Connect with us

Hi, what are you looking for?

Perspektif

Dinasti Djojohadikoesoemo

Kini Prabowo menjadi salah satu calon presiden dengan elektabilitas tertinggi menurut hasil survei. Akankah simpul dinasti intelektual Djojohadikusumo ini mendapat mandat dari rakyat, hanya Pilpres 2024 yang akan menjadi ajang pembuktiannya. 

Jika ada dinasti intelektual di Indonesia salah satunya adalah Dinasti Djojohadikusumo. Keluarga cendekia lainnya sebut saja misalnya keluarga Saleh Mangundinirat yang melahirkan Soedjatmoko, Miriam Boedihardjo, dan Nugroho Wisnumurti. Saleh juga bermenantukan Sutan Sjahrir. Dua dinasti ini sama-sama punya kedekatan dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Dengan akar bangsawan Kraton Yogyakarta, Dinasti Djojohadikoesoemo adalah kelas priyayi yang mengalami masa transisi dari masa feodal, kolonial hingga milenial. Tiga tokoh yang paling dalam keluarga ini adalah Margono, Soemitro dan Prabowo Subianto Djojohadikoesoemo. 

Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo lahir pada 16 Mei 1894 di Banyumas, dalam keluarga yang memiliki sejarah panjang dan kaya sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa melawan Belanda. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda, dan Margono tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memadukan keturunan bangsawan dengan pengabdian kepada tanah air. Ia menjalani pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas dan kemudian melanjutkan pendidikan di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang hingga tahun 1911.

Pada 1945, sehari setelah Soekarno dan Hatta dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Margono Djojohadikoesoemo diangkat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Peran pentingnya muncul ketika ia mengusulkan pembentukan Bank Sentral atau Bank Sirkulasi sesuai dengan UUD ’45. Menerima mandat dari Soekarno-Mohammad Hatta, Margono memimpin persiapan dan pada 15 Juli 1946, Bank Negara Indonesia (BNI) didirikan dengan Margono sebagai Direktur Utama. Margono Djojohadikoesoemo memiliki peran besar dalam mendirikan bank sentral ini, yang menjadi landasan penting dalam perkembangan sektor keuangan Indonesia.

Selain itu, Margono juga terlibat dalam penggunaan “Hak Angket” pertama oleh DPR pada 1950-an. Panitia Angket yang ia pimpin bertugas menyelidiki untung-rugi mempertahankan devisen-regime berdasarkan Undang-Undang Pengawasan Devisen tahun 1940 dan perubahannya. Margono Djojohadikoesoemo meninggal pada 25 Juli 1978 di Jakarta, meninggalkan warisan luar biasa dalam sejarah ekonomi dan politik Indonesia.

Dua anak Margono yakni Soebianto dan Soejono gugur dalam Pertempuran Lengkong melawan Belanda. Satu anak lainnya tumbuh menjadi seorang akademisi sekaligus politisi. Dialah Soemitro Djojohadikoesoemo. Politikus Partai Sosialis Indonesia yang pernah berseberangan dengan rezim Orde Lama.  

Soemitro, akrab disapa Pak Cum adalah putra Margono yang lahir dalam keluarga yang memiliki tradisi pengabdian kepada bangsa. Dia menunjukkan kecerdasan luar biasa dan minat dalam bidang ekonomi sejak muda. Pendidikan tingginya dimulai di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan kemudian melanjutkan studi ekonomi pembangunan di Universitas Harvard, Amerika Serikat. 

Soemitro Djojohadikoesoemo memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ilmu ekonomi di Indonesia. Ia menjadi guru besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan meraih penghargaan sebagai tokoh ekonomi terkemuka. Pemikirannya terutama berfokus pada isu-isu pembangunan ekonomi dan kebijakan publik. Soemitro adalah sosok yang aktif terlibat dalam perencanaan pembangunan ekonomi nasional, memberikan pandangan kritis dan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karya-karyanya mencakup berbagai aspek ekonomi, dari teori ekonomi pembangunan hingga kebijakan fiskal. Keunggulannya dalam bidang ekonomi membuatnya diakui sebagai salah satu intelektual terkemuka Indonesia. Soemitro Djojohadikoesoemo meninggal pada 20 Agustus 1999, meninggalkan warisan pemikiran dan kontribusi besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Dari dinasti priyayi intelektual ini lahirlah Prabowo Subianto, anak Soemitro sekaligus cucu Margono Djojohadikoesoemo. Ia seorang tokoh kontroversial yang memiliki sejarah panjang dalam militer dan politik Indonesia. Pernah menjadi menantu Soeharto, Prabowo seakan sempurna dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan.  

Dilahirkan pada 17 Oktober 1951, Prabowo merupakan lulusan Akademi Militer Nasional dan memiliki karir cemerlang di TNI (Tentara Nasional Indonesia). Ia memimpin pasukan elite Kopassus dan pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Selama kariernya di militer, Prabowo dikenal dengan kepemimpinan yang kuat dan tegas. 

Gejolak politik menyisakan jelaga dalam tungku konsolidasi demokrasi di Indonesia. Prabowo diberhentikan pasca Soeharto jatuh. Setelah pensiun dari militer, Prabowo beralih ke dunia politik dan mencalonkan diri dalam Pilpres 

Di samping keterlibatannya dalam politik, Prabowo juga memiliki bisnis di berbagai sektor, termasuk pertanian dan perkebunan. Meskipun kontroversial, Prabowo Subianto tetap menjadi tokoh yang berpengaruh di Indonesia dan terus memainkan peran dalam dinamika politik dan pembangunan nasional.

Kini Prabowo menjadi salah satu calon presiden dengan elektabilitas tertinggi menurut hasil survei. Akankah simpul dinasti intelektual Djojohadikusumo ini mendapat mandat dari rakyat, hanya Pilpres 2024 yang akan menjadi ajang pembuktiannya. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Perspektif

Mengejutkan sekaligus membanggakan, film berjudul ‘Autobiography’ akhirnya mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Piala Oscar 2024. Mengejutkan, karena meski merupakan karya perdana Makbul Mubarak, namun...

Vidiopedia

Freeport-McMoRan, perusahaan asal Amerika Serikat yang memiliki tambang emas terbesar di dunia, salah satunya di Indonesia. Sejak lama, perusahaan ini jadi sorotan karena masalah...

Ragam

Diantara butir pernyataannya Muhammadiyah menegaskan agar Israel tidak menjadikan perang ini sebagai alasan untuk terus melakukan aneksasi dan agresi ke wilayah Palestina, menghimbau agar...

Perspektif

Perdebatan yang selama ini berkembang menempatkan politik identitas seakan sama dengan identitas politik. Dengan pernyataan ini maka akan ada reaksi dari pendukung Cak Imin...