Connect with us

Hi, what are you looking for?

Perspektif

Hilirisasi, Digitalisasi, dan Rantai Pasok Pangan

KETAHANAN PANGAN tidak hanya berkait dengan persoalan pasokan dan hasil panen. Yang tidak kalah penting adalah menangani rantai pasoknya. Dan digitalisasi menjadi jalan keluar dari persoalan tersebut.

EL NINO diramalkan akan melanda dunia hingga 2024. Harus ada upaya nyata untuk mengantisipasinya. Upaya mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitas pertanian harus dilakukan dengan strategi yang unggul. Di sisi lain upaya memperbaiki rantai pasok harus dilakukan dengan cermat. 

Salah satu strategi yang perlu diterapkan adalah hilirisasi digital. Jika strategi ini diterapkan secara intensif dalam rantai pasok industri di Indonesia membawa dampak positif yang signifikan terhadap produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor pertanian dan pangan. Ketahanan pangan tidak hanya berkait dengan persoalan pasokan dan hasil panen. Yang tidak kalah penting adalah menangani rantai pasoknya. Dan digitalisasi menjadi jalan keluar dari persoalan tersebut. 

Pertanian kita harus lebih efisien. Dan teknologi terkini menyediakan ruang untuk melakukan itu. Hilirisasi digital dimulai dari tahap awal dengan penggunaan teknologi digital dalam pengembangan pupuk dan bibit unggul. Penerapan sensor dan analisis data dapat membantu petani dalam pemantauan kondisi tanah, memberikan rekomendasi pemupukan yang lebih tepat, dan memastikan kualitas bibit yang optimal.

Pengembangan pupuk dan bibit unggul melalui hilirisasi digital mengacu pada pemanfaatan teknologi dalam proses produksi dan peningkatan kualitas pupuk serta bibit tanaman. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan memastikan hasil yang berkualitas tinggi. Petani menggunakan sensor tanah yang mampu mengukur kelembaban, pH, dan kandungan nutrisi tanah. Data yang diperoleh secara real-time diakses melalui aplikasi atau platform digital. Melalui pengolahan data sensor tanah, sistem cerdas memberikan rekomendasi pemupukan yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, mempertimbangkan kondisi tanah yang spesifik.

Penggunaan teknologi identifikasi genetik untuk memeriksa keaslian dan ketahanan bibit. Data ini dapat diakses oleh petani untuk memastikan bahwa mereka menggunakan bibit yang memiliki potensi tumbuh baik. Sistem otomatis yang terkoneksi dengan sensor tanah mengatur dosis dan waktu aplikasi pupuk secara otomatis berdasarkan kebutuhan tanaman yang terdeteksi melalui data sensor.

Aplikasi mobile yang memberikan petani akses mudah ke data sensor dan rekomendasi pemupukan, memungkinkan mereka mengelola pertanian secara lebih efisien. Integrasi Internet of Things (IoT) dalam pertanian atau smart farming menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi produksi. Sensor-sensor yang terpasang di lahan pertanian dapat memberikan informasi real-time terkait suhu, kelembaban, dan kebutuhan air tanaman. Teknologi ini memungkinkan pengelolaan lahan secara lebih presisi, mengurangi pemborosan sumber daya, dan meningkatkan hasil panen.

Optimalisasi rantai pasok

Hilirisasi digital tidak hanya terbatas pada produksi pertanian, tetapi juga mencakup optimalisasi rantai distribusi. Pemanfaatan teknologi digital seperti sistem manajemen logistik berbasis cloud, pemantauan pengiriman real-time, dan otomatisasi gudang dapat mengurangi kesalahan manusia, mempercepat distribusi, dan menurunkan biaya logistik.

Proses pengolahan hasil pertanian juga dapat ditingkatkan melalui digitalisasi. Penerapan teknologi seperti otomatisasi pabrik, analisis data untuk meningkatkan efisiensi produksi, dan monitoring kualitas produk secara real-time dapat meningkatkan standar produksi dan memastikan ketersediaan produk yang bermutu tinggi di pasaran.

Penerapan platform digital untuk memasarkan dan menjual produk pertanian secara online memberikan peluang bagi petani untuk mencapai pasar yang lebih luas, meminimalkan ketergantungan pada saluran distribusi tradisional, dan memberikan kemudahan akses bagi konsumen. Sehingga hilirisasi digital mencakup ekspansi ke sektor e-commerce pangan. 

Hilirisasi digital yang inklusif harus melibatkan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Peningkatan literasi digital, pelatihan, dan penyediaan akses teknologi bagi para petani dan pelaku UKM dapat meningkatkan partisipasi mereka dalam ekosistem hilirisasi digital.

Kolaborasi ini dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan teknologi, regulasi yang kondusif, dan investasi bersama untuk mendorong inovasi dalam rantai pasok industri pertanian. Oleh karena itu hilirisasi digital dapat lebih diperkuat melalui kemitraan antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga riset. 

Dengan implementasi holistik dari gagasan ini, Indonesia dapat mencapai hilirisasi digital yang berkelanjutan dan inklusif, mempercepat pertumbuhan sektor pertanian dan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok industri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Perspektif

Mengejutkan sekaligus membanggakan, film berjudul ‘Autobiography’ akhirnya mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Piala Oscar 2024. Mengejutkan, karena meski merupakan karya perdana Makbul Mubarak, namun...

Ragam

Diantara butir pernyataannya Muhammadiyah menegaskan agar Israel tidak menjadikan perang ini sebagai alasan untuk terus melakukan aneksasi dan agresi ke wilayah Palestina, menghimbau agar...

Vidiopedia

Freeport-McMoRan, perusahaan asal Amerika Serikat yang memiliki tambang emas terbesar di dunia, salah satunya di Indonesia. Sejak lama, perusahaan ini jadi sorotan karena masalah...

Perspektif

Perdebatan yang selama ini berkembang menempatkan politik identitas seakan sama dengan identitas politik. Dengan pernyataan ini maka akan ada reaksi dari pendukung Cak Imin...