Ulama, Politik, dan Kekuasaan

Ulama, Politik, dan Kekuasaan
Ilustrasi foto/Net

PERHELATAN pesta demokrasi, baik Pilpres, Pileg, maupun Pilkada adalah peristiwa yang berkaitan dengan politik. Meski begitu, setiap kali pentas politik tersebut digelar, selalu saja unsur agama ditarik-tarik masuk dalam kontestasi tersebut.

Politik identitas pun kemudian menjadi wacana yang ramai diperbincangkan. Bukan hanya soal elok atau tidaknya politik identitas dijadikan sandaran electoral. Namun juga dengan fakta bahwa makin banyaknya paslon dan cawan yang berasal dari kalangan ulama dan kelompok agama lainnya yang berani tampil ke muka, mengepalkan tangan sambil meneriakan penolakan terhadap ideologi loe lagi-loe lagi.

Mereka ingin sesuatu yang baru, dan mengaku muak dengan kelakukan para politisi dan penguasa yang ada. Mereka menjadi trend dan menggurita, terutama setelah Orde Baru terjungkal tahun 1998, serta dimulainya era reformasi.

Era reformasi dan terutama sejak kita punya dunia yang sama sekali baru, yaitu peradaban digital. Para ulama dan tokoh agama lainnya seperti menemukan kanal-kanal tepatnya. Mereka merasa nyaman, lalu mulai berani kembali tampil ke publik lalu memberikan pengaruhnya.

Kalau pun tak menjadi kandidat atau calon pemimpin politik, para ulama dan tokoh agama lainnya mulai ikut sibuk menjadi corong para politisi dan kandidat atau pasangan calon (paslon) tertentu.

Dalam konteks ini, menarik untuk menelisik temuan Lingkaran survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis Rabu (14/11/2018) kemarin. Survei tersebut terkait Ulama dan Efek Elektoralnya. Survei nasional yang dilakukan 10-19 Oktober 2018 itu menyebutkan bahwa tokoh agama adalah orang yang paling kuat pengaruhnya terhadap pemilih. Ada sekitar 51,7 persen pemilih menyatakan bahwa mereka mendengar imbauan dari tokoh agama seperti ulama, pastor, biksu dan lainnya.

“Tokoh yang lain hanya di bawah 20 persen. Mereka yang menyatakan mendengar politisi 11 persen, dan imbauan atau pendapat pengamat hanya 4,5 persen,” kata peneliti LSI Ikrama masloman di Kantor LSI, Jakarta Timur, Rabu (14/11/2018).

Dalam survei tersebut, ditemukan pula bila pengaruh tokoh agama paling merata di semua segmen pemilih. Baik mereka yang berpendidikan tinggi maupun rendah. “Baik di mereka yang berpendapatan tinggi wong cilik, mereka yang merupakan pemilih milenial maupun pemilih lansia, semua segmen pemilih partai dan capres,” jelasnya.

Ini menunjukkan ada tren bahwa di lapisan masyarkat mana pun, ulama menampati posisi utama dalam soal pengaruh. Termasuk di kalangan artis dan milenial. Bisa kita saksikan beberapa orang artis dengan gaya berpakaian khas, berbondong-bondong mengikuti pengajian beberapa ustadz ternama saat ini dengan penuh semangat.

Temuan lainnya yang menarik, terdapat lima ulama yang paling didengar imbauannya oleh masyarakat, yakni Ustadz Abdul Somad, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansur, AA Gym, dan Rizieq Shihab.

Ikrama Masloman menyatakan ulama merupakan profesi paling kuat pengaruhnya terhadap masyarakat dibanding tokoh lainnya seperti politikus atau pengusaha.

Hasil survei tersebut menyebut, ada lima ulama yang dianggap paling berpengaruh. Mereka adalah Ustadz Abdul Somad, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansyur, Ustadz Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), dan Rizieq Syihab.

“Mereka yang mendengar imbauan Ustadz Abdul Somad sebesar 30,2 %. Ustadz Somad adalah ulama yang paling didengar suaranya atau imbauannya dari kelima tokoh tersebut atau paling didengar suaranya dari semua tokoh ulama,” kata Ikrama.

