminatif dan mengutamakan kulit putih.

Ada pepatah mengatakan, kuman di seberang lautan tampak, gajah di di pelupuk mata tak tampak. Jauh-jauh kita mengkritik rasisme yang terjadi di negeri Paman Sam sana. Apakah di negeri kita sendiri sudah bebas dari rasisme? Saya katakan belum. Memang sentimennya tidak sekeras di Amerika, namun benih-benih rasisme masih ada. Contohnya adalah rasisme yang diterima oleh masyarakat Papua yang tinggal di luar Papua.

Masih ada stigma-stigma tertentu yang diberikan oleh oknum terhadap orang asli Papua. Alasan yang dipakai beragam, diantaranya adalah ketidaksetujuan dengan gerakan separatisme yang dilakukan OPM. Tentu saja tidak setuju dengan OPM tidak lantas melegitimasi perbuatan rasisme. Mari lawan gagasan dengan gagasan, bukan dengan stigma. Justru jika kita ingin Papua tetap menjadi bagian dari Indonesia, perlakukanlah mereka dengan simpatik. Utamakan pendekatan kemanusiaan dibanding kekerasan.

Rasisme adalah ujian kemanusiaan kita. Apakah kita benar-benar mempunyai rasa kemanusiaan otentik, atau kemanusiaan kita masih tersekat-sekat oleh primordialisme berupa perbedaan ras. Kalau saya sih, tentu memilih kemanusiaan otentik dibandingkan kemanusiaan yang semu.