Wirausahawan Pejuang Resesi

Wirausahawan Pejuang Resesi
Adilet, pengusaha muda Kirgistan yang tangguh/ international youth foundation

MONDAYREVIEW.COM - Kehidupan berjalan naik-turun. Terkadang sedemikian cepatnya. Juga perjalanan kehidupan sebuah bangsa. Baru tahun kemarin kita menjadi negara dengan pendapatan kelas menengah. Meski tipis hanya 4 persen di atas ambang batas negara berpenghasilan rendah.

Inilah yang membuat Indonesia dianggap sudah naik kelas. Badan Pusat Statistik belum ini melaporkan pendapatan per kapita Indonesia mencapai US$3.927 pada 2018. 

Tentu kita sudah tidak berada di kelompok negara berpenghasilan rendah. Negara dengan pendapatan per kapita di bawah US$995 tergolong sebagai negara berpendapatan rendah. 

Bahkan Indonesia sudah beranjak dari kriteria negara berpendapatan menengah-bawah. Negara dengan pendapatan per sekitar US$996 hingga US$3.895 masuk ke dalam kelompok ini. 

Kita sudah masuk ke kelompok negara dengan pendapatan per kapita di antara US$ 3.896 sampai US$ 12.055. Ini artinya kita ada di deretan negara berpendapatan menengah atas. 

Nah, yang banyak diwacanakan adalah jangan sampai kita terkebak dan tak bisa naik kelas ke negara dengan berpendapatan per kapita di atas US$ 12.055. Indonesia harus berupaya untuk masuk ke kelompok negara berpendapatan tinggi. Hari depan harus lebih baik dari hari ini. 

Mungkin saja kita akan kembali ke bawah. Pandemi membawa resesi bagi dunia. Termasuk negeri kita. Padahal gaya hidup dan tingkat konsumsi cenderung sudah tinggi. Tak hanya dalam pangan dan energi.  

Sebagi ilustrasi kita dapat mencermati apa yang terjadi apa yang tergambar dalam keseharian. Misalnya di sebuah rusunawa atau pemukiman rakyat kebanyakan tampak banyak mobil berderet. Sebagian tentu menjadi alat produksi jasa transportasi alias taksi daring. Mobil bukan lagi lambang kemewahan bagi negara yang penghasilan warganya mulai beranjak naik. Akibatnya macet dimana-mana. 

Pertumbuhan yang ditopang oleh sektor konsumsi menjebak kita dalam dilema. Konsumsi harus terus dijaga namun produksi terutama ekspor juga harus digenjot. Defisit transaksi berjalan harus dikendalikan namun volume transaksi juga tak boleh kendor. 

Bulan-bulan ini mungkin Indonesia surplus dalam transaksi perdagangan. Namun itu terjadi karena impor yang merosot lebih dalam daripada ekspor. 

Salah satu agenda penting dalam mengatasi hari-hari ke depan adalah membuka peluang usaha. Mengatasi pengangguran. Dengan berbagai cara. Dan salah satu poin pentingnya adalah menumbuhkan semangat berwirausaha. Semangat untuk mandiri dan membangun usaha yang pada gilirannya membuka lapangan kerja bagi orang lain. 

Di saat resesi para wirausahawan adalah pejuang garda depan. Jangan sampai langkahnya terhambat oleh aturan dan kebijakan yang tidak perlu. Pungutan-pungutan harus dipangkas. Aturan main harus dijalankan dengan adil. Dengan fair. Bahkan bagi para pengusaha kecil berbagai program afirmasi harus dilakukan. Semangat ekonomi pemberdayaan bagi yang lemah tentu tak salah.

Seperti dicontohkan seorang pemuda di Kirgistan.  Di kota di mana orang-orang muda berjuang untuk mencari pekerjaan, Adilet, seorang mahasiswi berusia 17 tahun, mengambil bagian dalam pelatihan dua minggu tentang bagaimana memulai sebuah bisnis. Kursus ini merupakan bagian dari proyek yang dilaksanakan oleh Bishkek Business Club di bawah Jasa.kg, sebuah inisiatif kelayakan kerja yang didukung oleh International Youth Foundation (IYF) dan Badan Pembangunan Internasional AS di Republik Kyrgyzstan.

Di sanalah Adilet mengembangkan idenya untuk membuat usaha kecil menjahit. Sangat mengejutkan, rencananya cukup kuat untuk memenangkan undangan Adilet untuk menghadiri kamp bisnis satu minggu untuk memperkuat proposalnya. Akhirnya, ia menerima 21.200 som (US $ 437) melalui Jasa.kg untuk membeli bahan dan mesin guna meluncurkan perusahaan barunya. Adilet mulai memproduksi kaos di toko jahit kecil saudaranya, tetapi dia segera mengetahui bahwa dia tidak dapat bersaing dengan toko lain.

Saat para pengusaha kecil itu maju dan berkembang maka mereka akan menjadi pendukung ekonomi negara. Konsumsi akan terpacu. Daya beli naik. Lapangan lkerja terbuka. Roda ekonomi pun berputar.