Menariknya, tokoh Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab yang selama ini dianggap paling berpengaruh di kalangan umat Islam, justru berada di peringkat kelima atau peringkat terakhir ulama berpengaruh versi LSI Denny JA. Jauh di bawah Ustad Arifin Ilham sebesar 25%, Ustads Yusuf Mansyur 24%, dan Aa Gym yang pengaruhnya sebesar 23,5%.

“Mereka yang menyatakan mendengar imbauan Rizieq sebesar 17,0%,” jelasnya.

Menurut Ikrama, Rizieq Shihab ketokohannya mulai menurun jika dibandingan dengan survei yang sama dilakukan oleh LSI Denny JA dua tahun yang lalu. Dari data sebelumnnya, pada Desember 2016, masyarakat yang mendengar imbauan Habib Rizieq sebesar 31,4%.

‘Sejak ke Arab Saudi dalam waktu yang lama dan dicitrakan berkasus hukum, pengaruh Rizieq Syihab berkurang signifikan,” terang Ikrama.

Temuan lainnya yang juga sangat menarik adalah soal pengaruh Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais. Pemilih yang menyatakan akan mendengarkan imbauan Amien Rais ternyata hanya di angka 9,4 persen saja. Ini tentu saja bertolak belakang dengan tingkat pengenalan masyarakat terhadapnya yang mencapai angka 83,1 persen.

Padahal, Amien Rais merupakan tokoh agama yang paling sering muncul ke publik dengan berbagai aksi dan komentarnya. Belum lagi bila kita melihat akun media sosialnya, terutama Instagram yang sangat aktif. Di Instagram, Amien Rais sering sekali merespon persoalan bangsa dengan alasan keagamaan. Isi videonya di akun tersebut, rata-rata ditujukan untuk mengkritik pemerintah. Video dengan judul “Pelajaran dari Firaun” yang diunggah 8 November misalnya, saat ini telah ditonton oleh 8.885 orang.

Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Drajad Wibowo, yang selama ini dikenal dekat dengan Amien Rais langsung bersuara dan membantah hasil survei tersebut. Menurutnya, Amien Rais memiliki segmen tersendiri, khususnya di kalangan PAN dan Muhammadiyah.

"Beberapa tokoh paling elite di pemerintah meminta waktu bertemu dan berdiskusi dengan Pak Amien. Padahal beliau bukan pejabat negara. Jadi survei tersebut nggak ngaruh-lah. Survei LSI kan tidak selalu tepat, apalagi sudah bukan rahasia lagi LSI menjadi surveyor/konsultan politik," ujar Dradjad.

Baik dalam konteks politik maupun di luar konteks politik, hasil survei ini tentu saja menjadi kabar yang gembira untuk kemajuan hidup berbangsa dan bernegara kita. Karena ternyata ulama-ulama yang terbiasa membangun narasi-narasi positif lah yang lebih banyak didengar oleh masyarakat. Sebaliknya, ulama dan tokoh agama yang terbiasa menebar ketakutan dan narasi negative kurang didengar oleh masyarakat.

Meski begitu, hasil survei ini juga mengingatkan kita akan nasihat Imam al-Ghazali kepada para penguasa dan juga ‘ulama’ 3 abad sebelum Maciaveli menulis buku The Prince, yang berisi saran-saran untuk mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.

Berbeda dengan Machiavelli, Imam al-Ghazali menekankan pesan keadilan kepada para penguasa. Baginya, keadilan menjadi poin terpenting jika sebuah rezim ingin mempertahankan kekuasaannya. Imam al-Ghazali bahkan menyebut, karena keadilanlah kaum Majusi bisa menguasai dunia selama 4 ribu tahun.

Sebaliknya, beliau memberikan kritik keras kepada para ulama yang menjadi biang kerusakan rakyat dan penguasa. Menurut Nadirsyah Husein, Dosen Senior di Monash Law School, paling tidak, dua kali Imam al-Ghazali mengingatkan para ulama yang masuk dalam dunia politik dan kekuasaan.

Tentu saja Imam al-Ghazali tidak semata-mata melakukan kritik kepada orang lain, namun kepada dirinya sendiri sebagai bahan introspeksi. Sudahkah para ulama menjalankan fungsinya dengan benar sehingga tidak rusak penguasa dan rakyat. Begitulah Imam al-Ghazali, yang jauh hari sudah mewanti-wanti para ulama yang hendak masuk dalam dunia politik dan kekuasaan.