Connect with us

Hi, what are you looking for?

Perspektif

Antisipasi Dampak Resesi Jepang dan Inggris

Salah satu faktor yang signifikan adalah pelemahan ekonomi global yang disebabkan oleh berbagai peristiwa, termasuk pertumbuhan yang melambat di negara-negara mitra dagang utama dan ketegangan geopolitik seperti perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia.

Resesi ekonomi, terutama ketika melibatkan negara-negara dengan ekonomi yang besar dan berpengaruh seperti Jepang dan Inggris, merupakan peristiwa yang memunculkan banyak kekhawatiran dan perhatian. Melihat kembali faktor-faktor yang menyebabkan kedua negara tersebut tergelincir ke dalam resesi pada kuartal IV 2023 memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang tantangan yang dihadapi oleh perekonomian global saat ini.

Salah satu faktor yang signifikan adalah pelemahan ekonomi global yang disebabkan oleh berbagai peristiwa, termasuk pertumbuhan yang melambat di negara-negara mitra dagang utama dan ketegangan geopolitik seperti perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia. Dampak dari pelemahan ini terasa secara langsung melalui penurunan ekspor dan konsumsi dalam negeri yang lemah, menciptakan tekanan tambahan pada perekonomian Jepang dan Inggris.

Resesi ekonomi Jepang pada kuartal IV 2023 dan tergelincirnya Jepang dari posisi negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat, terutama di negara-negara mitra dagang utama Jepang seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa, berkontribusi pada menurunnya permintaan terhadap produk-produk Jepang. Perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia juga mengganggu rantai pasokan global dan meningkatkan inflasi, memperburuk kondisi ekonomi Jepang.

Permintaan global yang menurun untuk produk-produk Jepang, seperti elektronik dan mobil, serta penguatan yen terhadap dolar AS, membuat produk Jepang lebih mahal di luar negeri. Kondisi ini menekan ekspor Jepang dan berdampak negatif pada perekonomian negara tersebut. Penurunan pendapatan rumah tangga akibat inflasi yang tinggi dan ketidakpastian ekonomi membuat konsumen Jepang menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja. Konsumsi yang lemah menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik.

Kebijakan BOJ yang mempertahankan suku bunga rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebenarnya berkontribusi pada meningkatnya inflasi. Kurangnya stimulus fiskal dari pemerintah Jepang juga memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut. Penurunan populasi Jepang yang menyebabkan berkurangnya tenaga kerja dan pasar domestik, serta bencana alam yang sering terjadi di Jepang, juga menjadi faktor-faktor tambahan yang mengganggu kegiatan ekonomi.

Dampak dari resesi ekonomi Jepang termasuk peningkatan pengangguran, penurunan pendapatan perusahaan, penurunan investasi, dan penurunan tingkat hidup. Upaya pemerintah untuk mengatasi resesi termasuk meningkatkan stimulus fiskal, memperkuat program pelatihan kerja, dan mendorong investasi dalam teknologi baru.

Meskipun prospek ekonomi Jepang diperkirakan akan kembali tumbuh pada tahun 2024, pertumbuhannya kemungkinan akan lambat dan tergantung pada pemulihan ekonomi global serta upaya pemerintah untuk mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan resesi.

Resesi di Inggris disebabkan oleh beberapa faktor. 

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada tahun 2020 (Brexit) menyebabkan gangguan pada rantai pasokan dan perdagangan, yang meningkatkan inflasi dan menurunkan investasi. Ketidakpastian tentang hubungan masa depan Inggris dengan Uni Eropa juga membuat investor ragu untuk berinvestasi di Inggris.

Kenaikan harga energi global, terutama gas alam, yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina, telah meningkatkan biaya hidup bagi rumah tangga dan bisnis di Inggris. Hal ini menyebabkan inflasi meningkat dan menurunkan daya beli konsumen. Kebijakan Bank Sentral Inggris (BoE) telah menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi, namun hal ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. BoE juga telah mengurangi program pembelian asetnya, yang dapat menekan pasar keuangan.

Penurunan populasi Inggris yang menyebabkan berkurangnya tenaga kerja dan pasar domestik, serta bencana alam yang sering terjadi di Inggris yang mengganggu kegiatan ekonomi, juga ikut berkontribusi terhadap resesi.

Dampak dari resesi ekonomi Inggris termasuk peningkatan pengangguran, penurunan pendapatan perusahaan, penurunan investasi, dan penurunan tingkat hidup. Upaya pemerintah untuk mengatasi resesi termasuk meningkatkan stimulus fiskal, memperkuat program pelatihan kerja, dan mendorong investasi dalam teknologi baru.

Meskipun prospek ekonomi Inggris diperkirakan akan kembali tumbuh pada tahun 2024, pertumbuhannya kemungkinan akan lambat. Pemulihan ekonomi Inggris akan tergantung pada pemulihan ekonomi global dan upaya pemerintah untuk mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan resesi.

Selain itu, kebijakan bank sentral juga memainkan peran penting dalam dinamika resesi tersebut. Kebijakan yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, seperti menahan suku bunga rendah, dapat memiliki konsekuensi tidak diinginkan seperti meningkatnya inflasi. Sementara itu, kebijakan fiskal yang kurang agresif dari pemerintah juga dapat memperburuk situasi.

Namun, meskipun kedua negara menghadapi tantangan yang serupa, ada perbedaan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi mereka. Misalnya, Brexit memainkan peran besar dalam resesi Inggris, sementara Jepang menghadapi masalah yang unik seperti penurunan populasi dan bencana alam yang sering terjadi.

Sementara itu, Indonesia menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang stabil dan tidak terancam resesi pada tahun 2024. Faktor seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, dan kepercayaan investor yang tinggi telah menjadi penopang utama dalam mengamankan perekonomian negara ini dari resesi.

Namun, hal ini tidak berarti bahwa Indonesia tidak terpengaruh oleh dinamika ekonomi global. Risiko seperti pelemahan ekonomi global, kenaikan harga energi, dan bencana alam tetap menjadi perhatian bagi pemerintah dan pelaku pasar.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, langkah-langkah untuk mencegah resesi menjadi semakin penting. Pemerintah, bank sentral, sektor swasta, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memitigasi risiko.

Selain itu, individu juga perlu mempersiapkan diri dengan memiliki dana darurat, diversifikasi portofolio investasi, dan meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja. Dengan sikap yang optimis dan langkah-langkah yang tepat, kita dapat menghadapi resesi dengan lebih baik dan bahkan mungkin mendapatkan peluang dalam situasi yang sulit.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Perspektif

Mengejutkan sekaligus membanggakan, film berjudul ‘Autobiography’ akhirnya mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Piala Oscar 2024. Mengejutkan, karena meski merupakan karya perdana Makbul Mubarak, namun...

Vidiopedia

Freeport-McMoRan, perusahaan asal Amerika Serikat yang memiliki tambang emas terbesar di dunia, salah satunya di Indonesia. Sejak lama, perusahaan ini jadi sorotan karena masalah...

Ragam

Diantara butir pernyataannya Muhammadiyah menegaskan agar Israel tidak menjadikan perang ini sebagai alasan untuk terus melakukan aneksasi dan agresi ke wilayah Palestina, menghimbau agar...

Perspektif

Perdebatan yang selama ini berkembang menempatkan politik identitas seakan sama dengan identitas politik. Dengan pernyataan ini maka akan ada reaksi dari pendukung Cak Imin...