Connect with us

Hi, what are you looking for?

Perspektif

Menyoal Penyaringan Konten Politik di Medsos

Instagram membatasi konten politik untuk menjaga kemampuan orang dalam memilih dan berinteraksi dengan konten politik. Itu alasan mereka. Adam Mosseri, boss Instagram, mengatakan bahwa interaksi terbatas yang dihasilkan konten politik tidak sebanding dengan dampak negatif yang akan diterima oleh platform tersebut.

Close up of teenage girl texting on mobile in bedroom

DI TENGAH gemuruh media sosial yang tak pernah reda, Meta, si empunya Instagram dan Threads, menggebrak dengan keputusan mengejutkan yakni dengan mengurangi konten politik. Namun, di balik langkah ini terselip tanda tanya besar. Dalam dunia di mana satu tekanan jari bisa mengubah opini publik, apa artinya ketika batas ‘politik’ menjadi kabur.

Instagram membatasi konten politik untuk menjaga kemampuan orang dalam memilih dan berinteraksi dengan konten politik. Itu alasan mereka. Adam Mosseri, boss Instagram, mengatakan bahwa interaksi terbatas yang dihasilkan konten politik tidak sebanding dengan dampak negatif yang akan diterima oleh platform tersebut. Pengguna yang tetap ingin melihat rekomendasi konten bernuansa politik dapat menonaktifkan fitur pembatasan itu dalam pengaturan akun.

Pertanyaannya, siapa yang berkuasa menentukan apa yang boleh dilihat dan apa yang disembunyikan? Jika kebijakan ini diterapkan maka kebebasan informasi berhadapan dengan sebentuk moralitas yang dikawal pemilik atau pengembang platform. Bisa saja pengembang platform menyadari bahwa konten yang mengandalkan kekuatan visual cenderung manipulatif. Atau alasan konten politik membuat sebagian besar pengguna jengah dan membuat platform ditinggalkan. 

Pengaruh Instagram terhadap pilihan politik, terutama pada pemilih pemula, telah menjadi fokus penelitian yang menarik. Berbagai studi menunjukkan bahwa penggunaan Instagram sebagai media kampanye politik memiliki dampak signifikan terhadap sikap politik dan partisipasi politik pemilih pemula, terutama dalam konteks pemilihan presiden.

Sebuah penelitian di Yogyakarta menemukan bahwa terpaan kampanye hitam di Instagram mempengaruhi pilihan politik pemilih pemula pada pemilu presiden 2019 di kalangan mahasiswa. Penelitian lain perlu diangkat pada Pemilu 2024. 

Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa penggunaan Instagram berpengaruh signifikan terhadap sikap politik mahasiswa dalam berkontribusi terhadap pemilihan presiden tahun 2019. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi, durasi, dan intensitas penggunaan Instagram dapat mempengaruhi partisipasi politik pemilih pemula. Selain itu, penggunaan media sosial seperti Instagram juga dapat mempengaruhi niat memilih di kalangan milenial di Indonesia. 

Sebuah studi menyoroti efektivitas kampanye politik Ridwan Kamil melalui Instagram dalam mempengaruhi niat memilih. Konten yang berkualitas, frekuensi posting, kualitas konten, dan informalitas ucapan dalam kampanye politik di Instagram juga memiliki pengaruh signifikan terhadap niat memilih. 

Kekhawatiran melonjak ketika para pengguna dan pengamat menyadari ketidakjelasan dalam apa yang sebenarnya dimaksud dengan “konten politik”. Dengan definisi yang samar, beragam isu mulai dari perubahan iklim hingga hak asasi manusia bisa saja terdampak. 

Dalam keadaan di mana transparansi dan komunikasi yang jelas semakin penting, keputusan Meta mengurangi konten “politik” tanpa definisi yang jelas menjadi sebuah ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan akses informasi. Seperti kapal yang kehilangan kompas, kita mungkin terombang-ambing di lautan ketidakpastian. 

Survei terbaru menunjukkan bahwa sekitar 70% dari responden merasa khawatir tentang kurangnya definisi yang jelas terkait konten politik di platform media sosial. Hasil survei ini mencerminkan kegelisahan yang luas di antara pengguna terkait dampak potensial dari kebijakan Meta.

Analisis data tentang tren penggunaan platform media sosial juga memberikan wawasan yang berharga. Data menunjukkan bahwa konten politik memiliki peran penting dalam membentuk opini dan kesadaran publik. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 40% dari pengguna aktif media sosial mengandalkan platform tersebut untuk mendapatkan berita politik. Ini menunjukkan bahwa pengurangan konten politik bisa berdampak besar pada sumber informasi masyarakat.

Penelitian tentang algoritma media sosial mengungkapkan bahwa pengguna sering kali terpapar pada sudut pandang yang serupa dengan mereka sendiri, menciptakan apa yang disebut sebagai “gelembung informasi”. Pengurangan konten politik dapat memperkuat gelembung ini, mempersempit cakupan pandangan dan meningkatkan polarisasi.

Data tentang penggunaan platform media sosial oleh jurnalis dan penerbitan berita juga penting. Analisis menunjukkan bahwa banyak jurnalis dan organisasi berita mengandalkan platform tersebut untuk memperoleh lalu lintas dan audiens. Pembatasan konten politik dapat menghambat kemampuan mereka untuk menyebarkan informasi yang relevan dan membatasi kebebasan pers.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Perspektif

Mengejutkan sekaligus membanggakan, film berjudul ‘Autobiography’ akhirnya mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Piala Oscar 2024. Mengejutkan, karena meski merupakan karya perdana Makbul Mubarak, namun...

Vidiopedia

Freeport-McMoRan, perusahaan asal Amerika Serikat yang memiliki tambang emas terbesar di dunia, salah satunya di Indonesia. Sejak lama, perusahaan ini jadi sorotan karena masalah...

Ragam

Diantara butir pernyataannya Muhammadiyah menegaskan agar Israel tidak menjadikan perang ini sebagai alasan untuk terus melakukan aneksasi dan agresi ke wilayah Palestina, menghimbau agar...

Perspektif

Perdebatan yang selama ini berkembang menempatkan politik identitas seakan sama dengan identitas politik. Dengan pernyataan ini maka akan ada reaksi dari pendukung Cak Imin...