Yerusalem, Siapa Pemilik Kota Suci Ini? (3)

Yerusalem, Siapa Pemilik Kota Suci Ini? (3)
Kota Yerusalem

MONDAYREVIEW- Nabi Isa alaihissalam diutus Alloh Ta’ala  kepada kaum Bani Israel untuk menyampaikan risalah Tauhid, sebagaimana para nabi sebelumnya. Inilah ajaran untuk menyembah hanya kepada Alloh dan tidak menyekutukanNya. Kaum Bani Israel, sebagian ada yang beriman, sebagian golongan lain kafir, sebagaimana disebutkan dalam Surat Ash-shof ayat 14.

Para pengikut Nabi Isa disebut kaum Hawariyyun. Merekalah yang menyebarkan ajaran tauhid, yang dikenal juga dengan orang-orang Nasrani. Sementara, kelompok dari keturunan bangsa Yahudi yang ingkar, menghasut Raja Romawi untuk menangkap dan membunuh Nabi Isa, dengan tuduhan ingin memberontak dan menjadi raja.  

Namun, konspirasi bangsa Yahudi digagalkan oleh Alloh, sebagaimana dikisahkan dalam Alquran, ada seseorang yang diserupakan dengan Nabi Isa, kemudian ditangkap dan disalib oleh pasukan Romawi.

Kaum Nasrani dikejar-kejar oleh kerajaan Romawi dan ajarannya dilarang. Dalam perkembangannya, ajaran Nasrani ini berubah namanya menjadi agama Kristen. Pada tahun 330 Masehi, terjadi loncatan terbesar dalam sejarah Kristiani, ketika Raja Romawi Timur Konstantin memeluk agama Kristen.

Sejak itulah, Raja Konstantin membangun Gereja Kebangkitan yang terkenal dengan Geraja Makam Suci di Yerusalaem. Diyakini, di sinilah tempat kebangkitan Yesus pada akhir zaman yang diyakini oleh umat Kristiani, untuk menghancurkan anti Kristus. Sementara orang Yahudi tetap dilarang memasuki kota Yerussalem.

Pada tahun 611 Masehi kembali terjadi peperangan. Kerajaan Persia berhasil menaklukan Kerajaan Romawi dan menguasai kota Yerusalem. Namun, hanya berlangsung hingga tahun 628 Masehi. Raja Heraklius dari Romawi Timur kembali merebut Yerusalem dari Persia.

Saat itu, Kerajaan Romawi Timur dan dan Kerajaan Persia merupakan dua negeri adidaya yang memegang kekuasaan di dunia. Namun, muncul kekuatan baru dunia  dari kota Madinah di Jazirah Arab, yaitu kekuatan Islam yang dipimpin oleh Nabi terakhir, Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam.

Setela nabi wafat, kepimimpinan dipegang oleh para sahabatnya, yang disebut Khulafaaurrosyidin. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pengaruh kekuasaan Islam berhasil menembus kota Yerusalem. Setelah pasukan Islam meraih kemenangan dan mengalahkan pasukan Romawi pada tahun 635 Masehi, kunci kota Yerusalem hanya akan diserahkan kepada Sang Khalifah.

Maka, Umar bin Khattab pun melakukan perjalananan jauh dari Madinah ke Yerusalem. Kedatangan Umar disambut Uskup Sopronius, penjaga kota suci ini.   Khalifah Umar pun diajak berkelilig ke beberapa tempat suci. Saat Uskup membukaka gereja makam suci, tepat ketika waktu dzuhur tiba. Uskup mempersilahkan Khalifah untuk shalat di dalam gereja, namun Umar menolaknya dan berkata, “ Tahukah anda mengapa aku tidak mau shalat di gereja anda?, anda akan kehilangan gereja ini karena setelah aku pergi, kaum Muslim akan mengambilnya dari anda dan berkata, Di sinilah Umar dahulu pernah melakukan shalat”

Saat itu, Khalifah Umar memilih untuk shalat di tempat bekas reruntuhan Haikal Sulaiman. “Demi Tuhan yang diriku ada ditangan-Nya, inilah tempat yang pernah digambarkan oleh Rasulullah kepada kita. marilah kita jadikan tempat ini sebagai masjid,” kata Khalifah Umar

Pada abad ke-12 Masehi, di tempat itulah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan mendirikan sebuah kubah besar, yang terkenal dengan nama Dome of The Rock atau kubah batu. Disinilah Rasululloh mi’raj dari masjidil Aqsa ke Sidrotul Muntaha. Selanjutnya, di samping kubah itu pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik diririkan sebuah masjid, yang dinamakan Masjid Umar bin Khattab.

Pada saat Khalifah Umar bin Khattab dibuatkan sebuah perjanjian dengan penduduk Yerusalem, yang berisi jaminan kebebasan untuk menjalankan agama berdasarkan keyakinannya. Inilah era kebebasan beragama dengan penuh toleransi di bawah kekuasaan Islam.