Vietnam Melesat, Indonesia Jalan di Tempat

Vietnam Melesat, Indonesia Jalan di Tempat
Sumber gambar: antaranews.com

MONDAYREVIEW.COM – Vietnam sedang naik daun sebagai tujuan investasi di Asia Tenggara. Dibanding Indonesia, para investor lebih tertarik membuat usaha di Vietnam dikarenakan buruh yang lebih murah dan produktif. Investor yang awalnya berinvestasi di Indonesia pun lebih memilih mengalihkan usahanya ke Vietnam karena alasan tersebut. Hal ini membuat tantangan perekonomian Indonesia semakin berat, mengingat setiap tahun perekonomian Indonesia cenderung menurun. Indonesia juga dihadapkan pada kualitas sumber daya manusia yang berkejaran dengan Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia, kendala utama penanaman modal di Indonesia adalah soal birokrasi yang rumit. Aturan yang ada membuat investor tidak berminat berinvestasi di Indonesia. Akibatnya Indonesia kalah dengan Thailand dan Singapura, bahkan Vietnam yang masih berada di belakang kita secara ekonomi. Bahlil menjelaskan salah satu contohnya yakni perizinan usaha di Online Single Submission (OSS). Meski dalam tiga jam pendaftar sudah bisa langsung mendapat Nomor Induk Berusaha (NIB), namun NIB itu tidak bisa langsung digunakan untuk langsung memulai usaha. Pengusaha harus urus izin-izin lagi, dapat notifikasi dari kementerian /lembaga. Dari sana kemudian tawaf (keliling) sampai dua, tiga tahun belum selesai.

Menurut Bahlil yang pernah menjadi pengusaha, proses birokrasi yang berbelit-belit sangat merugikan. Dia mendesak kepada presiden untuk menyelesaikan permasalahan ini. Akhirnya Presiden Jokowi pun mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2019 tentang Percepatan Kemudahan Berusaha. Melalui Inpres tersebut, kewenangan perizinan berusaha dan pemberian fasilitas investasi didelegasikan langsung kepada Kepala BKPM. Inpres tersebut juga memerintahkan sebanyak 22 kementerian/lembaga yang punya kewenangan perizinan untuk menempatkan perwakilannya di BKPM. Saat ini pengurusan insentif fiskal pun sudah bisa dilakukan langsung oleh BKPM. Sekarang 22 kementerian/lembaga izinnya sudah di BKPM.

Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enni Sri Hartati mengungkapkan laporan Bank Dunia mengenai pemindahan pabrik dari China ke berbagai negara kecuali Indonesia. Ada 33 perusahaan asal China yang memindahkan pusat produksinya dari China pada Agustus 2019. Negara tujuan kepindahannya antara lain Vietnam sejumlah 23 pabrik, sisanya ke Malaysia, Mexico, India, Kamboja, Serbia dan Thailand.

Menurut Enni, ada 5 faktor yang membuat Vietnam lebih diminati untuk menjadi tujuan investasi dibanding Indonesia. Pertama terkait dengan regulasi investasi. Pemerintah Vietnam memberikan banyak kemudahan regulasi bagi para investor. Pemerintah selama ini sudah mengeluarkan berbagai insentif untuk menarik minat investor. Namun hal tersebut percuma jika perizinan masih sulit. Kedua, indeks pembangunan manusia cukup baik dengan skor 0,67 peringkat ke-48 dari 157 negara. Walaupun begitu, upah minimumnya masih tergolong rendah dibanding Indonesia yakni sekitar Rp 2,4 juta.

Ketiga, keterbukaan ekonomi menjadi daya tarik Vietnam bagi investor. Vietnam telah menandatangi sekitar 15 perjanjian perdagangan bebas yang membuat biaya ekspornya lebih murah dan efisien dibanding Indonesia. Keempat dukungan infrastruktur untuk investasi. Misalnya jaminan penyediaan listrik bagi kelangsungan industri. Pemerintah Vietnam juga memberikan subsidi listrik. Kelima, stabilitas makro ekonomi yang tercermin dari nilai mata uang yang stabil. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Vietnam melesat dari 5 persen menjadi 7 persen pada tahun 2018.