Uni Emirat Arab dan Israel Makin Normal, Bagaimana Sikap Indonesia?

Uni Emirat Arab dan Israel Makin Normal, Bagaimana Sikap Indonesia?
Foto Ilustrasi/net

MONDAYREVIEW.COM - "The United Arab Emirates just signed a full diplomatic relations with the Jewish Israel Israel today. And it is full diplomatic relations"

Potongan berita itu membuat saya terkejut.  Betapa tidak. Imarat yang dianggap sebagai salah satu negara kharismatik di Timur Tengah baru saja menanda tangani persetujuan hubungan diplomatik penuh dengan negara Yahudi Israel. Dan semua itu terjadi atas usaha menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner  yang memang berdarah Yahudi. 

Negara-negara Arab yang bersahabat dengan Israel menyambut baik kesepakatan bersejarah itu, tetapi kekuatan regional Arab Saudi tetap diam setelah pengumumannya.

Dilansir dari CNBC pada jumat 14 Agustus 2020, Kushner melihat generasi muda Arab Saudi mengagumi Israel dan mencari hubungan dengan negara Yahudi tersebut. Sementara, generasi yang lebih tua masih terjebak dalam konflik di masa lalu. 

Diketahui, publik Indonesia selama ini cenderung menolak hubungan diplomatik Israel sebagai bentuk dukungan pada Palestina. Sejauhmana normalisasi hubungan UEA dan Israel?

Berikut petikan wawancara Jurnalis Mondayreview.com Natsir Amir bersama Presiden Nusantara Inka Foundation Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali, jum'at Agustus 2020. 

Apa yang anda telisik dari kerjasama ini?

Dengan kerjasama ini tampaknya beri sinyal kepada negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama.  Setelah Jordan, Mesir, Turki, Maroko, Oman, Azerbaijan, kini sebuah negara khalij (teluk) yang berpengaruh juga melakukan hal sama. Kecurigaan saya jangan-jangan hal ini akan membuka pintu bagi Saudi Dan boleh jadi juga Qatar untu melakukan hal yang sama.

Bagaimana masa depan Palestina dengan kerjasama ini?  

Bagi kita yang mengikuti perkembangan dunia dan hiruk pikuk di Timur Tengah, apa yang dilakukan oleh Imarat ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Sejak beberapa tahun terakhir pendekatan Israel, melalui lobi-lobi Yahudi Amerika sangat intens. Makanan Kosher misalnya masuk ke tokoh-tokoh besar Imarat untuk sekedar menyampaikan pesan bahwa Israel ada pengaruh di negeri itu. Padahal  di UEA hampir tidak ada Yahudi.  

Semua ini semakin tidak normal dan menjadikan masa depan Palestina suram dan tidak menentu. Negara-negara Islam semakin tidak peduli. Sementara dalam negeri Palestina sendiri dua faksi besar, Hamas dan Fatah masih saja belum menemukan titik kesamaan. 

Tentu yang paling runyam lagi adalah kenyataan bahwa negara-negara besar yang pernah dikhawatirkan oleh Israel telah hancur lebur. Tiga negara itu adalah Irak, Libya, dan Suriah. Sementara Yaman juga telah diluluh lantahkan melalui tangan besi Saudi Arabia.

Lantas bagaimana dengan posisi Indonesia?

Syukur Indonesia masih di posisi tidak mengakui Israel bersama negara-negara Muslim Asia lainnya. Tapi akankah negara-negara itu mampu terus bertahan seperti itu? Saya khawatir Pakistan, Bangladesh, dan beberapa negara Muslim Afrika seperti Chad dan lainnya tidak akan mampu bertahan lama. 

Jika saja Saudi Arabia ikut membuka hubungan diplomatik dengan Israel, maka negara-negara Muslim di Asia Selatan dan Afrika kemungkinan akan mengikutinya. Dan nampaknya Imarat menjadi pintu atau “uji coba” bagi negara-negara teluk lainnya.

Indonesia sendiri tidak akan banyak mampu berpengaruh untuk menahan negara-negara Muslim lainnya. Kebanyakan negara-negara Islam di Asia dan Afrika itu lebih mendengar kepada Saudi/Emirate/Saudi dan Turki. Dan semua nampaknya sudah atau cenderung untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Jika memakai pertimbangan “national interests” (kepentingan Nasional) semata akan ada saja yang berpikir apakah realistik Indonesia tetap bertahan dengan posisinya yang sekarang? Apa dampak positif bagi Palestina untuk Indonesia bertahan tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel? 

Tentu selain karena Indonesia tidak dianggap ancaman bagi Israel secara militer. Juga Israel tidak terlalu memilki kepentingan ekonomi dengan Indonesia. Dan tentunya Indonesia tidak berdampak kepada Israel secara geografis.

Tampaknya kerjasama itu tidak beri effect kepada Indonesia, apa nasehat anda buat negeri ini?

Saya yakin Indonesia dan bangsa Indonesia masih konsisten mengedepankan pertimbangan solidaritas ukhuwah dan kemanusiaan, yang pastinya berdasarkan Konstitusi negara. Bahwa penjajahan di atas dunia ini harus dihapuskan karena bertentangan dengan prikamusiaan dan keadilan. 

Hingga saat ini, dalam hal perjuangan Palestina saya masih bangga dengan Indonesia. Walau saya sangat berharap Indonesia akan semakin “visible” (nampak) dan “vocal” (keras dan tegas) dalam menyuarakan pembelaan kepada mereka yang termarjinalkan dan terzholimi. Baik itu pembelaan kepada bangsa Palestina, Kashmir, Rohingya, maupun Muslim di Xingjian China.

Harapan kita tentunya adalah bahwa Indonesia dengan kebijakan luar negeri yang bebas aktif, akan tetap mampu terlepas dari dari sekedar pertimbangan kepentingan-kepentingan nasional sempit yang kemudian mengorbankan atau menginjak-injak nilai luhur kemanusiaan dan Konstitusi negara.

Secara internasional sesungguhnya Indonesia dapat saja mengambil manfaat dengan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Gangguan-gangguan tentang Papua Barat akan menjadi ringan bahkan boleh jadi Belanda dan Australia akan memberikan dukungannya.

Tapi akankah Indonesia mengorbankan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan menginjak-injak Konstitusi sendiri karena kepentingan itu? 

Saya masih yakin Indonesia tidak akan melakukan itu. Apalagi hampir seluruh penduduk Muslim di negeri ini masih memiliki rasa kejujuran terhadap norma-norma universal itu. Bahwa penjajahan adalah perampasan hak yang paling mendasar dari kehidupan manusia dan bangsa. Sesuatu yang bahkan Amerika dan Barat masih disikapi dengan sikap hipokritikal (kemunafikan). 

Sungguh apa yang terjadi hari ini memang  menyedihkan....tapi itulah realita. Yang terkadang hanya bisa disikapi dengan mengurut dada. Allahu al-musta’aan wa ‘alaihi at-tuklaan!